HELOINDONESIA.COM -Pada tanggal 11, tim bola voli wanita Heungkuk Life Insurance Pink Spiders kalah dalam pertandingan putaran ke-4 "V-League Dodram 2024-2025" melawan Korea Expressway Corporation Hi Pass dengan skor set 2-3.
Setelah sebelumnya juga kalah dalam pertandingan penuh lima set melawan GS Caltex ini menjadi kekalahan kedua berturut-turut bagi Pink Spiders di paruh kedua musim ini, menempatkan tim dalam situasi sulit
Meski begitu, Pink Sliders tetap memimpin klasemen dengan 45 poin setelah pesaing terdekat mereka, Hyundai Engineering & Construction, kalah 1-3 dari Pepper Savings Bank AI Pappers pada tanggal 12 dan gagal menambah poin.
Lho lho lho
Baca juga: Ciri Orang yang Diduga Melakukan Ritual Pesugihan
Hyundai kini berada di posisi kedua dengan 43 poin, dan malah terancam oleh Jung Kwanjang Red Sparks yang kini selisihnya 7 poin dan satu kemenangan (Klasemen V League menekankan pada jumlah kemenangan dibandingkan jumlah poin). Red Sparks bahkan disebut Knetizen punya mantra kutukan kepada Pink Spiders, sebab setelah 14 kemenangan beruntun Pink Spiders dihentikan Red Sparks, seolah hal ini menjadi jalan tol bagi tim lainnya untuk mengalahkan Pink Spiders.
Namun, kekalahan beruntun bagi Pink Spiders tetap menjadi tantangan besar. Setelah pertandingan, pelatih Heungkuk Life Insurance, Abondanza, mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap perlakuan yang dianggap tidak adil dari wasit. Abodanza menuduh Orang Korea diskriminasi
Dalam pertandingan tersebut, Abondanza mendapat kartu kuning pada set pertama karena protes kerasnya. Insiden ini terjadi ketika Korea Expressway Corporation memimpin 22-20.
Saat itu, serangan pemain Pink Spiders Jeon Sae-yan, berhasil diblok oleh Matejko dan menghasilkan poin untuk tim Pink Spiders.Namun, pelatih Hi Pass, Kim Jong-min, meminta tinjauan video terkait pelanggaran antena.
Keren sekali
Baca juga: Luar Negeri Memasukkan Prabowo Subianto Sebagai Pemimpin Berpengaruh di Dunia
Hasil tinjauan menunjukkan bahwa bola yang diblok Matejko mengenai antena sebelum jatuh ke lantai, sehingga poin diberikan kepada Hi Pass. Abondanza kemudian meminta tinjauan tambahan terkait kemungkinan bola menyentuh tubuh pemain lawan, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa bola tidak menyentuh Jeon Sae-yan.
Akibatnya, wasit utama memberikan kartu kuning kepada Abondanza karena dianggap memperlambat jalannya pertandingan.
Setelah pertandingan, Abondanza mengeluhkan perlakuan berbeda yang ia terima dibandingkan pelatih lain. Ia mengatakan, "Saya lelah diperlakukan berbeda. Setiap kali saya meminta sesuatu, selalu ditolak." katanya
"Hal yang sama terjadi saat saya meminta tinjauan video hari ini." Ketika ia meminta tinjauan tambahan selama pertandingan, asisten wasit awalnya mengatakan "tidak," tetapi kemudian wasit utama menerima permintaan tersebut." ujar Abodanza kebingungan.
Selain kebingungan juga muncul ketidakpuasan di pihak Abondanza.Abondanza juga menyoroti bahwa ia merasa tidak diperlakukan setara sepanjang musim ini.
Ia menambahkan bahwa ekspresi emosionalnya yang besar adalah karakteristik budaya Italia yang seharusnya dihormati. "Saya menghormati budaya Korea," katanya, namun ia menegaskan bahwa ia merasa diperlakukan tidak adil.
"Hal ini membuat saya stress. dan mempengaruhi semua orang (tim)" ungkapan hati yang terdalam dari Abondanza
Musim ini, V-League yang semakin multikultural dengan kehadiran pelatih asing, dan pemain internasional, termasuk kuota Asia, yang lantas berpotensi terjadi berbagai konflik.
Selain perselisihan antar pelatih dan pemain, tuduhan diskriminasi terhadap pelatih asing seperti yang disampaikan oleh Abondanza kini menjadi sorotan baru dalam liga tersebut.***
