LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Provinsi Lampung pernah memiliki “dewa” sendiri dengan senjata tajam diselipkan di pinggang. Arca berukuran lebar 40 cm, tinggi 100 cm, dan diameter 47 cm yang dinamakan Arca Gramadewata tersebut ditemukan di puncak Gunung Langkap, Kecamatan Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Lampung, Ir. Anshori Djausal, MT, mengatakan Arca Gramadewata merupakan manifestasi local genius yang memperlihatkan kemampuan masyarakat Lampung mengadaptasi pengaruh luar tanpa kehilangan identitas budayanya.
Menurut arkeolog Museum Lampung, I Made Giri Gunadi, SS, MSi, Arca Gramadewata menggambarkan sosok tokoh leluhur lokal periode klasik akhir yang memiliki bentuk antropomorfik. Arca tersebut terbuat dari batu andesit dan diperkirakan dibuat pada Abad XV Masehi.

Penampilan unik lainnya pada arca ini adalah adanya senjata tajam di bagian belakang pinggang. Belum diketahui apakah senjata tersebut berupa pisau atau badik. Kalung atau hara yang dipakai, bandulnya berada di bagian belakang atau punggung arca. Sementara rambutnya panjang, digelung atau disanggul.
Kata dia, arca ini merepresentasikan perkembangan peradaban Lampung pada masa Klasik Akhir (Abad XV M), berupa transformasi budaya dan perpaduan tradisi megalitik Nusantara dengan pengaruh Hindu-Buddha yang melahirkan ekspresi budaya lokal yang khas (local genius).
Arca tersebut memiliki ciri khas tersendiri, bersifat lokal, dan berbeda dengan arca-arca yang ada di Nusantara maupun dunia. Bentuknya tidak proporsional, seperti arca-arca Polinesia yang pembuatannya diperkirakan berlangsung sekitar 2.500 Sebelum Masehi (SM).
Namun, walaupun dibuat pada Abad XV M, arca ini tidak memperlihatkan ciri pantheon Hindu-Buddha. Arca Gramadewata dipahat langsung (direct carving) dengan teknik pahat reduksi pada bahan baku monolit. Bentuknya masih terlihat kaku dan sederhana.
Baca juga: TACB Lampung Setuju 4 Benda Cagar Budaya Lamtim Diusulkan Naik Peringkat Provinsi
Baca juga: Ditemukan, Arca Polinesia dan Punden Berundak Prasejarah di Tanggamus
Hal tersebut berbeda dengan arca Hindu-Buddha yang detail, rumit, dan estetis. Menurut interpretasi I Made Giri Gunadi, SS, MSi, Arca Gramadewata merupakan tokoh lokal setempat yang berpengaruh dan dinilai penting pada masanya oleh masyarakat sehingga diarcakan.
Tokoh lokal tersebut, diperkirakan, adalah pemimpin kelompok, kepala desa (rama, tuha-tuha, pasirah), dukun desa, atau tokoh berpengaruh lainnya pada masa sejarah di Lampung kuno, kata I Made Giri Gunadi, SS, MSi, ketika mengusulkan arca ini naik peringkat dari kabupaten ke provinsi pada Kamis (6/8/2026).
Dilihat dari atributnya, Arca Gramadewata bukan dibuat pada masa prasejarah. Perhiasannya lazim ditemukan pada arca-arca Hindu-Buddha. “Arca ini biasanya ditempatkan di tempat atau struktur suci yang pada waktu tertentu diadakan ritus aradhana terhadap leluhur,” katanya.

Menurut Ir. Anshori Djausal, MT, Arca Gramadewata memenuhi lima kriteria pemeringkatan provinsi berdasarkan Pasal 43 UU No. 11 Tahun 2010, yaitu: (1) mewakili kepentingan pelestarian kawasan budaya lintas kabupaten/kota; (2) mewakili karya kreatif yang khas di Provinsi Lampung; (3) langka, unik, dan jumlahnya sangat terbatas; (4) menjadi bukti evolusi peradaban dan pertukaran budaya; serta (5) berasosiasi dengan tradisi yang masih berlangsung hingga saat ini.
Budayawan Lampung ini akan mengusulkan Arca Gramadewata menjadi benda cagar budaya peringkat provinsi kepada Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Bahkan, dia kelak akan memperjuangkan Arca Gramadewata menjadi benda cagar budaya peringkat nasional.
Benda cagar budaya yang ditemukan Abdul Rahman pada tahun 1963 ini tersimpan di Rumah Informasi Situs Cagar Budaya Nasional (CBN) Pugung Raharjo, Kabupaten Lampung Timur. (HBM)
