LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Pak Atmo dengan santai mengendalikan perahu klotoknya bersama Helo Indonesia membelah ombak tipis menuju Pulau Permata di Teluk Lampung, Kota Bandarlampung, Sabtu (31/5/2025).
Sampai di pulau tersebut, pasir putih yang luas begitu indah dan masih alami. Tak disangka, Tuhan menjatuhkan sedikit surga di Teluk Lampung. Sungguh, muncul rasa bangka kota ini punya pulau bak permata.

Dengan ongkos Rp30 ribu pulang-pergi dari TPI Lempasing, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Telukberung Barat, Pak.Atmo dan kawan-kawan siaga mengantarkan wisatawan ke pulau tersebut.
Dulu, namanya seram: Pulau Kubur. Kini, pulau itu bernama sangat indah: Permata. Menurut Pak Atmo, Pulau Permata dulunya luas, namun berkurang akibat abrasi. Dia memperkirakan sekarang luasnya 5 hektaran.
Di pulau ini, titik akhir rencana pembuatan kereta gantung sekitar 4 km dari Rumah Dinas Wali Kota Bandarlampung untuk menambah destinasi spektakuler kotanya. Wali Kota Eva telah merencanakannya sejak periode pertama.

Soal rencana kereta gantung, Pak Atmo belum mendengar rencana akan dibangunnya destinasi wisata kereta gantung dari Rumah Dinas Wali Kota sampai ke Pulau Permata di Teluk Lampung. Investornya dari China.
Bulan Juli nanti, Wali Kota Eva bersama OPD terkait diundang untuk mendengarkan pemaparan grand design destinasi wisata kereta gantung pertama yang paling spektakuler di Indonesia.
Dia yakin destinasi ini akan menambah daya tarik wisata."Sekarang saja, Kota Bandarlampung telah menjadi tujuan wisata. Sangat disayangkan jika lahan luas dan berpemandangan bagus tidak dimanfaatkan," ujar Eva Dwiana.
Pak Atmo, warga RT 02 Sukajaya, Lempasing yang sudah 25 tahun menyewakan perahu kecil bagi para pemancing ini ikut mendukung rencana Wali Kota Eva Dwiana.
Dia berharap mendapatkan manfaatnya adanya kereta gantung nanti. Walau, diperkirakannya, akan ada pro dan kontra pembangunannya.
Dikisahkannya, Pulau dulunya milik Haji Zamhari. "Sekarang bukan miliknya lagi, infonya sudah milik orang lain," ujarnya saat Helo Indonesia meluncur bersama desah ombak dan deru mesin kapal. (Hajim)
-
