KENDAL, HELOINDONESIA.COM - Menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap tanggal 12 Rabiul Awal atau Maulid, di setiap depan rumah warga di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, terlihat banyak hidangan makanan khas yang tersaji rapi layaknya orang berjualan.
Hidangan tersebut bukan untuk dijual, tetapi untuk tradisi Weh-wehan. Dimana masyarakat berkeliling ke rumah-rumah saling berbagi dan bertukar makanan yang sudah mereka siapkan.
Baca juga: Harga di Pasaran Lebih Tinggi, Penyerapan Jagung Pipil di Bulog Masih Rendah
Tradisi weh-wehan ini sebagai bentuk rasa syukur dan suka cita menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini juga diwarnai pemasangan lampu lampion (teng-tengan) sebagai simbol cahaya Nabi dan mempererat tali persaudaraan serta nilai-nilai sosial dan kedermawanan.
Dalam tradisi weh-wehan tahun 2025 ini, Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari juga ikut berbaur dengan masyarakat Desa Krajan Kulon, Kaliwungu, pada Kamis sore, 4 September 2025. Dengan penuh suka cita dan menenteng makanan Bupati Tika mendatangi rumah-rumah warga untuk ikut bertukar dan memeriahkan tradisi tersebut.
"Ini sebagai wujud menghargai tradisi para leluhur. Tradisinya sangat baik sekali sebagai wujud saling berbagi dan dan silaturahmi karena berbaginya dengan keliling di masing-masing rumah," kata Bupati Tika.
Daya Tarik Wisata
Menurutnya, tradisi weh-wehan ini merupakan tradisi yang unik dan harus terus dilestarikan karena menjadi salah satu potensi daya tarik wisata di Kaliwungu.
"Ini kedepannya bisa ditingkatkan, karena inu bisa jadi potensi unggulan untuk daya tarik wisata," imbuhnya.
Baca juga: Musorprov KONI Jateng 23-25 Oktober 2025, Ini Persyaratan Jadi Ketua Umum
Kepala Desa Krajan Kulon, Abdul Latif menerangkan, tradisi weh-wehan ini merupakan tradisi dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
"Orang tua dulu memberikan edukasi kepada kita untuk saling bersedekah, saling memberi, saling berbagi terutama dengan tetangga," terangnya.
Tidak hanya hidangan pada umumnya, dalam tradisi weh-wehan ini juga ada sejumlah makanan khas bernama sumpil yang terbuat dari bahan dasar beras yang diolah mirip dengan ketupat dan dibungkus dengan daun bambu dan disajikan dengan sambal dari parutan kelapa.
"Ada juga jajanan ketan warna-warni yang diberi nten-nten. Ini melambangkan kemakmuran. Intinya kita saling berbagi dengan tetangga," tandasnya.(Anik)