SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Komunitas Ayah pegawai Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN (Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga) Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Jawa Tengah nonton bareng (nobar) film keluarga Panggil Aku Ayah di teater XXI Mal Paragon Semarang, Jumat 15 Agustus 2025.
Tidak hanya pegawai laki-laki saja, tetapi juga para pegawai perempuan termasuk Kepala Perwakilan BKKBN Jateng Eka Sulistia Ediningsih juga bergabung, termasuk komunitas Gardu Perak (Gerakan Pria Peduli Perempuan dan Anak), Duta GenRe , dan Ikatan Penulis Keluarga Berencana Jateng.
Baca juga: Kukuhkan 27 Anggota Paskibraka, Wali Kota Semarang Ajak Anak Muda Cintai Produk Lokal
Film Panggil Aku Ayah adalah adaptasi film Korea berjudul Pawn yang rilis tahun 2020. Sinema besutan sutradara Benni Setiawan ini diadaptasi dengan sentuhan lokal Indonesia dengan seting di Jawa Barat (Sunda) sehingga terasa membumi.
Film dimulai dengan kisah dua penagih utang Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan Tatang (Boris Bokir) yang menagih utang pada seorang ibu bernama Rosa (Sita Nursanti). Karena Rosa tidak punya uang, maka Intan (Myesha Lin), anaknya yang masih kecil diambil sebagai jaminan. Sementara Intan dewasa diperankan Tissa Biani.
Kedua penagih utang ini akhirnya kerepotan karena harus merawat anak kecil, bahkan disemprot pula oleh bos penagih utang. Tetapi Tatang yang punya ide untuk menyandera Intan, yang kemudian dipanggil Pacil, bisa memanfaatkannya untuk menagih utang.
Setiap orang yang ditagih akan diancam anaknya dibawa, dan diperlakukan seperti Pacil. Pada saat yang sama Pacil pun diajak bersandiwara bahwa dia selalu disika tidak diberi makan, dan sebagainya. Akibatnya si pengutang memilih membayar daripada anaknya digendong pergi.
Baca juga: Pidato Presiden Prabowo Pacu Gubernur dan DPRD Jateng Atasi Kemiskinan Ekstrem
Pacil yang mulanya banyak menentang dan melawan Dedi dan Tatang, dan selalu merengek untuk bertemu ibunya, akhirnya melunak. Begitu pula Dedi yang semula keras menjadi lembut, demikian pula Tatang.
Mereka pun menjadi sebuah “keluarga” yang hangat hingga akhirnya keduanya memilih berhenti sebagai penagih utang, dan membangun usaha untuk merawat dan menyekolahkan si Pacil, hingga akhirnya menjadi dokter.
Ketika Pacil sudah menjadi dokter, Dedi menerima kabar bahwa Rosa dalam keadaan sakit setelah pulang sebagai TKI ilegal. Dedi pun menengok, dan mendapatkan amanah untuk menemui seseorang yaitu ayah kandung Intan.
Intan yang bertemu ibunya terasa canggung, karena menganggap si ibu meninggalkannya. Tetapi setelah mendapat penjelasan dari Perempuan yang menemukan Rosa, si Intan memahami, dan berjanji akan merawat ibunya. Sayang si ibu yang sakit itu akhirnya meninggal.
Bukan Ayahku
Dedi pun menghubungi seorang lelaki seperti amanah Rosa, kemudian mengantar Intan menemui lelaki yang merupakan ayahnya itu. Dedi pun meninggalkan Intan bersama ayahnya.
Ternyata Intan tidak bsia menerima kehadiran Rohmad sebagai ayahnya, dan menghubungi Dedi di untuk menjemputnya. “Dia bukan ayahku. Mang Dedi jemput aku sekarang,” ujar Pacil lewat telepon.
Sayang saat menjemput Dedi mengalami kecelakaan dan sempat hilang taka da kabarnya. Hingga suatu saat ditemukan tinggal di sebut masjid dalam keadaan linglung.
Dalam pertemuan ini, Intan menyebut Dedi sebagai ayah, dan kesadaran Dedi tumbuh kembali sambil meneteskan air mata. Kisah berakhir dengan pernikahan Intan dengan Ben, teman kuliahnya.
Seisi bioskop, termasuk anggota Komunitas Ayah BKKBN Jateng banyak yang tak kuasa menahan haru. Ada yang berlinang air matanya, atau terdiam sambil mengelap mata. Film ini memang penuh dengan keharuan yang menyesakkan. Kalau dulu ada film “Ratapan Anak Tiri” yang menguras air mata, tampaknya Panggil Aku Ayah kini penggantinya.
Cinta Pertama Anak Perempuan
Ayah Adalah cinta pertama anak perempuannya. Itu dikatakan Kepala Perwakilan BKKBN Jateng Eka Sulitia Edining usai keluar dari gedung teater. Dia mengapresiasi Komunitas Ayah BKKBN Jateng yang punya gagasan untuk nonton bareng film ini.
“Cinta anak, terutama anak perempuan, pada ayahnya akan terbawa sampai dewasa. Dia akan selalu mengenang sosok ayahnya, meskipun itu bukan ayah biologis seperti dalam film ini,” ujarnya.
Film ini bisa menjadi referensi bagi para ayah, untuk menjadi edukator dan teladan bagi anak-anaknya. Sejalan dengan quick win Kemendukbangga/BKKBN dengan program GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia).
Baca juga: Warga sekitar SGC Ikut Aksi Ukur Ulang ke Istana dan ATR/BPN 25-27 Agustus Nanti
Sementara Ika Kamila dari Gardu Perak mengatakan, sosok ayah meskipun bukan ayah biologis bisa hadir menjadi ssk ayah yang penuh. “Kehadiran seorang ayah akan membangkitkan rasa percaya diri anak,” ujarnya.
Sedangkan sepasang Duta Genre Jateng Salsabila Rahma Putri dan Muh Fadlan tak bisa menahan keharuannya. “Ini kisah yang menyentuh hati. Ayah saya meninggal beberapa waktu lalu, menonton film ini jadi kangen pada ayah,” ujarnya dengan napas tercekat menahan tangis.
Sedangkan Fadlan yang juga sudah kehilangan ayahnya mengaku bahwa, ayahnyalah yang membentuk karakternya. “Saya merasakannya, dan kami berdua sudah sama-sama tidak punya ayah. Sosok ayah luar biasa, tidak sekadar orang yang ada hubungan darah, perannya luar biasa,” ujarnya haru. (Aji)
