Pos Indonesia dari Mati Suri, Kini Jual Sembako

Jumat, 28 Februari 2025 17:07
Pos Indonesia kini jual minyak beras dan lainnya Ilustrasi

HELOINDONESIA.COM -Untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau, PT Pos Indonesia telah meluncurkan program operasi pasar di 4.500 gerai kantor pos di seluruh Indonesia. Program ini dirancang guna menjamin ketersediaan bahan pokok dengan harga bersahabat menjelang Ramadan dan Idulfitri 1446 H.

Direktur Utama PT Pos Indonesia, Faizal R. Djoemadi, menjelaskan bahwa perusahaan ini berkomitmen menjaga stabilitas harga pangan di pasar, sembari mendukung pasokan yang memadai. Menurutnya, infrastruktur dan jaringan logistik luas yang dimiliki PT Pos Indonesia menjadi aset penting dalam memastikan program ini berjalan lancar. "Kami memastikan bahan pangan pokok dapat diakses masyarakat dengan mudah," ungkap Faizal dalam keterangan tertulis, Kamis (27/2/2025).

Sejumlah bahan pokok yang dijual dalam program ini meliputi beras dengan harga Rp12.000 per kilogram (di bawah HET Rp12.500), bawang putih Rp32.000 per kilogram, dan daging kerbau beku Rp75.000 per kilogram. Selain itu, gula konsumsi, minyak goreng, serta daging ayam ras juga ditawarkan dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga pasaran. Program ini berlangsung sejak 24 Februari hingga 29 Maret 2025.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menambahkan bahwa pelaksanaan operasi pasar dilakukan lebih awal dibanding tahun-tahun sebelumnya. Langkah ini diambil sebagai bentuk respons cepat terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat dapat menyambut Ramadan dengan tenang tanpa khawatir lonjakan harga pangan. “Kami memberikan peringatan kepada para pelaku usaha agar mengikuti regulasi pemerintah,” tegasnya saat memantau operasi pasar di Magelang, Jawa Tengah.

Sejarah Singkat PT Pos Indonesia

PT Pos Indonesia memiliki perjalanan panjang sejak era kolonial, ketika layanan pengiriman surat pertama kali berkembang pesat. Pada tahun 1746, kantor pos pertama didirikan di Batavia oleh Gubernur Jenderal GW Baron van Imhof. Tujuannya adalah untuk melindungi pengiriman surat dari risiko perampokan, terutama bagi para pedagang.

Pada masa berikutnya, berbagai inovasi seperti pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan dan pembukaan jalur kereta api turut mempercepat pengiriman surat. Bahkan, pembukaan Terusan Suez pada 1869 berhasil mengurangi waktu pengiriman ke Eropa secara signifikan.

Setelah kemerdekaan Indonesia, layanan pos terus menjadi metode komunikasi yang populer dan terjangkau. Pada tahun 1961, nama Dinas Pos diubah menjadi PN Postel, yang kemudian pada tahun 1965 diubah lagi menjadi PN Pos dan Giro. Era keemasan PN Pos & Giro terjadi pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, namun tantangan mulai muncul pada era 1990-an akibat persaingan dari swasta serta perkembangan teknologi hingga Pos Indonesia sempat mati suri.

Kini, PT Pos Indonesia sedang berusaha melakukan transformasi dengan menghadirkan layanan baru di sektor logistik, properti, serta pengiriman barang guna menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman.***

Berita Terkini