Helo Indonesia

Kakao Lampung Timur Bangkit, Masa Depan Kesejahteraan Petani

Herman Batin Mangku - Ekonomi
2 jam 5 menit lalu
    Bagikan  
KAKAO LAMTIM
HELO LAMPUNG

KAKAO LAMTIM - Bupati Ela Siti Nuryamah meninjau upaya peningkatan produktivitas kakao di Lamtim (Foto Rls Agus/Helo)

LAMPUNG TIMUR, HELOINDONESIA.COM — Potensi kakao di Kabupaten Lampung Timur dinilai sangat besar dan menjanjikan. Jika dikelola secara optimal dan berkelanjutan, komoditas ini diyakini mampu menjadi penopang ekonomi berlapis sekaligus masa depan kesejahteraan petani.

Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APiK) Lampung Timur, Japung Lasarus, menyebut kakao bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan sistem pertanian terpadu yang memberi manfaat ekonomi dari berbagai lapisan.

undefined

Menurutnya, kakao memiliki keunggulan karena dapat dikembangkan dengan pola tumpang sari. Dalam satu hamparan lahan, petani bisa memanen hasil dari lapisan bawah hingga atas.

“Kalau bahasa kami, menanam kakao itu satu hektare rasanya seperti tiga hektare. Di bawah pohon kakao bisa ditanam talas atau umbi-umbian, di tengah ada kakao, dan di atas bisa kelapa atau alpukat. Panennya berlapis,” ujar Japung, Selasa (3/2/2026).

Bangkit Setelah Sempat Terpuruk

Japung mengungkapkan, kakao Lampung Timur sempat mengalami kemunduran pada 2010–2012 akibat serangan hama busuk buah. Kondisi tersebut membuat banyak petani menebang tanaman kakao dan beralih ke komoditas lain.

Namun, sejak 2025, kakao mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Hal ini didorong oleh masuknya offtaker serta pendampingan intensif yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur di bawah kepemimpinan Bupati Ela Siti Nuryamah.

“Kebangkitan kakao tidak lepas dari peran offtaker seperti PT Papandayan dan Olam yang membawa klon baru lebih tahan hama. Mereka juga melakukan pendampingan langsung bersama Pemkab Lampung Timur,” jelasnya.

Selain offtaker, geliat kakao di Lampung Timur juga diperkuat kolaborasi dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (NGO) yang aktif mendampingi petani, mulai dari budidaya hingga pascapanen.

Tantangan Keamanan dan Kualitas
Meski mulai bangkit, Japung mengakui petani kakao masih menghadapi tantangan serius, terutama terkait keamanan kebun. Kondisi ini memaksa petani memanen buah sebelum matang sempurna.

“Masalah utama kami soal keamanan. Petani sering tidak berani memetik kakao tua karena takut dicuri. Akhirnya dipanen muda, dijual basah, kualitas rendah, dan harganya murah,” ungkapnya.

Saat ini, harga kakao basah di tingkat petani Lampung Timur masih berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. Padahal, potensi harga bisa jauh lebih tinggi jika kakao dipanen matang dan difermentasi dengan baik.
“Kalau aman, petani bisa panen tua, difermentasi, dan menghasilkan kakao premium. Nilai jualnya tentu jauh lebih baik,” katanya.

undefined

Menuju Kakao Premium dan Cokelat Lokal

Untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah, APiK bersama Pemkab Lampung Timur kini merintis kerja sama dengan mitra dari Bandung dalam pengembangan kakao premium.

Program ini mencakup pendampingan teknis, penyediaan alat fermentasi, serta penggunaan solar dryer untuk proses pengeringan.

“Saat ini kami fokus membenahi hulu dan pascapanen. Kalau sudah kuat, target jangka menengah kami adalah memproduksi cokelat sendiri dari Lampung Timur,” ujar Japung.

Ia menambahkan, penguatan kelembagaan petani menjadi kunci keberhasilan pengembangan kakao ke depan. Dengan berkelompok, petani dinilai lebih mudah berkembang, saling belajar, dan menjaga keamanan kebun secara kolektif.

“Kalau petani bersatu, semuanya bisa berjalan. Dari budidaya, sambung sisip, sampai ronda kebun. Inilah yang kami dorong agar kakao Lampung Timur benar-benar bangkit dan menjadi masa depan petani,” pungkasnya. (Rls/Agus