Catatan Perjalanan Darat, Hendry Ch Bangun

Selasa, 21 Juli 2026 17:00
Hendry CH Bangun. Foto: Heloindonesia

HELOINDONESIA.COM - Akhirnya kesampaian juga keinginan saya untuk melakukan perjalanan darat dari Yogyakarta ke Jakarta dengan bus berlantai ganda (double decker).

Di media sosial seperti Instagram, atau Tiktok, banyak cerita dan gambar enaknya naik bus mewah yang nyaman.

Bahkan ada yang super mewah, yang tiketnya melebihi tiket pesawat udara.

Saya sudah lama penasaran.
Sudah beberapa kali terakhir saya naik Kereta Api, karena lebih praktis ketimbang pesawat udara akibat “jauhnya” Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) dari kota.

Naik taksi bila jam sibuk, bisa dua jam, naik kereta bandara kapasitas terbatas sering penuh. Kalau naik kereta api, Stasiun Tugu atau Lempuyangan ada di tengah kota.

Dekat ke hotel bahkan bisa jalan kaki. Tetapi kalau bicara perjalanan, pemandangan naik roda besi ini monoton dan terbatas. Beda dengan bus bertingkat.

Saya mengambil kursi tunggal, di lantai atas, mata saya bebas melihat pemandangan di sisi kanan kiri, ketika memilih sisa kursi tersedia.

Dari 33 kursi, masih ada 8 yang kosong khususnya di lantai atas. Setelah berangkat saya ketahui, banyak orang berumur atau Perempuan setengah baya pilih lantai dasar mungkin karena menganggap lebih aman atau mau rehat sepanjang perjalanan.

Saya memilih waktu keberangkatan pagi agar bisa cuci mata sepuas-puasnya. Karena awam, maka saya pilih aplikasi untuk mencari tahu.

Setelah cek sana sini, akhirnya pilih bus yang bisa berhenti di tujuan akhir di Pondok Pinang, yang dekat naik taksi ke rumah. Saya juga memilih titik keberangkatan dari terminal yang dekat hotel. Ternyata Terminal Jombor itu naik Gocar hanya 5 menit dari tempat saya menginap.

Saya bersama teman Suwardi Thahir, yang juga hadir di Yogyakarta untuk HUT ke-3 Forum Pimred Multimedia sebagai pengurus pusat.

Ketua PWI Sulsel ini tertarik naik bus karena dia belum pernah menjelajah pulau Jawa dengan bus, ingin tahu bedanya dengan ketika dia naik bus dari Makassar ke Toraja.

Dia pun memiilih lantai atas, dan pinggir jendela sebelah kanan untuk memuaskan mata. “Saya ingin menikmati pemandangan pulau Jawa,” ujarnya. ***

Pukul 07.06 bus Indorent berangkat dari Terminal Jombor. Kami hanya berempat yang naik dari kios tempat menunggu.

Saya baca di google, bus akan menjemput penumpang lain di sejumlah stasiun. Pertama-tama ke Giwangan, setelah itu menuju Prambanan. Melewati jalan Yogya-Solo akhirnya kami masuk ke terminal Ir Sukarno di Klaten. Ambil penumpang lagi, kemudian masuk tol Polanhardjo menuju Kartasura.

Di terminal Kartasura naik lagi penumpang lalu masuk ke tol Banyudono, Boyolali, menuju Salatiga. Bus lalu keluar tol Boyolali untuk ternyata mengambil satu penumpang, persis di jalan keluar. Jam sudah menujukkan pukul 09.22.

Baru berjalan sekitar 7 menit, bus melambat. Ternyata di sisi kiri ada seorang perempuan dan anak kecil perempuan menunggu.

Bus berhenti, supir turun dan menyerahkan plastik kresek, lalu mencium kepala anak dan menyalami istrinya. Di jalan kecil di luar tol terlihat sepeda motor. Tampaknya mereka menunggu si kepala keluarga dan turun begitu melihat busnya menepi.

Adegan mengharukan, karena barangkali hanya dengan cara ini mereka bisa bertemu karena sang ayah bertugas setiap hari ke luar kota.

Dari tol, keluar lagi, dan masuk ke terminal Tingkir, Salatiga. Naik 4 penumpang. Begitu keluar terminal, keluar informasi dari Pramugari bus. Disebutkan bahwa supir hari itu adalah Heru dengan supir 2 Loli.

Disampaikan juga bahwa jendela darurat atas ada di 5 C, bangku saya, dan 6 A. Lalu makan siang diadakan di Restoran Haji Irwan di KM 389, bus berhenti 30 menit.

Oh iya, waktu beli tiket kepada penumpang sudah diminta memilih menu makan siang, saya pilih Empal gentong dan teh tawar hangat. Dan saat berangkat di kursi sudah tersedia bantal kecil, selimut, 2 potong roti Holland Bakery, dan satu botol minuman air mineral.

Ada juga teh dan kopi dengan air dispenser yang boleh diseduh kapan saja. Juga ada mie instant kalau lapar kecil.

Sampai dengan Kartasura pemandangan di luar bus khas wilayah perkotaan. Rumah-rumah, sekolah, kantor Kelurahan atau Kecamatan, sedikit sawah, dan pabrik-pabrik. Tentu suasana khas minggu pagi, banyak yang bersepeda dan olahraga.

Sampai Salatiga pemandangan hijau ada di pinggir jalan tol, yang leluasa dipandang dari lantai 2 bus, ketimbang dari jendela kalau bawa mobil sendiri.

Perjalanan belum begitu jauh sebenarnya, tetapi bus sudah keluar untuk isi solar di KM 445. Semula saya menduga setelah ini bus akan meluncur langsung menuju Jakarta, ternyata saya salah.

Bus keluar lagi di pintu tol Banyumanik. Di terminal kecil di Jalan Setia Budi itu naik lagi 4 penumpang dengan barang masing-masing. Bus masuk kembali melalui pintu tol Srondol, tidak balik ke pintu semula.

Baru setengah jam berjalan, tahu-tahu sudah masuk ke Rest Area 389. Jam menunjukkan sekitar 11.29. Waktu makan hanya setengah jam. Saya cek, adzan di sini pukul 11.49, agak mepet untuk salat di masjid kalau mau berjamaah.

Lalu saya minta izin ke Pramugari bus agar tidak ditinggal karena waktunya pas-pasan. Maka saya pun termasuk salat sendiri setelah azan, sekaligus dhuhur dan ashar.

Begitu selesai buru-buru ke parkiran bus. Benar saja, saya penumpang terakhir karena yang makan siang semua sudah di kursi masing-masing.

***
Sekitar pukul 13.58, bus menepi sebentar. Kilometer 220. Ternyata ganti supir yang sudah membawa bus kurang lebih 7 jam. Tentu berbahaya kalau bus berpenumpang banyak dibawa oleh supir yang setengah ngantuk.

Pergantian ini terus terang melegakan.
Bus melambat kira-kira setengah jam kemudian, saya tengok dari jendela, ternyata ada kecelakaan yang melibatkan mobil penumpang tanggung, isi 10-12 penumpang.

Mobil itu terlihat penyok di bagian depan dan sedang disiapkan untuk dievakuasi. Tetapi karena tol diisi cukup banyak kendaraan, apalagi truk yang berjalan agak lamban, maka kecelakaan tadi membuat lalu lintas tersendat panjang. Peristiwa terjadi menjelang exit tol Plumbon.

Isi BBM terjadi lagi di KM 101. Antrean truk, bus, panjang. Tercatat perlu waktu 23 menit dari masuk ke rest Area SPBU sampai dengan masuk kembali ke tol menuju Jakarta.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.50.
Sekitar 22 menit kemudian bus melewati pintu tol Cikampek Utama dan tak lama bertemu dengan arus kendaraan dari tol Cipularang. Minggu sore, jadi lalu lintas relatif padat.

Apalagi hari Senin 20 Juli hari pertama siswa sekolah swasta masuk sekolah sehabis liburan panjang sejak awal Juli.

Kalau sebelumnya kecepatan rata-rata bisa 70-80 kilometer perjam, kecuali di lokasi kecelakaan atau perbaikan ruas tol, kecepatan bus menurun ke 50-60 KM perjam, padahal ada 4 jalur yang tersedia.

Sesuai dengan rencanan perjalanan yang saya catat, bus mulai menurunkan penumpang di Cikarang setelah keluar di tol Cikarang Barat.

Sejumlah orang muda, bisa jadi pekerja di Kawasan industri ini, turun dengan tas masing-masing. Setelah itu bus kembali masuk tol dan keluar di Bekasi Timur.

Saya baru tahu agen-agen bus ada di setiap jalan yang menuju pintu tol dan hampir semua bus luar kota menurunkan penumpang di sini.

Berhenti sekitar 3-4 menit, jadi tidak sempat membuat macet.
Setelah itu barulah bus menuju terminal Pulo Gebang, yang berada di tol Cikunir.

Terminal ini memberi kesan rapi dan apik. Bus bisa langsung masuk dari tol, dengan terminal yang besar. Selain ada yang turun, terlihat banyak juga yang siap-siap untuk melakukan perjalanan, dengan belasan bis yang berjejer di jalur keberangkatan.

Ini terminal terpadu, jadi kalau melanjutkan dengan Transjakarta, angkot, bahkan juga Stasiun KRL Cakung, sangat mudah. Istilahnya, hanya sepelemparan batu sudah terjangkau.

Sebelum masuk ke terminal Kampung Rambutan, bus melipir ke luar sebentar di pintu Jatiasih, rupanya ada 1 penumpang turun. Kemudian bus mutar di mulut jalan tol dan melanjutkan perjalanan, lalu ke luar di pintu Bambu Apus. Mendekati titik akhir perjalanan.

Tepat pukul 18.00 bus masuk ke Terminal Kampung Rambutan yang seperti Pulo Gebang juga terminal terpadu, ada beberapa moda angkutan yang memudahkan orang masuk ke tengah kota.

Di sini ada belasan tujuan Transjakarta, asal punya kartu elektronik seperti emoney, dengan murah meriah bisa tiba di berbagai pelosok Jakarta.

Hanya sekitar 7 menit bus kembali masuk ke tol menuju terminal akhir. Karena tidak ada penumpang yang turun di Terminal Lebak Bulus, maka penumpang tersisa turun di Terminal Pondok Pinang, terminal bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).

Tepat 18.24. lebih cepat satu menit dari yang tertera di tiket yakni 18.25. Alhamdulillah. Mengesankan. Saya segera pesan taksi menuju rumah, dari sini hanya 2 menit langsung masuk pintu tol JORR.

Saya kisah naik bus Indorent selesai di sini. Sampai rumah baru saya tahu, dompet berisi vitamin dan obat yang saya taruh di ransel ternyata jatuh.

Rupanya terjadi saat saya memasukkan oleh-oleh Bakpia 25 dan Jenang Kudus yang saya beli di rest area. Charger baterei juga saya masukkan ke sana saat mencopotnya menjelang akhir perjalanan.

Saya kontak Pramugari yang WA saat jelang keberangkatan untuk memastikan kehadiran di Terminal Jombor. Saya sebut nomer kursi. Dia rupanya sudah menemukan dan menyimpannya, namun sulit dikirim via Gosend karena bus berada di pool Nanggewer, Bogor, padahal saya tinggal di kawasan Bintaro.

Entah bagaimana caranya ternyata dia menjanjikan akan menitipkan dompet obat saya ke teman.

Saya diberi nomer kontak untuk berkomunkasi, khususnya perjalanan bus sehingga saya tahu kapan harus menunggu.

Senin sore, tepat pukul 18.36 bus Indorent tiba di Terminal Pondok Pinang. Setelah melayani penumpang yang turun, Pramugari T temannya Pramugari R, sudah menyiapkan barang tertinggal, dan memberikannya yang menunggu di tepi jalan.

Alhamdulillah yang kedua. Dapat pengalaman baru dan merasakan kualitas pelayanan yang bagus. ***

Berita Terkini