Oleh Herman Batin Mangku*
MATAHARI pagi 17 Agustus 2025 menembus halaman Istana Merdeka, Jakarta. Udara penuh semangat kemerdekaan, dan halaman istana berubah layaknya panggung budaya Nusantara dari Sabang hingga Merauke.
Para pejabat tinggi negara dan tokoh masyarakat hadir dengan balutan busana adat masing-masing, menampilkan mozaik keragaman yang menjadi kekuatan bangsa.
Di tengah warna-warni itu, sosok Titiek Soeharto mencuri perhatian. Ia melangkah anggun dengan busana adat mirul (mighrul) Lampung, pakaian tradisional khas Sai Bumi Ruwa Jurai yang biasanya dikenakan dalam upacara adat besar.
Balutan tapis jung sarat berwarna dasar hitam dengan sulaman emas berkilau memantulkan cahaya matahari pagi, menambah aura wibawa sekaligus keanggunannya.
Anggun
Penampilan itu memperlihatkan bagaimana busana adat Lampung bukan sekadar kain penutup tubuh, melainkan simbol identitas dan doa yang diwariskan turun-temurun.
Setiap motif tapis yang ia kenakan memiliki makna. Tapis jung sarat, yang melapisi tubuhnya, melambangkan perjalanan hidup penuh pengalaman dan harapan akan masa depan yang sejahtera.
Jenis tapis ini sejak lama dipakai dalam upacara besar, menjadi tanda kedewasaan dan kehormatan.
Sejarah Busana Mirul
Busana Mirul sendiri merupakan pakaian adat lengkap perempuan Lampung. Kata mirul merujuk pada perpaduan antara baju kurung beludru, tapis, serta perhiasan emas yang menyertainya.
Busana ini lahir dari tradisi panjang sejak abad ke-16, ketika Lampung menjadi jalur perdagangan lada.
Perempuan Lampunglah yang menenun tapis dengan tangan, menganyam benang kapas atau sutra, lalu menghiasinya dengan sulaman emas atau perak.
Pekerjaan ini diwariskan dari ibu ke anak, bukan hanya sebagai keterampilan, tetapi juga sebagai pendidikan budaya dan moral. Tidak heran, tapis kemudian menjadi lambang kehormatan, status sosial, sekaligus kebanggaan perempuan Lampung.
Pada 2021, UNESCO menetapkan tapis Lampung sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, memperkuat posisinya sebagai salah satu mahakarya Nusantara yang mendunia.
Perhiasan Emas Penuh Filosofi
Mirul tidak lengkap tanpa perhiasan emas. Titiek Soeharto mengenakannya dengan penuh keanggunan.
Siger, mahkota berbentuk tanduk yang dikenakan di kepala, melambangkan martabat perempuan Lampung. Kalung papadun dan buah jukum yang bertumpuk di dadanya menandakan doa akan kesejahteraan dan umur panjang.
Di pinggang, ia mengenakan pending emas, sabuk besar yang menjadi simbol pengendalian diri dan penjaga martabat keluarga.
Sementara gelang kano di pergelangan tangannya melambangkan keteguhan hati dan keberanian.
Selendang emas yang melingkari bahu memperindah geraknya, menjadi tanda kerendahan hati sekaligus keramahan.
Setiap perhiasan bukan sekadar ornamen, melainkan bahasa simbolik yang menyampaikan pesan: tentang kemuliaan perempuan, doa kesejahteraan, dan kekuatan menjaga martabat bangsa.
Simbol Keberagaman di Panggung Nasional
Kehadiran Titiek Soeharto dengan busana Mirul Lampung di Istana Negara tidak sekadar memamerkan keindahan fesyen daerah. Ia membawa pesan yang lebih dalam: bahwa budaya daerah adalah bagian tak terpisahkan dari jati diri nasional.
Ketika bendera Merah Putih berkibar, kain tapis di tubuhnya bergetar tertiup angin. Pemandangan itu seakan mengingatkan bahwa Indonesia merdeka karena keberagaman, dan keberagaman itu akan abadi selama budaya kita dijaga.
* PEMRED CLUB
