Filosofi Tradisi Bakera Minahasa untuk Ibu Baru Melahirkan, Menjaga Kesehatan dan Kebugaran

Sabtu, 22 Februari 2025 20:46
Antropolog dari Universitas Sam Ratulangi Manado menjelaskan tentang praktik kesehatan Bakera khas Minahasa Sulawesi Utara. Foto: tangkapan layar

HELOINDONESIA.COM -Setiap suku bangsa memiliki sistem kesehatan dan kebugarannya sendiri-sendiri.

Kedua sistem ini bisa menjadi spa tradisional Indonesia yang tentu saja memperkaya dengan praktik-praktik kebugaran secara tradisional.

Antropolog dari Universitas Sam Ratulangi Dr Dra Maria Heny P dalam webinar yang dikutip dari akun YouTube Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) pada Sabtu (22/2/2025) mengungkapkan bahwa orang Minahasa ada di Sulawesi Utara.

"Di sini (Minahasa) ada beberapa suku bangsa. Berdasarkan hasil penelitian tradisi seperti Bakera Minahasa juga ada di beberapa suku bangsa lain, selain etnis Minahasa. Tapi caranya berbeda," papar Maria.

Baca juga: Tak Miliki Sertifikat Kompetensi Wartawan Kok Ditunjuk jadi Plt Ketua PWI Kalbar, Hendry Ch Bangun: Itu Ilegal, Cacat Hukum

Menurutnya, kalau orang Minahasa ketika dia bicara "Anda sehat atau tidak?" Maka ini akan mereferensikan pada keseimbangan antara unsur panas dan dingin dalam tubuh manusia.

"Apabila kedua unsur tersebut hilang dalam tubuh manusia percaya dapat digantikan dengan unsur panas atau dingin dan bisa diambil dari alam sekitar," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan Maria , alam sekitar itu bisa tumbuh-tumbuhan mungkin atau sumber-sumber air panas yang di Minahasa.

"Sumber air panas di Minahasa itu banyak sekali. Secara budaya orang Minahasa percaya ketika wanita pasca melahirkan tubuhnya berada dalam kondisi dingin. Untuk menetralisir maka ada beberapa paradigma berpikir yang sifatnya sangat-sangat mudah," jelasnya.

Baca juga: Suwardi Kembali Pimpin KPUS Kendal, Siap Terlibat Suplai Telur untuk MBG

Pertama unsur panas itu telah hilang dalam tubuh wanita. Ketika bayi keluar maka panas dalam tubuh Perempuan itu atau wanita itu hilang.

"Kemudian ada kepercayaan juga keringat dari perempuan atau Ibu yang baru melahirkan itu terlalu tidak enak. Terutama organ-organ bagian reproduksi," tambahnya.

Nah untuk menetralisir maka perlu dimasukkan unsur panas ke dalam tubuh ibu tadi dengan ramuan dari tumbuhan tertentu yang mempunyai unsur panas.

"Tumbuhan tersebut juga bisa menghilangkan bau dengan tumbuhan tumbuh-tumbuhan yang beraroma Apa saja tumbuhan yang beraroma," ungkap Maria.

Baca juga: Gubernur Mirza Kirim Bantuan untuk Korban Banjir di Bandarlampung

Tradisi ini, lanjut Maria, bagi seorang perempuan apakah dia ada di kota di Kota Manado atau di kampung-kampung, mereka percaya bahwa habis melahirkan maka harus melakukan Bakera.

Biasanya, praktik Bakera ini biasa dilakukan dua minggu dan 40 hari sesudah seorang ibu melahirkan.

"Nah setelah itu kalau dia disesuaikan pada ada semacam eee kegiatan ya yang berhubungan dengan aktivitas seorang ibu harus diurut dengan cara Bakera tersebut ," tandasnya.

Secara filosofi, tegas Maria, tubuh seorang wanita masih dalam keadaan sehat karena belum melakukan aktivitas.

Baca juga: Temu Ilmiah PTUN se-Indonesia: Bahas Problematika Penyelesaian Sengketa Tindakan di PTUN

"Kemudian selain tubuh masih dalam keadaan yang baru bangun belum ada aktivitas apa-apa, maka akan terjadi perubahan menjadi dingin. Untuk mengubah jadi panas, maka perlu diBakera. Biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah tua," tandasnya.

Berita Terkini