Helo Indonesia

Menjaga Semangat Seni Rupa Lampung, dari Whatsapp Menuju Aksi Bersama

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
Kamis, 19 Juni 2025 18:23
    Bagikan  
SENI RUPA
HELO LAMPUNG

SENI RUPA - We Take Action

Oleh David*

BERAWAL dari silaturahmi di Group Whatsapp Forum Perupa Lampung, 80 anggotanya sepakat ikut terus menjaga api semangat seni rupa daerah ini lewat diskusi yang diberi tajuk Obras (Obrolan Santai) di Destinasi Wisata Sumur Putri, bulan lalu (3/5/2025).

Sambil menikmati suasana yang sejuk dengan suara gemercik air terjun sambil sesekali menyeruput secangkir kopi, 15 perupa saling memaparkan gagasannya. Mereka adalah Kurator Lampung Joko Irianta, Damsi Tarmizi, Al Mizer, Andri Sugiarto, para perupa muda, dan saya sendiri sebagai salah satu penggagasnya.

Pertemuan pertama baru "memanaskan mesin" dengan menyamakan kembali semangat berkesenian yang kemudian berlanjut pematangannya lewat obrolan via grup wahtshap sampai akhirnya kembali urun-rembuk di Taman Budaya Lampung dua pekan lalu (3/6/2025).

Hasilnya, para perupa sepakat menunjuk Damsi Tarmizi sebagai ketua pelaksana Pameran Seni Rupa dengan tema “ We Take Action” (Kami Beraksi) pada 23-29 Agustus 2025. Menurut Damsi Tarmizi, pameran ini mengusung tema kesetaraan sosial.

"Kita akan melihat dan merasakan kejujuran seorang seniman dari karya-karya seninya pada pameran kali ini," tambahnya. Disepakati pula, pameran memakai bendera Media Art yang sudah sering melaksanakan kegiatan seni rupa di Provinsi Lampung.

JEJAK GELIAT SENI RUPA LAMPUNG

Seni rupa daerah ini telah melalui perjalanan panjang. Mundur ke belakang, saya sebagai salah satu peserta Pameran Seni Rupa We Take Action melihat sejak tahun 2014 seni rupa Lampung terus menggeliat lewat pameran bersama dengan tema Konspirasi.

Pada 23 Agustus 2015, saya sempat dipercaya menjadi kurator pameran oleh Kemdikbud dengan tema “Sinau” di Taman Budaya Lampung dengan peserta pelukis se-Provinsi Lampung. Sinau asal kata dari Bahasa Jawa yang artinya belajar.

Saat itu, pengetahuan tentang semiotika rupa membaca teks kuratorial sangat sedikit sekali yang bisa menyerap dan mentransfer dalam bahasa rupa/teks rupa. Pada 22 Maret 2017, Pameran Keliling Galeri Nasional Indonesia, Lampung menjadi salah satu tempat yang dituju.

Pemeran tersebut menjadi presentasi karya koleksi GNI dan karya pelukis Lampung. “Spirit Khua Jukhai” menjadi tema pameran keliling Galeri Nasional Indonesia dengan kuratornya Sudjud Dartanto Kurator GNI, Joko Irianta, dan saya sendiri.

Semangatnya, dengan mengedepankan semangat kebersamaan, berbeda-beda namun tetap bersatu memajukan kesenian di Provinsi Lampung lebih terkhusus seni rupa.

Kala itu, perupa dan masyarakat Lampung dapat melihat karya-karya maestro pelukis Indonesia, seperti AD Pirous (1933) Affandi 1907-1990), Hendra Gunawan (1918-1983), Henk Ngantung (1921-1991), Ida Hadjar (1942), I Nyoman Gunarsa (1944), Kusnadi (1921-1997), Mochtar Apin (1923), R. Basoeki Abdullah (1915-1993), Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880), Trisno Sumardjo (1916-1969), Widayat 1923-2002.

Tahun 2018, “Akulturasi” menjadi pilihan tema pameran di Taman Budaya Lampung. Provinsi dengan masyarakat (hitrogen), baik suka maupun bangsa yang berbaur yang kemudian terjadi percampuran beragam budaya tersebut.

Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri
tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan dan kearipan lokal itu sendiri.

Alumni SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Yogyakarta turut menambah catatan proses berkesenian dengan tema “Spirit Of Art” 15 Desember 2018, Bunga Ilalang, Nurbaito, Cubung WP, Budi Ubrux, Suhud,.

Toro, pengusaha dan penggiat seni turut ikut dalam presentasi karya alumni SMSR pada saat itu.

Tanggal 2-11 September 2019, Pameran dan Pergelaran Seni ke-23 se-Sumatera dengan tema "Karya Sumatera untuk Indonesia” di Taman Budaya Lampung.

Tanggal 23 November 2023, muncul kembali pameran seni rupa dengan tema “Teropong” di Taman Budaya lampung. Semangatnya bagaimana perupa daerah ini melihat lebih dekat dan jelas kondisi daerahnya yang kemudian saat direkam dan dirasakan.

Terakhir, 20 Oktober 2024, saya mengusung pameran lukisan dengan tajuk "Spektrum Nusantara". Bagaimana mempresentasikan warna warni kebudayaan yang ada di Provinsi Lampung dalam kanvas.

Semoga seni rupa Lampung kedepan lebih berkembang dan berdaya saing dan semakin mandiri dengan modal proses pengalaman yang panjang tanpa harus
menunggu turunnya hujan dari pegunungan, tumbuh subur di atas batu yang keras dan penuh dengan keangkuhan tanpa harus membusungkan dada.(*)

* Kurator Seni Rupa Lampung

 -