HELOINDONESIA.COM - Riding di malam hari, pelan-pelan menjelajah di sisi kiri jalan untuk berburu kuliner, dari arah Solo Sampai memasuki kawasan Sukoharjo
Sate Madura mendominasi kuliner pinggir jalan di kawasan itu, namun itu yang bukan dicari penggemar kuliner ini.
Ini adalah perburuan seorang pelancong penggemar sepeda touring netizen asal Sidoarjo, Djatimo Prijo Sandjoto saat melakukan perjalanan touring ke wilayah Solo.
Pada akhirnya pria ini tertuju pada Nasi Liwet Mbak Inem, tepatnya di kawasan Pojok Tanjunganom, Solo.
Baca juga: Rumah Bunga Cafe, Tempat Nongkrong Dengan Sensasi di Atas Sungai dan Tebing Jalan
Menu yang tersedia berupa paket satu porsi lauknya suwiran daging ayam, telur pindang rebus, sayur manisah dan kumut/areh (kuah santan yang dikentalkan) berwarna kuning dan putih.
Harga nasi liwet di daerah Solo sangat terjangkau dan tergolong murah, satu porsi dijual sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu, bahkan ada yang lebih murah.
Nasi liwet lebih kental sebagai ikon kuliner khas Solo yang paling terkenal. Nasi liwet berasa agak gurih yang dimasak dengan kelapa.
Baca juga: Menikmati Wisata Bukit Jengkoang Dengan Alam Kota Batu yang Tak Ada Habisnya untuk Diekplorasi
Nasi tersebut disajikan dengan sayur labu siam (manisah) yang dimasak sedikit pedas, telur pindang rebus, daging ayam suwir, serta kumut/areh (terbuat dari kuah santan yang dikentalkan).
Wadah nasi liwet ini cukup unik dengan menggunakan alas daun pisang. Nasi liwet kuliner asli kaum pribumi yang ternyata memiliki cerita sejarah yang cukup panjang.
Nasi liwet Solo lahir dari kalangan masyarakat biasa, di satu daerah yang bernama Desa Menuran, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.
Sejarah, asal-usul riwayat dan cara memasak nasi liwet tercatat dalam Serat Centhini (1814 -1823). Cerita ini tersebar ke berbagai wilayah Nusantara.
Baca juga: Kali Kesek Village di Limbangan Kendal, Keindahan Gemercik Air Sungai dan Lezatnya Gendar Pecel
Dalam Serat Centhini disebutkan bahwa nasi liwet dihadirkan ketika Pulau Jawa diguncang gempa bumi.
Ini kerap dikaitkan dengan tradisi masyarakat Jawa, termasuk untuk menolak bala ketika terjadi bencana. Nasi liwet dihadirkan dengan sebaris doa yang dilantunkan untuk keselamatan.
Cerita lain menyebutkan bahwa nasi liwet merupakan menu wajib yang perlu ada saat menggelar upacara Sekaten di bulan Maulid.
Inspirasinya bermula dari nasi samin yang konon merupakan kesukaan Nabi Muhammad SAW.
Lantaran orang Jawa tidak bisa memasak nasi samin, maka mereka membuat nasi yang menyerupai nasi samin, yakni nasi liwet.
Seporsi nasi ini menggambarkan luasnya dampak sosial-kultural kedekatan manusia Jawa dengan nasi, makanan pokok masyarakat Indonesia dan bagian primer dari nasi liwet.
Ekspresi kultural tersebut mengajarkan keutamaan hidup manusia tidak hanya urusan makan (muluk), namun juga mengungkap nilai-nilai lain yang harus dijunjung terkait tindakan manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan.
Bila mengunjungi kawasan Solo Raya kurang lengkap memang bila tidak berwisata kuliner dengan menjajal nasi liwetnya.
Banyak yang jualan baik menempati resto yang representatif atau lesehan pinggir jalan, semuanya enak nasi liwetnya termasuk juga nasi liwet Mbak Inem Tanjunganom ini, Hidup Nasi Liwet, makan sepincuk badan jadi anget.**