HELOINDONESIA.COM -Ketika kita bicara Bedda Lotong, maka yang dibayangkan adalah gadis-gadis Bugis, wanita-wanita Bugis yang cantik dan selalu tampil prima.
Penilaian ini tentu saja berkaitan dengan filosofi orang-orang Bugis, wanita-wanita Bugis, yang mampu mengkonstruksi sebuah produk lokal yang disebut dengan Bedda Lotong.
"Sebagian besar masyarakat Bugis itu tersebar di beberapa kabupaten ada di Sulawesi Selatan, mulai Soppeng, Bone, Wajo dan sebagainya. Di sana mudah untuk menemukan produk kecantikan Bedda Lotong ," papar Antropolog dari Fisip Universitas Hasanuddin Makassar, Prof Dr Pawennari Hijjang seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Sabtu (1/3/2025).
Menurutnya, ada filosofi orang Bugis yang menyebutnya dengan Tellu Sulapa Epa. Di dalam filosofi itu ada prinsip harmonisasi "tiga segi empat".
Baca juga: Kantor Baru, LF Justitia and Partner Sediakan Layanan Hukum Profesional dan Berintegritas
Pertama empat unsur dasar kejadian manusia.
Kedua, ada empat kualitas alam sekitar manusia.
Ketiga, ada empat substansi cairan yang menyusun tubuh manusia.
"Dan di situlah orang Bugis belajar bagaimana mengkonstruksi produk lokal bermaterial bahan-bahan lokal yang bisa digunakan oleh gadis-gadis Bugis masa lalu l, masa kini dan tentu masa yang akan datang untuk menjaga keawetan tubuh, kulit, kecantikan dan sebagainya," papar Prof Dr Pawennari Hijjang.
Keterikatan dan kerjasama antara ketiga komponen itu, lanjutnya, maka orang akan menjadi sehat.
Baca juga: KPU RI Usul Pemungutan Suara Ulang Bupati Pesawaran Sabtu 24 Mei 2025
"Ada sumbernya, jadi saya tidak sekadar berimprovisasi. Jadi filosofi Etnowellness spa Bugis ituberada pada keseimbangan dan harmoni antara 4 unsur dasar kejadian manusia. Empat alam kualitas sekitar manusia dan empat cairan yang menyusun tubuh manusia," paparnya.
Sehingga, sambungnya, kita bisa lihat cairan apa yang dominan dalam tubuh sehingga bisa menjadi manusia yang punya karakter.
"Tellu Sulapa Epa sebagai filosofi asal kejadian manusia. Nah di sini ada yang beririsan dengan api, ada yang beririsan dengan tanah air dan angin," jelasnya.
Dikatakannya, ada empat unsur dasar dari filosofi Tellu Sulapa Epa tentang asal kejadian manusia.
Baca juga: Jembatan Putus, 109 KK Desa Sukabanjar Gedongtataan Terisolir
Keempat unsur dasar itu adalah:
Pertama ini disebut dengan unsur tanah, air dan api atau sekurang-kurangnya bahwa dalam kehidupan manusia selalu tersusun dari zat-zat yang keempat unsur dasar menjadikan manusia.
"Jadi selalu tersusun dari sosok keempat unsur dasar itu. Api, Tanah Air dan api. Bahkan sering pula dipahami bahwa sifat manusia itu bisa diidentifikasi menurut sifat-sifat tanah sifat-sifat air, sifat api dan angin," ungkap Prof Dr Pawennari Hijjang.
Dia mencontohkan orang yang suka marah tanpa motivasi tertentu atau suka cepat marah adalah mengikuti sifat api.
Orang yang mempunyai sifat rendah diri tersinggung perasaannya tetapi tidak menyebabkan cepat parah adalah mengikuti sifat tanah.
Baca juga: Gubernur Lampung Kunjungi dan Berikan Bantuan kepada Warga Terdampak Banjir
"Begitu isi filosofi orang Bugis," tegasnya.
Kedua, kualitas alam sekitar. Empat kualitas alam sekitar, panas, dingin, kering dan lembab.
Kualitas alam sekitar ada empat panas dingin kering dan lembab. "Nah seperti apa kalau misalnya panas dalam diri seseorang, empat kualitas alam sekitar itu adalah panas dingin kering dan lembab.
"Kita semua pernah merasakan itu di waktu-waktu tertentu atau kondisi-kondisi cuaca tertentu," ujarnya
Menurutnya, orang Bugis menyebut keempat kualitas ini dengan istilah hawa.
Baca juga: JAMIN Minta Prabowo Jangan Cabut Moratorium ke Timteng
"Apabila salah satu hal memberi pengaruh kuat terhadap tubuh yang menjadikannya sakit, maka tekanan hawa yang berlebihan itu dianggap sebagai penyebab terjadinya penyakit," tandasnya.
