Lepas Gawai Demi Gamelan: Cara Kreatif SKRM Squad Hidupkan DNA Budaya Anak-Anak Sekararum

Minggu, 12 Juli 2026 20:04
Kegiatan anak-anak di Desa Sekararum yang memanfaatkan belajar gamelan untuk mengisi masa liburan sekolah

REMBANG, HELOINDONESIA.COM - Malam merayap perlahan di Desa Sekararum, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang. Namun, alih-alih sunyi atau diramaikan oleh bunyi notifikasi dari balik layar gawai, udara desa malam itu justru bergetar oleh harmoni yang berbeda. Suara ketukan saron yang nyaring, sahut-menyahut bonang yang ritmis, bertumpu pada mantapnya ketukan kendang, menggema memecah malam.

Di sebuah pelataran, puluhan pasang tangan mungil tampak lincah memukul bilah-bilah perunggu. Mereka adalah anak-anak Desa Sekararum yang sedang menikmati libur akhir tahun ajaran dengan cara yang tak biasa: menghidupkan kembali roh gamelan yang sempat tertidur.

Gerakan kultural ini tidak lahir dari keresahan sekelompok pemuda desa yang tergabung dalam SKRM Squad. Para pemuda desa ingin memberi ruang anak-anak selama masa liburan. Setiap tahun, banyak anak yang bersekolah di luar kota pulang ke kampung halaman di Sekararum. Meskipun demikian, sebagian besar belum memiliki aktivitas yang terarah sehingga lebih banyak menghabiskan waktu bermain gawai atau sekadar berkumpul tanpa kegiatan yang produktif.

Baca juga: Gagasan: Terminal Rajabasa Untuk Terminal Pengemudi Online 

Melihat kondisi itu, SKRM Squad menggagas latihan gamelan yang digelar setiap malam sebagai ruang belajar, bermain, sekaligus bersosialisasi bagi anak-anak.

Pegiat SKRM Squad, Zaenuri, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar mengajarkan cara memainkan alat musik tradisional, tetapi juga menjadi upaya menghadirkan ruang positif bagi anak-anak selama masa liburan.

"Saat liburan banyak anak yang pulang ke Sekararum, sementara yang tinggal di desa juga sedang libur sekolah. Kami melihat mereka belum memiliki kegiatan yang rutin sehingga banyak menghabiskan waktu bermain handphone. Dari situlah muncul ide membuat latihan gamelan setiap malam agar mereka punya aktivitas yang bermanfaat sekaligus bisa berkumpul dengan teman-temannya," ujar Zaenuri, dalam keterangannya Minggu 12 Juli 2026.

Jaga Identitas

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya Sekararum yang sejak dulu dikenal memiliki tradisi seni yang kuat.

Ia menyebut kesenian telah menjadi "DNA" masyarakat Sekararum. Dahulu, kelompok gamelan dan ketoprak hidup di tengah masyarakat. Pertunjukan seni hampir selalu hadir dalam hajatan warga maupun berbagai kegiatan desa sehingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

"Orang-orang tua di Sekararum dulu banyak yang berkesenian. Gamelan dan ketoprak menjadi hiburan sekaligus pemersatu warga. Kami ingin semangat itu tidak hilang. Kalau anak-anak dikenalkan sejak sekarang, mereka akan tumbuh dengan rasa memiliki terhadap budaya sendiri," katanya.

Baca juga: Kane vs Messi : Gelora Dendam Lama di Amerika 

Latihan dilakukan dengan suasana santai dan menyenangkan. Anak-anak diperkenalkan satu per satu instrumen gamelan, mulai dari saron, demung, bonang hingga kendang. Setelah itu mereka belajar memainkan lagu-lagu sederhana yang mudah dipahami sehingga proses belajar terasa menyenangkan.

Antusiasme masyarakat pun sangat tinggi. Tanpa diminta, para orang tua mengantar anak-anak mereka ke lokasi latihan dan menunggu hingga kegiatan selesai. Bahkan hampir setiap malam ada warga yang secara sukarela membawa makanan ringan maupun minuman untuk dinikmati bersama para peserta.

Bagi SKRM Squad, dukungan tersebut menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masyarakat Sekararum masih terjaga dengan baik.

"Yang membuat kami terharu, warga sangat mendukung. Orang tua mengantar dan menunggui anak-anak selama latihan. Bahkan hampir setiap malam ada yang membawa jajanan untuk mereka. Semua dilakukan dengan sukarela. Ini membuat kami semakin semangat menjalankan kegiatan," ujar Zaenuri.

Bukan kali pertama SKRM Squad menggerakkan aktivitas sosial dan budaya di Sekararum. Selama beberapa tahun terakhir, komunitas yang beranggotakan para pemuda desa itu aktif menginisiasi berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.

Di antaranya Festival Nginguk Githok, sebuah festival yang mengangkat potensi dan kearifan lokal desa, Pasar Ramadan yang menjadi ruang bagi pelaku UMKM sekaligus tempat berkumpul masyarakat selama bulan suci, hingga berbagai kegiatan sosial, kepemudaan, dan pelestarian budaya lainnya.

Menurut Zaenuri, seluruh kegiatan tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni membangun ruang kebersamaan sekaligus menghidupkan kembali potensi desa melalui kreativitas generasi muda.

"Kami ingin SKRM Squad tidak hanya dikenal sebagai komunitas pemuda, tetapi menjadi wadah yang bisa menggerakkan masyarakat. Kalau desanya hidup, budayanya hidup, dan anak mudanya mau bergerak, kami yakin Sekararum akan terus berkembang," katanya.

Baca juga: Hero Project Sukses Guncang Tubaba

Salah seorang peserta latihan, Handaruni, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena selain belajar memainkan gamelan, ia juga bisa bermain bersama teman-temannya.

"Senang bisa bermain sama teman-teman setiap malam. Lagunya juga mudah dimainkan, jadi lama-lama hafal dan semakin semangat latihan," ujarnya.

Zaenuri berharap latihan gamelan tidak berhenti setelah libur sekolah berakhir. Ia ingin kegiatan tersebut menjadi awal regenerasi seniman tradisional di Sekararum sehingga gamelan tidak hanya menjadi cerita dari generasi terdahulu, tetapi tetap hidup di tangan anak-anak masa kini.

"Harapan kami sederhana. Anak-anak punya kegiatan positif selama liburan, tidak hanya bermain handphone, sekaligus mulai mencintai budaya daerahnya sendiri. Kalau regenerasi ini berjalan, kami optimistis gamelan dan kesenian tradisional Sekararum akan tetap lestari," pungkasnya.

Melalui latihan gamelan ini, SKRM Squad menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari program besar. Berbekal kepedulian terhadap anak-anak, semangat gotong royong, dan dukungan masyarakat, para pemuda Sekararum berhasil mengubah liburan sekolah menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal kepada generasi penerus. (Aji)

Berita Terkini

Garong Bersertifikat Bertopeng Hero

Opini • 2 jam 40 menit lalu

Haaland Bakal Babat Inggris

Sepakbola • 5 jam 33 menit lalu

Komedian Temon Meninggal Dunia

Peristiwa • 6 jam 59 menit lalu