LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Di tengah denyut Kota Bandarlampung yang terus bergerak menuju wajah metropolitan, masih ada ruang-ruang yang setia menjaga denyut tradisi. Di Rumah Adat Lamban Mandawasa Penyimbang Paksi Kebandaran Marga Balak, Kecamatan Telukbetung Barat, Rabu (22/7/2026), semangat kebangsaan dan adat bertemu dalam satu ikatan silaturahmi.
Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Lampung yang dipimpin H. Darussalam, SH, MH berkunjung ke tiga marga adat Lampung Saibatin. Pertemuan itu bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan upaya menjahit kembali benang-benang kebangsaan dengan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Rombongan FPK yang terdiri dari Ketua H. Darussalam, SH, MH, Bendahara Dr. Donald Harris Sihotang, SE, MM, dan Wakil Ketua M. Idris disambut hangat oleh tiga saibatin atau pemuka adat, yakni M. Yusuf Ardiansyah, S.Kom bergelar Gusti Pangikhan Igama Khatu dari Marga Balak Telukbetung, M. Nasir bergelar Kekhiya Sampurna Jaya dari Marga Bumiwaras, serta Zainabun Tanunjaya bergelar Dalom Bandakh Marga dari Marga Lunik.
Suasana kekeluargaan terasa sejak awal pertemuan. Sambutan adat diawali dengan pantun yang mengundang kegembiraan seluruh hadirin dari Sekretaris Ikatan Keluarga Besar Sai Batin Marga Telukbetung Lampung (IKLAT Sai Balung), H. Andi Rifai, SE gelar Pengikhan Wira Jaya Negara.
Keluarga Garuntang tidak jauh dari Kuripan, di sekitarnya berdiri bangunan berhias batu pualam.
Kita dukung Bang Haji Darussalam mengemban amanah dari Rahmat Mirzani Djausal, Gubernur Lampung.
Pantun itu menjadi simbol penerimaan sekaligus doa agar ikhtiar menjaga persatuan terus bersemi di Bumi Ruwa Jurai. Darussalam mengaku terharu dapat bersilaturahmi langsung dengan masyarakat adat Saibatin.
Pemandangan sederhana namun sarat makna tampak begitu jelas. Pengurus FPK hadir mengenakan seragam kebesaran organisasi, sementara para saibatin dan masyarakat adat tampil dengan penutup kepala khas Lampung Saibatin, seakan memperlihatkan bahwa kebangsaan dan adat bukanlah dua kutub yang saling berjauhan, melainkan saling menguatkan.
Darussalam saat berbalas pantun didampingi . Yusuf Ardiansyah, S.Kom bergelar Gusti Pangikhan Igama Khatu dan Bendahara FPK Lampung Dr. Donald Harris Sihotang, SE, MM, da
Sepanjang pertemuan, percakapan kerap menggunakan bahasa Lampung. Bahasa ibu itu masih hidup dalam keseharian masyarakat, digunakan dalam kehidupan keluarga, perayaan hari-hari besar Islam, prosesi perkawinan, hingga berbagai upacara adat lainnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat tiga marga tersebut tetap teguh menjaga identitasnya. Tradisi yang telah diwariskan ratusan tahun tidak sekadar dipelihara sebagai warisan budaya, tetapi dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan.
Komitmen itu semakin diperkuat dengan lahirnya Ikatan Keluarga Besar Sai Batin Marga Telukbetung Lampung (IKLAT Sai Balung) yang telah memperoleh pengesahan melalui Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-0003998.AH.01.07 Tahun 2026. Organisasi ini menjadi wadah pemersatu tiga marga dalam menjaga persaudaraan, adat, dan budaya Lampung Saibatin.
Kekhiya Sampurna Jaya menyambut gembira kunjungan FPK Lampung yang dinilainya sebagai bentuk perhatian terhadap masyarakat adat. "Alhamdulillah, dengan kekompakan dan rasa memiliki, masyarakat adat kami tetap guyub, solid, dan terus menjaga tradisi yang diwariskan para leluhur," ujarnya.
Baca juga: Iyay Mirza dalam Irisan Adat, Algoritma, Karakter, dan Marwah Lampung
Baca juga: Rumah Lampung Nanindah di Negeri Olok Gading, Bandarlampung
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Menurutnya, baru kali ini masyarakat adat merasakan perhatian nyata dari seorang kepala daerah, hingga wilayah marga mereka ditetapkan sebagai Desa Budaya. Gubernur Mirza berkunjung ke desa adat ini bersama Wali Kota Eva Dwiana pada 25 Juni 2026.
Gubernur Mirza merencanakan revitalisasi kawasan tersebut untuk menghidupkan kembali tradisi yang akan memperkuat identitas Lampung sekaligus daya tarik kunjungan wisata yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
Senada dengan itu, Gusti Pangeran Igama Ratu yang dipercaya memimpin IKLAT Sai Balung mengatakan, berbagai tradisi masih dijalankan secara utuh. Penggunaan adok atau gelar adat tetap dipertahankan, begitu pula tata cara dalam prosesi perkawinan, kegiatan bujang-gadis, hingga berbagai ritual adat lainnya.
Meski demikian, ia menyadari tantangan pelestarian budaya akan semakin besar seiring perubahan gaya hidup dan perkembangan zaman. Namun ia optimistis, dengan dukungan pemerintah daerah dan kehadiran FPK Lampung, nilai-nilai adat akan tetap tumbuh dan menjadi penyangga kehidupan masyarakat.
Silaturahmi itu pun berakhir bukan sekadar makan siang lesehan besama, jabat tangan dan foto bersama. Ia meninggalkan pesan bahwa adat dan kebangsaan sesungguhnya berjalan beriringan. Sebab ketika akar budaya tetap terjaga, pohon persatuan akan terus tumbuh kokoh, menaungi generasi Lampung hari ini dan masa depan. (HBM)