LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Sekolah Seni Tubaba kembali menggelar Tubaba Art Festival (TAF) ke-9 pada 31 Oktober–1 November 2025 di Kota Budaya Ulluan Nughik, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung. Tahun ini, TAF mengusung tema Machine of Memory, sebuah metafora tentang cara ingatan dan imajinasi masa depan bekerja dalam lapis-lapis kebudayaan.
Direktur Sekolah Seni Tubaba, Semi Ikra Anggara, menjelaskan bahwa TAF merupakan festival seni berbasis kreativitas warga yang berlandaskan falsafah hidup Tubaba, yakni Nemen (kerja keras), Nedes (konsisten), Nerimo (ikhlas), serta nilai kesetaraan, kesederhanaan, dan kelestarian (Nenemo SSL).

“Festival ini awalnya digelar sebagai bentuk presentasi akhir dari proses pembelajaran seni warga di Kelas Kesenian Tubaba pada 2016. Seiring waktu, berkembang menjadi ruang pertemuan dan pertukaran gagasan antara warga dengan seniman lintas disiplin, baik nasional maupun internasional,” ujar Semi, Rabu (29/01/2025).
TAF kerap disebut sebagai “festival kesadaran”, karena menjadi ruang hidupnya ingatan kolektif warga. Penyelenggaraan festival ini merupakan kerja kolaboratif antara Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata bersama berbagai lembaga kebudayaan. Sejak 2023, TAF juga mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata melalui platform Karisma Event Nusantara (KEN).
INGATAN
Ingatan sering kali dipahami bersifat personal—kenangan masa kecil, kisah keluarga, atau pengalaman emosional. Namun, ingatan juga merupakan konstruksi sosial yang dijaga oleh bahasa, ritual, cerita, dan simbol-simbol budaya. Ia menghubungkan individu dengan komunitas, sekaligus komunitas itu dengan sejarahnya.
Namun begitu, ingatan tidak pernah netral. Ada yang disorot, ada yang disisihkan, ada yang dihilangkan. Sebagian ingatan dijaga institusi, sementara sebagian lainnya hidup dalam praktik warga sehari-hari, tradisi lokal, atau cerita yang diwariskan antar generasi.
TAF memosisikan semua lapisan tersebut sebagai bagian dari sebuah mesin yang terus bergerak. Melalui seni, arsip dan sejarah dihidupkan kembali sebagai pengetahuan baru yang membantu masyarakat membaca masa kini sekaligus membayangkan masa depan.
RAGAM
Sastra tutur masyarakat tiyuh di Tubaba, yang penuturnya kini semakin terbatas, dihidupkan kembali melalui pertunjukan teater musikal anak. Dalam karya tari, tapis Megou Pak tak hanya tampil sebagai busana, tetapi juga sebagai penanda identitas tubuh dan gerak perempuan pemakainya.
Selain itu, terdapat pula pameran arsip pendidikan karakter Nenemo di sekolah-sekolah se-Tubaba oleh Tubaba Cerdas, serta pameran arsip keluarga dan ingatan personal warga melalui pameran seni rupa Sekolah Seni Tubaba.
Sebelum seremoni pembukaan, pada Jumat (31/10), Sekolah Seni Tubaba juga menggelar Pesta Sastra Tubaba, sebuah inisiatif penguatan komunitas sastra yang didukung Kementerian Kebudayaan RI. Acara ini dibuka dengan pembacaan puisi mantra ikan, dilanjutkan kegiatan memancing bersama warga di kawasan Ulluan Nughik.
Acara lain yang menarik adalah lomba baca puisi berhadiah ayam jago. Dua buku menjadi fokus kajian, yakni “Rahasia Kesaktian Raja Tua” karya Zen Hae dan “Empedu Tanah” karya Inggit Putria Marga, dengan Arman Az (sejarawan Lampung) dan Hilmi Paiq (Redaktur Budaya Kompas) sebagai pembicara. Kelompok musik Trio Berdua (Bandung) dan Orkes Bada Isya (Bandar Lampung) turut memeriahkan
RANGKAIAN KEGIATAN
Upacara pembukaan digelar Jumat, 31 Oktober pukul 14.00 WIB dengan penampilan Tari Nenemo, tari anak hasil pengembangan gerak tradisi, serta Tari Tubuh Tapis karya koreografer Ahmad Susantri.
Setelah itu, pengunjung dapat menikmati bazar, pameran, serta lokakarya, antara lain:
- Pasar Jejama (UMKM Tubaba)
- Pameran Seni Rupa Disabilitas “Setara”
- Pameran Seni Rupa Sekolah Seni Tubaba
- Pameran Arsip Tubaba Cerdas
- Lapak Baca & Kemah Literasi
- Workshop Keramik (Baskoro & Studio Tanoh Nughik)
- Workshop Screenprint/Stensil (Lowpoop & Basdar Studio)
Hari kedua dimulai dengan Diskusi Publik Pemberdayaan Ruang Kreatif bersama Dharma Setyawan (Payungi Metro), lalu dilanjutkan pertunjukan musik Kelas Musik Sekolah Seni Tubaba serta teater musikal anak “Bunian dan Kisah-Kisah Sebelum Tidur”.
Pada malam puncak, tiga kelompok musik tampil: Orkes Gajah Duduk, Orkes Bada Isya, dan Banda Naira.
Tubaba Art Festival telah tumbuh sebagai laboratorium kebudayaan—sebuah ruang yang menegaskan bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan cara hidup dan alat berpikir bersama. (Rohman)
