✕

Tanpa Dukungan Pemda, Tubaba Art Festival Tetap Digelar, Panitia Buka Crowdfunding

Minggu, 4 Oktober 2026 18:39
Tubaba Art Festival (TAF) 2026 HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM–
Tubaba Art Festival (TAF) 2026 kembali mengalami penundaan. Festival seni dan budaya yang menjadi salah satu agenda kebanggaan masyarakat Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, itu kini dijadwalkan berlangsung pada 7 November 2026.

Penundaan tersebut menjadi yang kedua kalinya setelah sebelumnya TAF 2026 direncanakan digelar pada 7–8 Agustus 2026, kemudian diundur menjadi 30–31 Oktober 2026 karena kendala pembiayaan.

Direktur Sekolah Seni Tubaba, Semi Ikra Anggara, mengatakan keputusan kembali menunda pelaksanaan festival diambil dengan berat hati. Selain mengubah jadwal, panitia juga mengubah format penyelenggaraan dari dua hari menjadi festival sehari penuh atau one day festival.

“Dengan berat hati panitia Tubaba Art Festival mengumumkan penundaan penyelenggaraan TAF 2026 untuk kedua kalinya,” kata Semi dalam siaran persnya.

Menurut dia, penundaan dilakukan agar seluruh rangkaian festival bertema “Tatapan Baru/Tindakan Baru” dapat dipersiapkan secara lebih optimal.

Panitia, kata Semi, memanfaatkan waktu yang tersedia untuk memperkuat tata kelola festival, mematangkan kuratorial hingga mempersiapkan produksi karya seni bersama anak-anak Tubaba yang telah menjalani latihan sejak April 2026.

“Panitia berkomitmen menjaga kualitas agar festival tetap menjadi ruang kebudayaan yang bermakna dan inklusif,” ujarnya.

Di tengah persoalan pembiayaan, Sekolah Seni Tubaba selaku lembaga penyelenggara memastikan TAF 2026 tetap akan digelar meski tidak mendapatkan dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Sekolah Seni Tubaba yang berada di bawah Yayasan Pendidikan Seni dan Ekologi memilih membuka mekanisme pendanaan publik secara terbuka atau crowdfunding untuk memastikan festival tetap berlangsung.

“TAF tidak mendapatkan dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang Barat. Namun, Sekolah Seni Tubaba sebagai lembaga penyelenggara berkomitmen tetap melaksanakan festival melalui mekanisme pendanaan publik secara terbuka,” kata Semi.

Panitia meyakini keberadaan TAF tidak sekedar menjadi agenda pertunjukan seni. Festival tersebut diposisikan sebagai ruang pertemuan berbagai bidang, mulai dari pedagogi seni, arsitektur kota, ekologi, ekonomi kreatif, pariwisata hingga kebudayaan secara lebih luas.

TAF juga memiliki rekam jejak nasional. Selama empat tahun berturut-turut, festival tersebut terpilih dalam Karisma Event Nusantara (KEN), sebuah platform Kementerian Pariwisata Republik Indonesia yang menjadi wadah bagi berbagai festival dan kegiatan terbaik di Indonesia.

Capaian tersebut menjadi salah satu alasan panitia tetap berupaya mempertahankan penyelenggaraan TAF di tengah keterbatasan pembiayaan.

Panitia berharap dukungan masyarakat tidak hanya datang dari Tubaba dan Lampung, tetapi juga dari masyarakat di berbagai daerah di Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan ekosistem seni dan kebudayaan.

Melalui siaran pers tersebut, panitia mengajak masyarakat untuk ikut menjadi bagian dari penyelenggaraan TAF 2026 melalui gerakan “Sahabat Tubaba/Semua Penonton adalah Sponsor”.

Dukungan publik dapat diakses melalui laman Instagram Sekolah Seni Tubaba dan Tubaba Art Festival.

“Panitia mengajak masyarakat di seluruh Indonesia untuk berkontribusi memberikan dukungan agar salah satu festival budaya terbaik di Indonesia ini bisa terselenggara sesuai rencana,” ujar Semi.

Dengan perubahan jadwal dan format tersebut, TAF 2026 kini tidak hanya menjadi pertaruhan sebuah agenda festival, tetapi juga menjadi ujian bagi sejauh mana masyarakat dapat bergotong royong mempertahankan ruang kebudayaan ketika dukungan pemerintah daerah tidak tersedia.

(Rohman)

Berita Terkini