Oleh: Majid Lintang*
DI TEPI Teluk Balikpapan, angin laut berembus lembut, membawa aroma asin yang menyatu dengan wangi dupa. Malam itu, langit seakan ikut menunduk, memberi ruang bagi cahaya lampion merah yang bergantung berderet di sepanjang jalan menuju vihara. Kota yang sehari-hari riuh oleh deru kendaraan dan denyut industri ini mendadak menjelma panggung kehangatan dan doa.
Di salah satu sudut kota berdiri anggun Vihara Eka Dharma Manggala. Gerbangnya dihiasi ukiran naga dan singa, simbol penjaga keseimbangan dan keberuntungan. Di halaman vihara, umat berdatangan dengan pakaian terbaik mereka. Anak-anak berlarian kecil sambil membawa lampion mungil, sementara orangtua menenteng jeruk dan kue keranjang—perlambang harapan akan kemakmuran dan keharmonisan di tahun yang baru.
Perayaan Imlek di Balikpapan umumnya berlangsung dengan nuansa terbuka dan inklusif. Selain ibadah dan sembahyang, rangkaian acara biasanya diisi dengan pertunjukan barongsai, pembagian angpao, serta kebersamaan keluarga. Di beberapa titik kota, masyarakat dari berbagai latar belakang turut menyaksikan dan merasakan suasana perayaan, menjadikan Imlek bukan hanya milik satu komunitas, melainkan bagian dari denyut sosial kota.
Imlek di Balikpapan bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender lunar. Ia adalah perjumpaan lintas generasi dan lintas budaya. Di kota minyak yang dihuni oleh beragam suku dan agama ini, warna merah dan emas tak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan senyum, sapaan, dan rasa saling menghormati.
Dentum tambur barongsai memecah malam. Dua singa berwarna cerah melompat lincah, menari di atas tiang-tiang besi dengan gerakan akrobatik yang memukau. Sorak sorai penonton membahana. Tak hanya warga Tionghoa, tetangga dan pengunjung dari berbagai latar belakang ikut menyaksikan dengan mata berbinar.
Di sela-sela pertunjukan, terselip doa-doa lirih: agar tahun yang baru membawa kesehatan, rezeki, dan kedamaian. Di meja-meja rumah, hidangan khas tersaji hangat. Ikan utuh melambangkan kelimpahan, mi panjang umur mengisyaratkan harapan hidup yang panjang, dan kue keranjang yang lengket menjadi simbol eratnya persaudaraan.
Tawa keluarga pecah ketika angpao berpindah tangan—bukan semata soal nominal, melainkan tentang restu dan kasih sayang yang tersembunyi di dalam amplop merah.
Seorang nenek menyalakan lilin dengan mata terpejam khusyuk. Ingatannya melayang pada masa kecil, ketika Imlek dirayakan secara sederhana, bahkan pernah dalam sunyi. Kini, di Balikpapan yang semakin modern dan terbuka, perayaan itu hadir lebih meriah dan penuh penerimaan.
Waktu mengajarkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan, melainkan jembatan untuk saling memahami dan merawat kebersamaan. Ketika malam semakin larut, doa-doa dilepaskan ke langit. Kembang api merekah di atas teluk, memantulkan cahaya di permukaan air yang tenang.
Sejenak, kota ini seolah berhenti bernapas—terpaku pada keindahan yang menggantung di angkasa.
Imlek di Balikpapan adalah kisah tentang cahaya di tengah keberagaman.
Tentang lampion yang tak hanya menerangi jalan menuju vihara, tetapi juga menyalakan harapan di hati setiap orang. Di kota ini, tahun baru bukan sekadar pergantian angka, melainkan pengingat bahwa harmoni selalu mungkin tumbuh—selama ada ruang untuk saling menghormati dan berbagi cahaya.
* Wartawan senior asal Lampung yang kini tinggal di Balikpapan.

