LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM – Praktik pencurian getah karet yang meresahkan warga Kampung Onoharjo, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah, akhirnya meledak. Ratusan warga akhirnya "operasi tangkap tangan" (OTT) terduga penadah berinisial MJ (43), Senin sore (13/4/2026).
MJ tak berkutik saat aksinya mengambil dua karung getah karet di tengah kebun tebu dipergoki warga. Rupanya, gerak-geriknya telah lama diendus. Warga yang geram memilih menunggu—hingga akhirnya penyergapan pun terjadi.

Warga ramai-ramai menangkap penadah pencurian getah karet
Tanpa perlawanan berarti, MJ langsung diamankan dan digiring ke rumah salah satu kepala dusun. Di sana, di hadapan warga yang memadati lokasi, ia diinterogasi.
Pengakuan pun mengalir. MJ mengakui dirinya sebagai penadah getah karet hasil curian. Namun, satu hal yang justru mengundang tanda tanya: siapa pelaku utama pencurian? Hingga kini, sosok tersebut masih misterius.
“Jadi ceritanya, saya ditelepon pelaku pencurian untuk mengambil barang yang diletakkan di ladang tebu. Karena sekalian mengambil barang belanjaan lainnya, saya membawa mobil. Sesampainya di sana, saya tidak tahu warga sudah menunggu,” ujar MJ di hadapan warga.
Yang menarik, di tengah emosi warga yang memuncak akibat seringnya kehilangan getah karet, kasus ini justru berujung damai. Melalui kesepakatan bersama, MJ dikenakan denda sebesar Rp50 juta.
Namun, situasi sempat memanas. Massa terus berdatangan, membuat suasana tak lagi kondusif. Aparat Polsek Terbanggi Besar pun turun tangan, mengamankan MJ ke Mapolsek untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Informasi yang dihimpun pada Selasa (14/4/2026), perkara ini dipastikan tidak berlanjut ke proses hukum. Terduga penadah telah mencapai kesepakatan damai dengan korban dan telah dibebaskan.
Kapolsek Terbanggi Besar, AKP Dailami, membenarkan hal tersebut.
“Sudah ada surat perdamaian, silakan koordinasi dengan penyidik,” ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp.
Meski berakhir damai, kasus ini menyisakan pertanyaan: apakah praktik pencurian getah karet benar-benar berhenti, atau hanya kehilangan satu mata rantai? (Zen Sunarto)
