Helo Indonesia

Darussalam Rawat Pembauran Lewat Even Budaya dan Seminar Kebangsaan

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
1 jam 21 menit lalu
    Bagikan  
FPK
HELO LAMPUNG

FPK - Darussalam dan salah satu duta budaya daerah

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM – Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Lampung, H. Darussalam, S.H., M.H., terus menunjukkan perhatian terhadap kegiatan kebudayaan dan penguatan semangat kebangsaan. Dalam sepekan ini, ia menghadiri dua agenda yang memiliki benang merah sama: merawat keberagaman sebagai kekuatan persatuan bangsa.

Pertama, Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) V Provinsi Lampung Tahun 2026 yang mengusung tema “Harmoni Budaya Bumi Lampung Menuju Indonesia Emas”. Darussalam hadir menyaksikan pergelaran budaya di Gedung Teater Tertutup UPTD Taman Budaya Lampung, Minggu (25/10/2026).

Kedua, Seminar Kebangsaan bertema “Merawat Persatuan, Menguatkan Kolaborasi, Menggerakkan Pemuda untuk Lampung dan Indonesia Maju” yang diselenggarakan Pengurus Daerah Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya Provinsi Lampung di Hotel Akar, Kota Bandarlampung, Selasa (27/10/2026).

undefined

FPK Lampung pada even PKD V Provinsi Lampung Tahun 2026

Menurut Darussalam, kedua kegiatan tersebut memiliki arti penting dalam memperkuat kesadaran masyarakat bahwa persatuan Indonesia tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan bangsa mengelola perbedaan suku, budaya, adat istiadat, dan latar belakang sosial dalam satu ikatan kebangsaan.

“Keberadaan bangsa kita berakar dari beragamnya kebudayaan sebagai jati diri yang kemudian melahirkan jiwa kebangsaan dalam satu kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semangat tersebut harus terus kita rawat bersama,” ujarnya.

Ia menilai, kebudayaan bukan sekadar pertunjukan seni, pakaian adat, tarian, atau simbol tradisi yang ditampilkan pada acara seremonial. Lebih dari itu, kebudayaan merupakan ruang perjumpaan antarkelompok masyarakat untuk saling mengenal, menghormati, dan membangun kepercayaan.

Karena itu, Pekan Kebudayaan Daerah menjadi kesempatan penting bagi masyarakat Lampung untuk menunjukkan bahwa keberagaman merupakan modal sosial dalam pembangunan. Setiap komunitas memiliki ruang untuk menampilkan identitasnya tanpa harus kehilangan rasa memiliki terhadap daerah dan bangsa Indonesia.

undefined

PKD V, Panggung Keberagaman Nusantara

PKD V Provinsi Lampung yang berlangsung pada 19–25 Oktober 2026 di Taman Budaya Lampung menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian seni dan budaya daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi kepada masyarakat luas.

Paguyuban Pasundan Provinsi Lampung yang menyiapkan penampilan seni Tari Merak, pencak silat, Rampak Sekar, dan Tari Jaipongan, disertai pengenalan perjalanan Lampung Sundanese Arts Festival.

Keterlibatan komunitas Sunda tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan Lampung tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang beragam. Lampung bukan hanya rumah bagi masyarakat adat Lampung, tetapi juga tempat bernaung berbagai kelompok etnis yang turut berkontribusi membangun kehidupan sosial, ekonomi, dan kebudayaan daerah.

PKD V dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Yanyan Ruchyansah menjadi ruang ekspresi bagi seniman, pelaku budaya, komunitas seni, serta generasi muda untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya.

PKD V juga menampilkan arak-arakan budaya khas Lampung dan Pincak Khakot. Ragam penampilan tersebut menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya membutuhkan ruang perjumpaan dan keterlibatan banyak komunitas.

Darussalam mengapresiasi keterlibatan berbagai paguyuban dan kelompok masyarakat dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, partisipasi semacam itu penting agar pembauran tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hadir dalam interaksi nyata antarmasyarakat.

Dalam kegiatan PKD V, pengurus FPK lainnya, Idris KS dan Rizki, S.H., dari Paguyuban Keluarga Besar Banten (PKBB), turut hadir. Paguyuban Pasundan Wilayah Lampung juga berpartisipasi dengan menampilkan kebudayaan Sunda.

Tubagus Asep Saepulloh menyampaikan keterlibatan Paguyuban Pasundan dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk kontribusi untuk memperkenalkan dan melestarikan kesenian daerah asal sekaligus memperkaya khazanah budaya di Lampung.

Bagi FPK, keterlibatan berbagai paguyuban ini memiliki makna strategis. Pembauran kebangsaan bukan berarti menghapus identitas setiap suku, melainkan membangun kesadaran bahwa perbedaan identitas dapat hidup berdampingan di bawah nilai persaudaraan dan komitmen kebangsaan yang sama.

undefined

Seminar Kebangsaan dan Peran Generasi Muda

Semangat yang sama berlanjut dalam Seminar Kebangsaan yang digelar TP Sriwijaya Lampung, Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini diselenggarakan menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026.

TP Sriwijaya Lampung telah mematangkan persiapan seminar melalui rapat panitia di RM Dapoer Natt, Jalan Sultan Agung, Bandar Lampung, Jumat (23/10/2026). Ketua TP Sriwijaya Lampung, Hj. Nurhasanah, S.H., M.H., berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan sesuai rencana.

Seminar dirancang untuk memperkuat semangat kebangsaan, persatuan, dan kolaborasi lintas sektor dengan menghadirkan unsur akademisi, pengusaha, serta legislatif. Penyelenggara juga menekankan pentingnya peran aktif generasi muda dalam pembangunan daerah dan nasional.

Bagi Darussalam, tema seminar tersebut relevan dengan tantangan kebangsaan saat ini. Persatuan tidak cukup hanya diucapkan dalam pidato atau diperingati melalui upacara tahunan. Persatuan harus diwujudkan melalui kerja sama lintas kelompok, kesempatan yang setara, dialog yang sehat, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Generasi muda, menurutnya, perlu mendapat ruang untuk berpartisipasi dalam pembangunan, menyampaikan gagasan, dan mengembangkan potensi. Mereka bukan sekadar penerus kepemimpinan, melainkan juga pelaku perubahan yang menentukan arah masa depan Lampung dan Indonesia.

Semangat Sumpah Pemuda 1928, yang menyatukan tekad bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.

Perbedaan pilihan politik, latar belakang ekonomi, suku, maupun budaya seharusnya tidak menjadi alasan untuk memutus komunikasi dan mengabaikan kepentingan bersama.

Darussalam berharap seminar kebangsaan tersebut tidak berhenti sebagai agenda peringatan. Pertemuan lintas sektor harus menghasilkan gagasan, jejaring kerja, dan program nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Pembauran Harus Menjadi Kerja Nyata
Sebagai Ketua FPK Provinsi Lampung, Darussalam memandang penguatan kebangsaan perlu berjalan beriringan dengan pelestarian kebudayaan. Keduanya saling menopang: kebudayaan memberikan identitas, sedangkan semangat kebangsaan menyatukan berbagai identitas dalam kehidupan bersama.

Pemerintah, organisasi kemasyarakatan, paguyuban, lembaga pendidikan, dan komunitas pemuda memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang perjumpaan yang inklusif. Kegiatan kebudayaan dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat dialog, mengurangi prasangka, dan membangun penghormatan terhadap perbedaan.

Namun, pembauran juga membutuhkan konsistensi di luar panggung acara. Semangat kebersamaan harus tercermin dalam pelayanan publik yang adil, kesempatan ekonomi yang terbuka, penyelesaian konflik secara bermartabat, serta perlakuan setara terhadap seluruh warga tanpa membedakan asal-usulnya.

Dengan demikian, keberhasilan kegiatan kebudayaan dan seminar kebangsaan tidak semata-mata diukur dari ramainya pengunjung atau banyaknya tokoh yang hadir. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana kegiatan tersebut menumbuhkan kesadaran, mempererat hubungan antarkelompok, dan melahirkan kolaborasi yang berkelanjutan.

Darussalam berharap momentum Pekan Kebudayaan Daerah V dan Seminar Kebangsaan dapat memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat untuk merawat persatuan. Sebab, Indonesia yang maju tidak dibangun dengan menyeragamkan kebudayaan, tetapi dengan memastikan setiap kebudayaan memperoleh ruang untuk tumbuh, dihormati, dan diwariskan.

Keberagaman adalah kenyataan Indonesia, sedangkan persatuan merupakan pilihan dan tanggung jawab bersama. Di sanalah budaya dan kebangsaan bertemu: berbeda dalam identitas, tetapi tetap satu dalam cita-cita membangun Lampung dan Indonesia yang damai, adil, dan maju. (HBM)