Obituari Ali Khamenei, Pulangnya Cahaya Republik Islam Iran

Minggu, 1 Maret 2026 15:26
Khamenei HELO LAMPUNG

Oleh Majid Lintang
Jurnalis Senior

LANGIT Teheran menunduk kelabu. Bukan sekadar warna, kelabu suasana jiwa ketika kabar duka itu mengalir dari mimbar-mimbar negara: Ayatollah Sayyed Ali Hossein Khamenei telah berpulang. Pada usia 86 tahun, ia meninggalkan dunia akibat serangan negara yang jadi musuh utamanya: Amerika Serikat dan Israel. 

Negeri itu memilih berdiam selama empat puluh hari. Sebuah angka yang dalam tradisi Islam dan sejarah Persia bukan hanya masa berkabung, melainkan waktu untuk mengingat. Empat puluh hari bagi air mata, bagi doa, bagi tafakur tentang hidup yang fana dan kekuasaan yang tak pernah abadi. Seakan Iran ingin berkata: ada kepergian yang tak bisa dilewati dengan tergesa.

Ayatollah Sayyed Ali Hossein Khamen

Khamenei lahir pada 1939 di Mashhad, kota yang napasnya penuh doa. Dari rahim keluarga ulama, ia tumbuh dalam disiplin ilmu dan sunyi ibadah. Sejak belia, ia diajari bahwa iman bukan sekadar bacaan, melainkan sikap—bahwa Islam bukan hanya tentang sujud, tetapi juga tentang keberpihakan. Dari madrasah ke majelis taklim, ia belajar satu keyakinan: bahwa agama harus hadir di tengah luka umat.

Ketika sejarah mulai bergetar dan monarki kehilangan pijakan, ia melangkah bersama arus besar revolusi. Di bawah cahaya ajaran Ruhollah Khomeini, ia menyerap api perlawanan—bahwa melawan kezaliman adalah bagian dari iman, dan bahwa kekuasaan, jika tak dijaga nilai ilahi, akan menjadi berhala baru.

Tahun 1979 datang seperti gelombang. Takhta lama runtuh, republik ditegakkan atas nama Tuhan. Dalam pusaran itu, Khamenei meniti jalan: dari mimbar ke istana, dari khatib yang bergetar suaranya hingga Presiden Iran. Bagi dirinya, politik adalah ladang ujian—tempat iman diuji oleh godaan kuasa, dan amanah ditimbang oleh sejarah.

Ketika Khomeini wafat, kesunyian kembali turun. Pada 1989, Majelis Ahli menunjuknya sebagai Pemimpin Tertinggi. Ia bukan yang paling sepuh, bukan pula yang paling termasyhur. Namun takdir memilihnya. Konstitusi menyesuaikan, legitimasi ditegakkan, dan sejak itu, ia menjadi poros: tempat berputarnya agama, negara, dan senjata. Dalam hatinya, barangkali terpatri satu keyakinan: bahwa revolusi adalah amanah yang tak boleh jatuh di tangan waktu.

Tiga puluh enam tahun lamanya ia bertahan di puncak. Kekuasaan dirajutnya dengan ketelitian dan kewaspadaan. Garda Revolusi diperkuat, negara dijaga dalam disiplin besi. Di dalam negeri, perubahan disikapi dengan curiga. Kritik dipagari, suara dibatasi. Barangkali ia percaya: bahwa perpecahan lebih berbahaya daripada kekakuan; bahwa menjaga fondasi lebih penting daripada membuka jendela.

Di luar negeri, sikapnya menjulang keras. Amerika Serikat dan Israel disebutnya sebagai bayang-bayang penindasan. Iran ia dorong untuk berdiri tegak, menjalin poros perlawanan dari Lebanon hingga Yaman. Dalam pandangannya, itu bukan sekadar geopolitik, melainkan panggilan sejarah: membela yang tertindas, menantang yang berkuasa.

Bagi para pengikutnya, ia adalah penjaga benteng terakhir revolusi—suara yang tak tunduk pada tekanan dunia. Bagi para penentangnya, ia adalah simbol kekuasaan yang membatu—keteguhan yang kehilangan kelenturan. Seperti semua pemimpin besar, namanya hidup di antara doa dan tudingan, antara pujian dan luka.
Kini, ia telah pergi.

Di saat kawasan masih bergejolak, Iran berdiri di persimpangan takdir. Transisi dimulai, waktu kembali bergerak, dan dunia menunggu: ke mana arah republik setelah bayang-bayang panjang itu menghilang.

Dalam Islam, kematian adalah pengingat paling jujur. Bahwa jabatan setinggi apa pun akan berakhir pada kain kafan. Bahwa kekuasaan, betapapun digenggam erat, akan terlepas di hadapan Yang Maha Kekal. Yang tersisa hanyalah niat, amal, dan jejak dalam ingatan umat.

Ali Khamenei meninggalkan dunia sebagai ulama yang menjelma negarawan, sebagai manusia yang memikul iman dan kuasa sekaligus. Di antara gema azan dan dentum geopolitik, namanya kini menjadi bagian dari riwayat zaman—sementara Iran, seperti setiap makhluk hidup, harus melanjutkan perjalanannya sendiri.

Dan langit Teheran, perlahan, belajar kembali menerima cahaya. Takbir! 

Majid Lintang

Berita Terkini