Helo Indonesia

Ngejalang: Tradisi Melangitkan Doa, Merawat Silaturahmi Lebaran di Pesisir Barat

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
Jumat, 27 Maret 2026 11:10
    Bagikan  
NGEJALANG
HELO LAMPUNG

NGEJALANG - Tuan Djazairi diantar keluarga ziarah ke Makam Keluarga Hamara.

Catatan Herman Batin Mangku
Koordinator Pemred Club

ADA yang selalu pulang setiap Lebaran di tanah Krui, Kabupaten Pesisir Barat. Ia bukan sekadar langkah kaki anak-anak rantau yang kembali ke kampung halaman, melainkan juga doa-doa yang dilangitkan, ingatan yang disusun rapi, dan silaturahmi yang dirawat lintas generasi. Tradisi itu bernama ngejalang—sebuah warisan kultural yang hidup, berdenyut, dan terus dijaga oleh masyarakat pesisir Lampung.

Seperti keluarga besar keturunan Tamong Bakaruddin bin Abdul Hadi bin Abdullah, tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah panggilan batin. Setiap usai Salat Idulfitri, bahkan sejak hari pertama hingga ketiga Syawal, keluarga besar berkumpul menuju makam leluhur.

undefined

Keluarga besar dari M. Nur, Way Redak saat gejalang kuburan di Hamara. 

Dijelaskan Awan Yarni Hasan, keluarga tertua keturunan Tamong Bakaruddin bin Abdul Hadi dan Maisah bin Madin, keduanya ada lima putra-putri, yakni Djaimah, Masjidah, H. Abdul Hamid, Hj. Zahra, dan H. Alpi.

Di situlah mereka saling bermaafan, menundukkan kepala, dan mengirimkan doa agar para pendahulu dilapangkan kuburnya serta dihimpunkan bersama umat Nabi Muhammad SAW. Mereka yang dirantau ikut melangitkan doa agar para kerabat senantiasa dalam lindungan-Nya. 

undefined

Suasana makam saat ngejalang

Makam keluarga itu berada di tepian Samudera Hindia, di samping Resort Lamban Yoso, Pekon Serai, Kecamatan Pesisir Tengah. Resort tersebut milik Hendry Yosodiningrat, pengacara terkenal nasional yang orangtuanya berasal dari Kabupaten Pesisir Barat. 

Di makam keluarga yang oleh keluarga besar sejak lama disebut Hamara, laut menjadi saksi bisu: ombak datang dan pergi, seperti doa-doa yang tak pernah putus dari anak cucu kepada leluhur mereka.

Di sana, ziarah bukan hanya tentang mengenang yang telah tiada, tetapi juga meneguhkan ikatan yang masih hidup. Ngejalang kubokh—ziarah makam keluarga—biasanya diawali jauh hari, bahkan sejak memasuki bulan Ramadan.

undefined

Awan Yarni dan istri

Keluarga membersihkan pusara, menata kembali yang sempat terabaikan oleh waktu. Lalu, pada hari yang disepakati setelah Lebaran, mereka kembali berkumpul dalam suasana yang lebih khidmat dan hangat.

Ritual ini memiliki rangkaian yang sarat makna. Doa bersama menjadi inti, namun kebersamaan menemukan bentuk paling hangatnya dalam makan bersama. Para ibu menyiapkan pahar—nampan khas yang ditutup kain bermotif indah—yang dibawa di atas kepala, berjalan beriringan menuju lokasi ziarah.

Di keluarga lainnya, pemandangan yang bukan hanya estetis, tetapi juga penuh simbol: tentang keteguhan, keseimbangan, dan kehormatan dalam membawa rezeki.

Pahar-pahar itu kemudian disusun memanjang. Tikar digelar di kedua sisinya, mengundang siapa saja untuk duduk saling berhadapan. Di situlah percakapan mengalir, tawa pecah, dan rindu terobati.

undefined

Hidangan yang tersaji sederhana namun bermakna: aneka buak (kue) seperti selimpok dan kembang goyang, serta gulai atau sayur yang dibawa masing-masing keluarga. Makanan itu bukan sekadar santapan, melainkan sangu—bekal kebersamaan setelah doa dipanjatkan.

Menurut Awan Yarni Hasan, salah satu tetua keluarga besar yang kini berusia lebih dari 80 tahun, tradisi ini telah diwariskan turun-temurun. Ia adalah keturunan dari garis panjang keluarga yang tetap menjaga akar, meski pernah merantau jauh.

Setelah puluhan tahun mengadu nasib sejak remaja di Jakarta, Awan memilih kembali ke Krui, bersama sanak saudara dan tradisi yang membesarkannya di kampung halamannya.

Di tengah arus zaman yang serba cepat dan individualistik, ngejalang berdiri sebagai pengingat: bahwa manusia tidak hidup sendiri. Ia terhubung oleh sejarah, oleh darah, oleh doa-doa yang tak terlihat namun terasa.

Tradisi ini mengajarkan bahwa kematian bukanlah akhir dari relasi, melainkan awal dari cara lain untuk mencintai—melalui doa yang tak putus.

Lebih dari itu, ngejalang adalah cermin nilai-nilai luhur masyarakat Lampung: gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur. Ia bukan sekadar tradisi, melainkan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Maka, selama ombak masih berdebur di pesisir Krui, selama anak-anak rantau masih menemukan jalan pulang, ngejalang akan tetap hidup—melangitkan doa, dan merawat silaturahmi yang tak lekang oleh waktu.

Tabik pun, sehat selalu (***)