Helo Indonesia

Stop Kecurangan Lomba FLS3N, Jangan Curi Mimpi Anak-Anak Kita

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
Minggu, 22 Juni 2025 15:37
    Bagikan  
FLS3N
HELO LAMPUNG

FLS3N - ANTO

Oleh Anto Ristar Gie*

PERNAHKAH kita menyaksikan anak-anak meneteskan air mata bukan karena kalah, tapi karena tahu bahwa mereka telah dikalahkan oleh juri? Inilah yang terjadi dalam beberapa ajang lomba pendidikan seperti Festival dan Lomba Seni Siswa-Siswi Nasional (FLS3N).

Kecurangan dan kolusi menjadi hal biasa. FLS3N yang sebelumnya FLS2N seharusnya menjadi ruang suci bagi siswa mengekspresikan kreativitas, merayakan bakat, dan mengasah karakter melalui seni. Namun, kenyataannya tak seindah idealismenya.

Di balik panggung karya-karya yang ditampilkan dengan bangga, terjadi sesuatu yang meresahkan: kecurangan yang terorganisir dan sistemik dalam proses penilaian.

Kecurangan dalam lomba bukan hal baru. Tapi ketika itu terjadi dalam ajang nasional pendidikan, yang melibatkan siswa, guru, dan instansi pemerintahan, persoalannya bukan lagi sekadar teknis—ini adalah krisis moral.

KECURANGAN TERSTRUKTUR

Dari berbagai testimoni dan pengamatan lapangan, pola-pola kecurangan dalam FLS3N tampak begitu terang:
1. Pemenang “diatur” sebelum karya dipresentasikan.
2. Relasi personal antara panitia, juri, atau institusi menjadi jalan pintas untuk menang.
3. Karya siswa bukan hasil orisinal, melainkan buatan guru atau pihak profesional luar.
4. Juri tidak independen, bahkan ada yang memiliki konflik kepentingan dengan peserta.

Jika itu semua dianggap normal, maka kita sedang mewariskan warisan busuk kepada generasi penerus: bahwa kompetisi bukan soal usaha, tapi koneksi.

DAMPAKNYA

Dampaknya bukan sekadar nilai. Yang dirugikan bukan hanya peserta yang kalah secara curang, tapi citra pendidikan itu sendiri. Anak-anak belajar dari apa yang mereka alami, bukan hanya dari apa yang diajarkan. Ketika mereka melihat bahwa kejujuran tidak membuahkan hasil.

Apakah praktek-praktek semacam ini akan terus menghancurkan mentalitas yang jadi mimpi buruk hingga mereka dewasa? Anak-anak yang akan membawa air matanya karena telah dikalahkan oleh juri?

* Praktisi Seni Budaya dan Pemerhati Etika Kompetisi Pendidikan Seni.

 -