HELOINDONESIA.COM - Sebuah kebudayaan bermula dari sebuah kearifan lokal karena diciptakan oleh manusia, dan bisa juga dipaksakan oleh alam atau keadaan.
Hal ini diungkapkan Sardi Duryatmo, Pakar tanaman herbal dari Institut Pertanian Bogor (IPB) seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Selasa (3/6/2025).
Melalui disertasi yang dibuatnya tentang asal tanaman herbal di Desa Waesano,Kecamatan Sanonggoang, Manggarai Barat, Pulau Flores.
"Terkait dengan tanaman obat yang berada di berbagai wilayah di Indonesia, fokus pada Desa Waesano ini riset saya di sana terkait dengan tugas disertasi saya sebetulnya," ucap Sardi membuka paparannya.
Baca juga: RSI Kendal Resmikan Radioterapi dan segera Bangun Gedung Kemoterapi untuk Pasien Kanker
Sardi mengungkapkan bahwa Desa Waesano berada di ketinggian 726 meter daru atas permukaan laut.
"Kalau dari Labuan Bajo, ibu kota Manggarai Barat jaraknya sekitar 120 KM ditempuh rata-rata 4 jam bermobil," tambahnya.
Yang menarik, di desa ini sebetulnya dikelilingi 4000 hektar hutan sesok. Sesok itu bentangan keliling seluas 30.000 hektar.
Berada di tengah-tengah hutan terdalam dan terdapat danau vulkanik terdalam di Flores dengan 600 meter kedalamannya. Luasnya 513 hektar dengan rentang danaunya sekitar 3 kilo meter.
Baca juga: Kereta Gantung Balam Sekelas Thaif dan Singapura, 2 Pulau Terlampaui
Sayangnya air di danau ini masyarakat setempat tidak bisa memanfaatkan kadar belerangnya yang cukup tinggi. Sehingga masyarakat memanfaatkan air sumber air yang ada di hutan.
Meski demikian ini juga menjadi destinasi wisata yang menarik bagi masyarakat. Biasanya masyarakat yang ingin berwisata membuat tenda dan camping di sekitar danau.
Karena berada di tengah-tengah hutan Desa Waesano ini terisolasi. Sampai tahun 2000-an silam, warga desa itu ketika akan ke rumah sakit yang berada di Labuhan Bajo, Manggarai Barat harus menempuh dengan berjalan kaki empat hari tiga malam.
Tak hanya itu, mereka pergi sambil membawa hasil bumi ke pasar. Sambil menuntun kerbau, di punggung kerbau itu diberi wadah tertentu membawa hasil bumi berupa kemiri, pisang dan sebagainya.
Baca juga: Rektor UBL Apresiasi Atlet Peraih Emas PON, Rafanael Nikola Niman, dengan Beasiswa 100 Persen
Betapa jauhnya ketika ada orang sakit harus ke rumah sakit itu harus jalan kaki empat hari tiga malam itu sampai dengan tahun 2000 melalui jalan setapak, jalan tanah.
"Tapi saat ini jalannya sudah diperbaiki dan membaik. Tapi saat itu fasilitas Kesehatan jelas ini jika dibilang itu tidak ada sama sekali tanpa Puskesmas tidak ada dokter praktek," katanya.
Dengan kondisi seperti itu, masyarakat akhirnya memanfaatkan tumbuhan obat di hutan untuk menjaga kesehatan.
"Jadi seperti dipaksakan dengan tanda kutip oleh keadaan yang sulit. Saya mengutip sebuah buku yang mengatakan bahwa manusia menciptakan kebudayaannya untuk menanggulangi keadaan di lingkungan alam. Begitu juga sebaliknya, alam lah yang membentuk kebudayaan dari manusia yang hidup di dalam lingkungan alam itu," terangnya.
Baca juga: TMMD II di Jungsemi Kendal Tuntas, Pantai Indah Kemangi Punya Akses Jalan Keluar
Inilah, menurutnya, yang kita kenal sebagai kearifan lokal. Bentuk pengetahuan terkait dengan tumbuhan obat atau herbal tidak dibudidayakan tetapi tumbuh dengan sendirinya, tidak ada campur tangan kita.
Dengan demikian, lanjutnya, keyakinan, pemahaman, wawasan dan seterusnya sampai dengan etika atau adab masyarakat lokal yang dianggap baik dan dilaksanakan bersifat tradisional merupakan hasil dari timbal balik antara masyarakat dan lingkungannya.
Warga Desa Waesano mengenal banyak sekali tanaman obat untuk malaria, demam, panas terutama hal-hal yang terkait karena ini hutan masih banyak apa binatang yang berbisa.
"Mereka juga punya tanaman obat tertentu yang digunakan ketika gangguan binatang itu muncul," tandasnya.
