LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) bukan sekadar membuat langit kelabu, mengganggu aktivitas warga, atau mengusik penerbangan. Di Lampung, abu itu mulai meninggalkan jejak pada kesehatan masyarakat.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menunjukkan 6.671 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat di 15 kabupaten/kota selama 4-8 September 2026. Angka harian tertinggi terjadi pada 7 September, 1.993 kasus.
Bersamaan dengan itu, tercatat 182 kasus asma, 40 kasus heat stroke, 236 kasus influenza-like illness (ILI), 219 kasus penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), 58 kasus pneumonia, 194 kasus sakit mata, serta 250 kasus penyakit kulit seperti gatal dan kudis.
Angka tersebut menjadikan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung bersama dinkes kabupaten/kota sebagai avant garde, garda terdepan menghadapi dampak kesehatan erupsi GAK yang berlangsung sejak 4 September lalu.
SIAGA - Dante, Wiwid, Jihan, Djohan, Devi, Josi (kiri), dan Gunungapi Anak Krakatau. | dok/Muzzamil/Helo Indonesia
ABU BERKURANG, ANCAMAN ISPA MASIH
Persoalannya, hujan abu yang mulai berkurang bukan berarti ancaman kesehatan langsung berakhir. Abu yang sudah mengendap di atap rumah, jalan, halaman, pepohonan dan berbagai permukaan lain masih dapat beterbangan kembali ketika diterpa angin.
Karena itu, warga Lampung tetap diminta menggunakan masker ketika berada di luar rumah. Bila tidak ada keperluan mendesak, aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi. Pintu, jendela dan ventilasi rumah perlu ditutup ketika abu beterbangan.
Makanan dan minuman harus dilindungi dari kontaminasi abu, sementara sumber air seperti sumur juga perlu ditutup.
Bila muncul batuk, sesak napas, mata merah atau perih, maupun keluhan kulit, warga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan.
Kemenkes juga menganjurkan penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi baik, seperti N95, KN95, KF94 atau FFP2 ketika harus beraktivitas di luar saat paparan abu tinggi. Sebab, bahaya abu vulkanik kadang justru datang ketika mata tidak lagi melihatnya.
Lampung menjadi salah satu wilayah utama yang mendapat perhatian pemerintah pusat. Kemenkes mencatat kecenderungan peningkatan ISPA terutama di Lampung, Banten dan Jawa Barat.
PELAYANAN KESEHATAN
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Lampung Djohan Lius mengatakan pihaknya telah membagi 15 kabupaten/kota dalam lima region sistem rujukan. Jaringan pelayanan disiapkan mulai puskesmas pembantu, puskesmas hingga rumah sakit.
Lima rumah sakit ditetapkan sebagai rujukan regional, yakni RSD A Dadi Tjokrodipo Bandarlampung, RSUD Ahmad Yani Metro, RSUD Pringsewu, RSUD Alimuddin Umar Lampung Barat, dan RSUD Menggala Tulang Bawang.
Sementara rumah sakit rujukan tertinggi adalah RSUD Bandar Negara Husada, RSUD Abdul Moeloek, dan RSUD Alamsyah Ratu Perwiranegara. Surveilans kesehatan juga dibagi menjadi dua klaster.
Pertama, penyakit yang berpotensi menular seperti ISPA, ILI dan pneumonia.
Kedua, penyakit yang berkaitan dengan paparan abu tetapi tidak menular, seperti asma, PPOK, penyakit kulit dan gangguan mata.
NASIONAL
Secara nasional, hingga 6 September tercatat 16.759 kasus ISPA pada wilayah terdampak. Dari jumlah tersebut, 3.771 kasus terjadi pada anak usia 0-5 tahun.
Kemenkes kemudian memperkuat kesiapsiagaan dengan menyiagakan 830 puskesmas dan 413 rumah sakit, termasuk di wilayah terdampak di Lampung.
Bantuan kesehatan berupa masker, obat-obatan, alat kesehatan dan oksigen juga dimobilisasi ke daerah terdampak.
LAMSEL
Salah satu daerah yang paling merasakan dampak langsung adalah Lampung Selatan.
Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan Devi Arminanto mengatakan, kasus ISPA di wilayahnya melonjak dari rata-rata sekitar 25 kasus per hari pada 4-6 September menjadi 337 kasus pada 7 September.
Selain ISPA, hingga 8 September ditemukan 20 kasus iritasi mata dan 16 kasus iritasi kulit atau gatal-gatal. "Seluruh kasus masih bersifat ringan dan telah tertangani melalui rawat jalan di puskesmas. "Masih aman dan terkendali," kata Devi.
Respons pun diperbesar.
Dalam dua hari, 7-8 September, Dinkes Lampung Selatan membagikan hampir 127 ribu masker kepada masyarakat terdampak. Pemkab Lampung Selatan juga masih memiliki buffering stock sekitar 705 ribu masker untuk mengantisipasi kebutuhan berikutnya.
Bukan Hanya ISPA
Dampak abu vulkanik di Lampung tidak berhenti pada batuk dan pilek. Dalam data pemantauan Dinkes Lampung, terdapat pula 182 kasus asma dan 219 kasus PPOK. Dua kelompok penyakit ini mendapat perhatian khusus karena paparan partikulat dapat memperberat kondisi penderita penyakit pernapasan yang sudah ada.
Selain itu terdapat 58 kasus pneumonia, 194 kasus gangguan mata, dan 250 kasus penyakit kulit. Kondisi ini sejalan dengan peringatan Kementerian Kesehatan bahwa abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata dan kulit. Partikel halus seperti PM2,5 bahkan dapat masuk lebih dalam ke paru-paru. (Muzzamil)