HELOINDONESIA.COM -Ternyata etnis Betawi itu sudah ada sejak abad ke-5 sebelum masehi dan menjadi bagian dari kehidupan manusia di tanah Jawa, khususnya di Pulau Jawa Barat bagian utara.
"Bagian ini kemudian kita kenal dengan sebutan Jakarta sekarang ini," papar Budayawan Betawi Andi Yahya Saputra seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Senin (17/2/2025).
Data ini, menurut Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) tersebut bisa dilihat dari penemuan-penemuan data geologis di sepanjang Pantura, mulai dari Karawang sampai ke Rawa Sya'ban di Tangerang.
"Jadi yang kita lihat sebagai percandian Batujaya di Karawang Barat itu konon merupakan tempat menyebarnya peradaban Betawi di kemudian hari," paparnya.
Baca juga: Kiat Urban Farming Percontohan di Surabaya, Menteri Koordinator pun Kagum
Sebab, lanjut Andi Yahya Saputra, di percandian itu hidup para pendeta, kaum Brahmana dan semacamnya yang memberikan pelajaran-pelajaran penting kepada manusia.
Di abad kedua masehi, sebut Andi Yahya Saputra, dari penelitian buku-buku sejarah penelusuran Jawa Barat yang diterbitkan oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 1982 dan buku yang ditulis Hasan Jafar tentang percandian itu menjelaskan awal-awal kehidupan di tanah Jawa.
"Di sana ada manusia-manusia yang sudah demikian luar biasa dalam hal peradabannya. Karena memang mereka mampu menciptakan bangunan-bangunan bagus, mewah sebagaimana diuraikan dalam buku itu, dalam buku percandian Batujaya dan juga penelusuran sejarah Jawa Barat yang diterbitkan pada buku tersebut.
Dengan kata lain, terang Andi Yahya Saputra, sebelum menjadi nama Jakarta sudah ditempati oleh manusia-manusia yang kala itu dikatakan sebagai manusia Proto Melayu Betawi.
Baca juga: Kendal Miliki GOR Standar Internasional, Bupati Uji Coba Main Futsal
"Sesudah abad kedua dengan kerajaan Salakanagara. Maju lagi ke abad ke-5 Kerajaan Tarumanegara. Kemudian masuk pada abad 8 dan 9 Kerajaan Sriwijaya. Di abad ke-13, 14 dan 15 masuk kerajaan Sunda Padjajaran," ungkap Andi Yahya Saputra.
Setelah itu, masuk kekuatan Islam gabungan Kesultanan Demak, Cirebon dan Banten yang dikomandani oleh Fatahillah di tahun 1527.
"Di abad ke-16 kawasan ini semakin ramai.Terutama memang ketika orang-orang dari Eropa, ada Portugis, Belanda, Prancis dan Inggris berdatangan dan mereka melakukan MoU-MoU dan perdagangan perdagangan di kawasan ini," tambahnya.
Menurut Andi Yahya Saputra, beberapa dari mereka memang sangat menginginkan menguasai kawasan (Betawi) ini.
Misalnya perjanjian yang dilakukan oleh Portugis di tahun 1015 misalnya kepada kerajaan Sunda Padjajaran itu dalam hal rempah.
Saat itu kekayaan rempah, pala, cengkeh dan jenis lainnya, menjadi komoditas yang sangat dicari dan laku dalam perdagangan internasional.
"Maka memang kota ini berkembang pada masa itu kemudian menjadi awalnya Bandar. Karena memang awal kehidupan itu ada di pesisir di bandar itu, tepatnya Pelabuhan Sunda Kelapa..
Bandar Sunda Kelapa, kemudian berubah nama menjadi Jayakarta ketika dikuasai oleh Fatahillah, Tubagus Angke dan Ahmad Jakreta.
"Di jaman Jan Pieter Coen pada tahun 1619, Jayakarta dibumi hanguskan dan berganti nama menjadi Batavia.
Baca juga: PHPU Pilkada Pesawaran, Bupati Terpilih Aries Sandi Tak Tamat SMA
Pada masa pergantian kekuasaan pra kemerdekaan, tepatnya di masa Jepang militer Jepang memberi nama kota ini dengan sebutan Jakurata.
Dan ketika kemerdekaan maka melalui keputusan presiden yang ditetapkanlah kota ini sebagai Jakarta dan mendapat peran sebagai ibukota negara.
Maka kegiatan-kegiatan bisnis dan segala macamnya peradaban itu. oleh karena itu perkembangan Kota Jakarta sebagai kota metropolitan berkembang.
