Helo Indonesia

Bincang Santai Menuju Sukses Bersama 2 Wartawan Senior Sambil Ngopi di Resto Tepi Kali

M. Haikal - Ragam -> Traveling
Kamis, 21 November 2024 14:53
    Bagikan  
Resto Tepi Kali
Foto: Heloindonesia

Resto Tepi Kali - Dua orang sukses, Ketua Umum Hendry Ch Bangun (berkemeja putih) dan Agi Sugianto, pengusaha sukses pemilik Resto Tepi Kali (berkaos hitam).

AWAN hitam menggelanyut tebal di angkasa Resto Tepi Kali Kampung Cisusukan, Desa Kompa, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Tapi hujan tak turun jua. Suasana adem, sejuk dan damai membuat siapa pun ingin berlama-lama di tempat ini.

Gemericik air tepian kali Lido menambah suasana hati menjadi lebih tenang untuk bersantai, bersenda gurau dan berbincang menyambut luasnya jendela dunia yang penuh rahasia.

Resto Tepi Kali Kampung Cisusukan, Desa Kompa, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.

Resto Tepi Kali memang sangat menarik untuk dikunjungi. Selain mudah dijangkau melalui akses tol Bocimi dari ibu kota Jakarta, resto ini bisa menjadi tempat untuk melepas penat setelah padatnya aktivitas pekerjaan dalam sepekan.

Kalau nggak macet, dari Jakarta bisa ditempuh hanya satu jam via Tol Jagorawi, disambung lagi masuk Tol Bocimi (Bogor, Ciawi, Sukabumi). Kemudian keluar pintu tol Cibadak. Lalu ambil jalur kanan. Kalau ke kiri ke arah Kota Sukabumi atau Pelabuhan Ratu. Kemudian sekitar dua kiloan akan sampai ke jalan kecil menuju resto milik salah satu pengurus PWI Pusat ini.

Baca juga: Daftar 22 Pemain Timnas Indonesia yang Dipanggil Coach STY untuk Piala AFF 2024

Dari jalan raya akses menuju Resto Tepi Kali memang cukup sempit. Hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat. Namun pengalaman dari warga di sana, untuk sampai ke Resto Tepi Kali tak sulit dan tak membuat macet jalanan kecil sejauh 200 meteran tersebut.

Sebab, para pengendara mobil milik orang pribumi situ maupun pendatang yang ingin ke Resto Tepi Kali sama-sama saling memaklumi jalur sempit tersebut. Salah satu kendaraan akan mengalah dan memberi jalan kepada pengendara mobil lain, baik yang akan masuk atau keluar dari Kampung Cisusukan.

Resto Tepi Kali Kampung Cisusukan, Desa Kompa, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.

Begitu sampai di Resto Tepi Kali, Anda jangan kaget, bukan suasana bangunan adat Sunda yang didapat. Justru yang terlihat joglo-joglo dengan ornamen khas perkampungan Jawa.

Meski demikian, ada juga sedikit bangunan berwarna adat Sunda. Di antaranya saung-saung yang berdiri di tepian Kali Lido.

Yang membuat suasana adem, resto ini sangat rindang oleh beragam tanaman. Baik pohon buah-buahan, seperti pohon nangka atau durian Musang King dan banyak jenis pohon buah-buahan lainnya.

Baca juga: Viral ! Mahasiswi Semarang Dipegang Dada dan Dicium Manajer Saat Magang di Perusahaan BUMN

Meski mengadopsi bangunan ala Jawa, namun di lokasi seluas dua hektaran ini kuliner yang ditawarkan justru didominasi masakan khas Sunda.

Sebut saja nasi liwet, sambel terasi goreng, sambel mentah, ikan mas, tempe, tahu, goreng, gabus asin dan lalap-lalapan.

Meski demikian, sang owner, Agi Sugianto menegaskan bahwa resto yang dibuat itu memang diciptakan dengan suasana asri pedesaan yang nyaman dengan suara aliran sungai.

Kuliner yang disajikan pun memang sengaja masakan tradisional atau makanan rumahan yang jarang didapati oleh mereka yang tinggal di kota-kota besar.

Resto Tepi Kali Kampung Cisusukan, Desa Kompa, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.

Selain masakan khas tradisional, pemilik 24 akun Youtube ini juga menawarkan racikan kopi khas berbagai daerah.

Baca juga: Prediksi Susunan Pemain Madura United vs Arema FC di Pekan 11 BRI Liga 1 2024-2025

Mengambil konsep Dapur Emak, Agi mengatakan, restonya menyajikan ingkung, perpaduan antara Jawa dan Sunda. Kemudian ada istilah menu botram, kopi jadul, Kopi Robusta yang direbus ala Kopi Klotok dan juga kopi Arabika yang disajikan tubruk.

Agi benar-benar berusaha untuk menyajikan kepada para pengunjung suasana nyaman, makan enak dan ngopi nikmat sambil ditemani gemericik aliran kali Lido yang membuat hati menjadi tentram.

Tips Sukses

Di sebuah saung yang diberi label Barito pada sebuah kayu yang digantung, dua orang sukses asyik berbincang. Satu sukses menjadi Ketua Umum PWI Pusat, yakni Hendry Ch Bangun dan satu seorang pengusaha entertainment, Agi Sugianto, sang owner Resto Tepi Kali.

“Saya sengaja membuat konsep buat warga ibu kota yang ingin melepas rasa kangen suasana pedesaaan. Tak hanya suasananya saja. Tapi juga masakan dengan citarasa tradisional,” jelas Agi kepada Hendry Ch Bangun.

Resto Tepi Kali Kampung Cisusukan, Desa Kompa, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.

Meski dalam beberapa puluh tahun silam, keduanya adalah bawahan dan atasan di Harian Warta Kota, salah satu media cetak di bawah naungan Kompas Grup, namun tak ada sekat di antara mereka untuk ngobrol lepas.

Baca juga: Prediksi Susunan Pemain Madura United vs Arema FC di Pekan 11 BRI Liga 1 2024-2025

Agi juga menceritakan kesuksesannya bukan berjalan dengan mulus. Rintangan, jatuh bangun ia alami. Bahkan suasana pahit terpojok oleh fitnah dan didzalimi banyak orang pun sempat ia alami, hingga usahanya juga terganggu dan terancam terpuruk.

“Seperti Bang Hendry saat ini, terus menerus didzalimi banyak orang, bahkan sampai terpojok pun justru nanti akan naik kelas. Bahkan akan mendapatkan tempat yang lebih tinggi,” ucap Agi mendoakan Ketua Umum PWI Pusat itu.

Ya, di tahun 2000-an nama Agi Sugianto cukup dikenal di antara para wartawan. Bahkan wartawan yang berasal dari “koran-koran kuning” paling sering berinteraksi dengan Agi kalau urusan iklan-iklan pengobatan tradisional.

“Waktu itu kan jaman Mak Erot, sampai saya bawa anak-anak dan cucunya dari Pelabuhan Ratu ke Jakarta, hingga membuat Mak Erot booming. Kantor nggak tau kalau saya punya sampingan. Karena kalau pasang iklan kan ke koran-koran kuning, kalau Warta Kota kan koran putih, hehe…” tutur Agi sambil tertawa dan membuat Hendry Ch Bangun tersenyum lebar.

Baca juga: Berikut Beberapa Kode Redeem Mobile Legends hari ini, Kamis 21 November 2024

Namun, menurut Agi, ia hanya beberapa bulan saja mengelola anak-anaknya Mak Erot yang spesialis membesarkan alat vital tersebut. Lantaran nggak cocok dangan situasi yang ia rasakan, lalu mendatangkan H Suhendar dari Tasikmalaya.

"Bahkan, saya sempat mempertemukan H Suhendar yang juga spesialis pengobatan alat vital dengan dokter Wimpy debat di Trans TV. Salah satu kalimat yang diingat dan membuat booming adalah Ketika H Suhendar mengatakan "kalau pengobatannya tidak terbukti usahanya akan tutup selamanya"," ujar Agi buka-bukaan.

Nah, ternyata pernyataan itu membuat berkah baginya. "Bayangkan,dalam 24 jam bisa menghasilkan Rp 50 juta di tahun 2000an itu," kata Agi. 

Lagi-lagi membuat Hendry Ch Bangun geleng-geleng lantaran tak menyangka anak buahnya dulu bisa sukses mempromosikan orang-orang dari daerah ke kota untuk sebuah praktik pengobatan tradisional.

Media Sosial

Dalam sepuluh tahun belakangan, Agi tetap konsisten dan konsern dalam dunia entertaiment. Terutama media sosial, yakni Youtube, Instagram dan TikTok. Saat ini dia memiliki 24 akun YouTube yang didominasi tema-tema musik yang digemari masyarakat.

Baca juga: Berikut 6 Kode Redeem Game Free Fire hari ini, Kamis 21 November 2024

“Intinya harus fokus, konsisten dan sabar ketika membuat konten-konten di media sosial hingga algoritmanya dapat. Sehingga subscriber bertambah dan viewer jutaan,” ujar Agi memberikan kisi-kisi untuk sukses bermedia sosial.

Dia pun sedikit membuka rahasia kalau satu akun Youtube miliknya bisa menghasilkan minimal Rp 200 juta perbulan, bahkan miliaran.

Bagi pria yang juga membuat sukses para artis dan penyanyi semacam Trio Macan, Dara Ayu, Maulana Ardiansyah ini dunia entertainment bukan barang baru.

Dulu selain sebagai wartawan di Harian Warta Kota, Agi juga banyak berhubungan dengan para artis. Dan hingga kini dia pun banyak mengelola artis dan penyanyi tak terkenal hingga namanya menjadi tenar.

Baca juga: Ini Nama IG 5 Pemeran Wanita di Game Five Hearts Under One Roof yang Sedang Viral

“Sekarang jamannya dunia digital ya. Siapa pun bisa menjadi konten kreator dan mengembangkan bisnis ini dengan mudah. Saya sendiri paling tidak sehari mengupload konten minimal sepuluh ke media sosial,” ungkap Agi.

Bahkan, dalam berbisnis pun dia berani berspekulasi dengan membeli lagu-lagu ciptaan orang lain, kemudian dimodifikasi sedemikian rupa sehingga lagunya bisa viral dan menghasilkan banyak cuan.

“Sekarang banyak kok celah untuk mendapatkan uang dari media sosial. Dalam sebulan saya bisa membeli 100-an lagu ciptaan orang yang lama-lama dan asing didengar di telinga. Tapi begitu saya pegang, justru lagunya menjadi viral,” paparnya.

Awalnya, Agi ogah buka rahasia berapa harga lagu yang dia beli dari para penciptanya. Namun akhirnya ia pun buka suara kalau satu lagu bisa dibelinya hingga mencapai Rp 10 juta.

Baca juga: DPRD Tubaba Rapat Paripurna Penandatanganan KUA-PPAS TA 2025

“Belum termasuk bayar aransemen dan lain-lain ya. Dari 100 lagu, ya paling tidak ada lima atau 10 lagu yang menjadi viral dan menghasilkan cuan. Lagu-lagu yang kurang diminati ya disubsidi dengan lagu yang viral atau bulan depan biasanya juga viral setelah dimodifikasi lagi,” uangkap pemilik akun instagram dengan follower ratusan ribu ini.

Tak terasa, satu jam berlalu, Agi mungungkapkan sedikit rahasia kesuksesannya sebagai wartawan sekaligus pengusaha entertainmen dan pengalaman jatuh dan bangunnya hingga kini menjadi bisa membangun usaha kuliner dan hiburan.

Rintik hujan mulai turun. Makin lama mulai deras. Obrolan pun terhenti. Dan kami pun beranjak setengah berlari ke joglo besar untuk ngopi tubruk dan makan cemilan-cemilan yang tersaji.

“Obrolan kita lanjut lagi nanti ya, pas panen durian Musang King dua bulan lagi,” cetus Agi.