Helo Indonesia

Nisan Aceh di Lampung, Jejak Jalur Dakwah di Tanah Lado

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
Rabu, 7 Januari 2026 16:22
    Bagikan  
NISAN ACEH
HELO LAMPUNG

NISAN ACEH - Setelah tertutup bertahun-tahun, nisa Aceh yang baru dibuka di Kecamatan Blambangan Pagar, Kabupaten Lampung Utara. (Foto TACB/Helo)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Terverifikasinya temuan nisan Islam tipologi Aceh Darussalam di sejumlah wilayah Provinsi Lampung tidak sekadar memperkaya data objek diduga cagar budaya (ODCB). Lebih dari itu, temuan ini membuka kembali jejak peran ulama dan jalur dakwah Islam yang membentuk sejarah keislaman Lampung sejak masa awal.

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Lampung mencatat, nisan Aceh era Abad ke-12/13 Hijriah atau Abad ke-18/19 Masehi ditemukan di beberapa kabupaten. Salah satu lokasi terbaru berada di Kecamatan Blambangan Pagar, Kabupaten Lampung Utara.

Baca juga: TACB Lampung Berhasil Jadikan Situs Batu Brak Peringkat Nasional

Anggota TACB Lampung, I Made Giri Gunadi, menyebut tipologi nisan tersebut menunjukkan karakter kuat nisan Aceh sekitar abad ke-17 Masehi. “Ini nisan Islam tipologi Aceh. Dari bentuk dan ukurannya, kuat mengarah ke abad 17,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).

Secara arkeologis, nisan Aceh—sering disebut nisan batu Aceh—umumnya digunakan untuk menandai makam tokoh penting dalam proses islamisasi, terutama ulama, saudagar muslim, atau elite lokal yang memiliki peran dalam dakwah.

Perbedaan ukuran antara nisan laki-laki dan perempuan yang ditemukan di Provinsi Lampung juga sejalan dengan pola makam Islam kuno di Aceh, Samudera Pasai, hingga Provinsi Banten Lama.

Baca juga: Demi Penyelamatan Rumah Bersejarah Lampung, TACB Pasang Benner

Ketua TACB Lampung, Anshori Djausal, menegaskan bahwa persebaran nisan serupa di Way Pengubuan, Abung Surakarta, dan Kutabumi Tuha memperkuat dugaan adanya jalur dakwah terstruktur yang menghubungkan Aceh, Banten, dan Lampung.

“Ini bukan artefak yang berdiri sendiri. Nisan ini menandai kehadiran ulama dan jaringan dakwah Islam yang masuk ke Lampung melalui jalur maritim,” kata Anshori.

Dalam konteks sejarah, Aceh Darussalam dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam terbesar di Nusantara. Ulama Aceh pada Abad ke-16 hingga 18 aktif berdakwah ke berbagai wilayah, termasuk pesisir Sumatra dan Jawa.

Banten, yang memiliki hubungan politik dan keagamaan erat dengan Aceh, berperan sebagai simpul transit dakwah sebelum ajaran Islam menyebar lebih jauh ke wilayah Lampung.

Lampung sendiri pada masa itu memiliki posisi strategis sebagai penghubung jalur perdagangan lada. Keberadaan ulama di kawasan ini tidak hanya membawa ajaran Islam, tetapi juga membentuk struktur sosial, hukum adat, dan nilai spiritual masyarakat lokal.

Nisan Aceh yang ditemukan menjadi penanda material atas proses dakwah tersebut—sunyi, tetapi menentukan arah sejarah.

Dengan demikian, temuan nisan Islam tipologi Aceh di Lampung bukan hanya bukti masuknya Islam, melainkan juga jejak peran ulama sebagai agen perubahan, yang menyebarkan Islam melalui pendekatan damai, perdagangan, dan pengajaran.

Jejak ini memperlihatkan bahwa Islam di Lampung tumbuh dari dialog budaya, bukan dari penaklukan.

TACB Lampung menilai, pengungkapan dan pelestarian nisan-nisan ini penting untuk menjaga ingatan kolektif tentang jalur dakwah Islam di Lampung, sekaligus memperkuat identitas sejarah daerah sebagai bagian dari peradaban Islam Nusantara. (HBM)