BATANG, HELOINDONESIA.COM - Desa Silurah di Kecamatan Wonotunggal telah lama menjadi episentrum seni budaya di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ada jejak peradaban kuno di sini. Apalagi dengan keberadaan tradisi Nyadran Gunung Silurah yang kini diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Kementerian Kebudayaan.
Potensi itulah yang ditangkap Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ganesha Desa Silurah untuk mengembangkan Silurah sebagai desa wisata budaya yang lebih menggaung. Berbagai inovasi terus digeber pokdarwis, salah satunya dengan menyediakan paket wisata yang dikemas dalam Kemah Budaya.
Baca juga: Tradisi Nyadran Gunung Silurah, Penghormatan Warga kepada Leluhur dan Alam
Menurut Ketua Pokdarwis Ganesha Budi Cahyono, kemah budaya merupakah kegiatan yang digelar di Taman Budaya Silurah, yang isinya menikmati berbagai pertunjukan seni, lokakarya kreatif, dan diskusi bersama komunitas pecinta budaya.
''Ada tiga paket kemah budaya yang kami tawarkan kepada wisatawan, yaiti Paket 3 Hari 3 Malam, Paket 2 Hari 2 Malam, dan Paket 1 Hari 1 Malam dengan biaya mulai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per orang,'' kata Budi saat dihubungi Heloindonesia.com, Sabtu 23 November 2024.
Selama mengikuti kemah, kata dia, para peserta mendapatkan makan, menginap di tenda, welcome drink, pemandu lokal, pertunjukan seni, jajan kampung, mengikuti sarasehan, dan koin kayu untuk membeli barang.
Dijelaskan dia, kemah budaya adalah sarana untuk memudahkan bagi kalangan umum, siswa, dan mahasiswa untuk mengikuti acara ''Nyadran Gunung Silurah 2024'' yang bakal digelar 28-30 November mendatang.
''Melalui kemah budaya ini, pengunjung akan dibawa menyatu dengan atmosfer alam gunung,dan terlibat dalam event budaya secara langsung,'' tambahnya.

Menurut Budi, nyadran gunung masih menjadi magnet bagi wisatawan yang berkunjung ke Batang. Pasalnya, event ini sangat ikonik karena bukan hanya ritual, namun secara otomatis pengunjung akan mengenal langsung kekhasan dari Desa Silurah mulai seni pertunjukan, budaya, hingga kuliner kuno. Karena ada unsur kesakralan, meskipun ada Pilkada 2024, kegiatan ronggeng dan wayang kulit tetap dilaksanakan.
''Kopi, teh ,gones, sego jagung masih terus dilestarikan dan terus dipertahankan di setiap RT di desa ini,'' tambah dia sambil menyebut pembungkus jajanan kuno Silurah tak berbungkus plastik.
Nyadran Gunung Silurah adalah tradisi menyembelih hewan berupa kambit kendit untuk disajikan ke pepunden di Gunung Rogo Kusumo yang diiringi gendhing-gendhing Jawa. Tapi setiap tujuh tahun, kambing kendit diganti kebo bule. Pada tahun 2024 ini, hewan yang dipotong adalah kebo bule.
''Tahun ini kami juga berkolaborasi dengan Batang Heritage dan Dewan Kesenian Kabupaten Batang. Jadi Nyadran Gunung akan lebih bervariasi dan banyak mengenalkan sejarah, dan seni budaya. Kali ini kami juga melibatkan siswa SD/MI, SMP dan ada tari baru yang diciptakan dewan kesenian,'' tambahnya.
Peradaban Kuno
Wisatawan yang datang ke Desa Silurah memang akan menjumpai jejak peradaban kuno yang ditinggalkan para leluhur. Di sini terdapat patung atau arca ganesha, ataupun punden berundak. Warisan budaya itulah yang merupakan ikon Silurah.
Baca juga: Sigembok Hill Top, Wisata Alam di Batang yang Berselimut Kebun Teh dan Perbukitan
Ada sederet versi terkait dengan keberadaan patung ganesha di desa ini. Versi pertama asal-usul Desa Silurah yaitu adanya Kerajaan Mahasin sebagian beragama Hindu Siwa terletak lokasi Sungai Loji, Pekalongan. Sedang melakukan misi menyebarkan ilmu dan pengetahuan sampai akhirnya di daerah Hutan Silurah.
Hutan Silurah berada antara di daerah Sungai Sumilir dan Sungai Rogno perbatasan Kabupaten Batang dan Kabupaten Pekalongan. Petualangan pegawai Kerajaan Mahasin yang panjang berakhir setelah menemukan lokasi di daerah oleh masyarakat Jawa kuno menyebut dengan Lurah atau lembah. Di sana juga membangun patung ganesha.
Ada yang mengisahkan Desa Silurah berdasar pada jejak peninggalan sejarah Wangsa Syailendra pada era sebelum Hindu Bunda. Benda-benda yang ada di sana berupa punden berundak dan patung ganesha.
Menurut Budi Cahyono, selain menyusuri jejak sejarag, wisatawan yang singgah di Desa Silurah bisa mendapati Curug Kalirogno yang menawarkan penorama alam yang memesona.
Sementara itu, dihubungi terpisah, Kades Silurah Suroto menyampaikan apresiasi Pokdarwis Ganesha yang mengemas acara Nyadran Sigunung sebagai trigger untuk mendatangkan wisatawan. Bahkan, saat ini terkonfirmasi ada sekitar 20 wisatawan Papua dan beberapa dari Bandung yang akan berkunjung ke Silurah untuk menyaksikan ritual nyadran gunung. (Aji)
