HELOINDONESIA.COM - Pemerintah Jepang mengumumkan akan melepaskan limbah air dari PLTN Fukushima yang telah diolah dengan teknologi khusus sehingga tidak lagi berbahaya, ke Samudra Pasifik.
Namun, rencana ini menuai banyak keresahan, karena dikhawatirkan bisa mencemari laut dan membuat ikan maupun hewan lainnya terkontaminasi komponen nuklir berbahaya.
Kecemasan ini utamanya terkait risiko produk ekspor utama Jepang, yaitu makanan laut dan kosmetik. Ada kekhawatiran kontaminasi nuklir pada ikan dapat berdampak buruk pada kesehatan.
Baca juga: Solusi Atasi Polusi, Pemerintah Diminta Tindak Tegas Perusahaan Yang Tidak Mengolah Limbah
Seperti diketahui, PLTN di Fukushima, Jepang rusak akibat gempa bumi yang diikuti tsunami pada tahun 2011. Gempa tersebut telah menghancurkan sistem pendingin dan menyebabkan inti reaktor menjadi terlalu panas sehingga mencemari air di dalam fasilitas PLTN dengan bahan yang sangat radioaktif.
Masalah pada air limbah olahan tersebut disebabkan oleh unsur radioaktif hidrogen yang disebut tritium. Meskipun hampir semua isotop berbahaya telah disaring dan dihilangkan, namun masih tidak ada teknologi yang dapat menghilangkan unsur tritium dari air.
Maka, untuk menurunkan kadar tritium hanya bisa dilakukan dengan pengenceran air sedemikian rupa.
Baca juga: Pemerintah Diminta Waspadai Wabah Virus Oz, Mulai Memakan Korban di Jepang
Sejauh ini, para ahli menyimpulkan bahwa pelepasan air limbah nuklir Fukushima ke laut masih terbilang aman. Tetapi, tidak semua ilmuwan sepakat tentang dampak yang mungkin akan ditimbulkannya di masa depan.
Pada dasarnya, tritium dapat ditemukan di air di seluruh dunia. Banyak ilmuwan berpendapat, jika kadar tritium cukup rendah, maka dampaknya tergolong minimal.
IAEA telah mengungkapkan hasil analisis independen yang menunjukkan konsentrasi tritium dalam limbah olahan PLTN Fukushima jauh di bawah batas operasional 1.500 becquerel per liter (Bq/L). Ini masih enam kali lebih rendah dari batas air minum yang ditetapkan WHO sebanyak 10.000 Bq/L.
Kementerian Lingkungan Hidup Jepang juga telah mengumpulkan sampel air laut dari 11 lokasi berbeda. Hasilnya, secara teori, air tersebut aman untuk diminum. Demikian juga terkait kemungkinan kontaminasi nuklir pada ikan yang tampaknya tidak perlu dikhawatirkan.
Baca juga: Dinas LH Tak Peduli Warga Gatal-Gatal Diduga Akibat Limbah PT Evergreen
Fisikawan David Bailey menambahkan bahwa pada tingkat tersebut, tidak ada masalah dengan spesies laut, kecuali terlihat penurunan populasi ikan yang parah, demikian dikutip dari BBC.com.
Tritium juga masih dianggap relatif tidak berbahaya bagi manusia karena radioaktif tritium tidak bisa menembus ke dalam kulit manusia.
Meskipun IAEA telah menyimpulkan bahwa strategi pembuangan aman dan sejalan dengan standar Global, namun hal ini masih menjadi kontroversi di tengah masyarakat.
Beberapa negara juga mengambil sikap berbeda terhadap rencana Jepang melepas air limbah nuklir ke laut. Sebagian ada yang melakukan pelarangan impor makanan laut dari Jepang, dan sebagian lagi melakukan pembatasan dan pemeriksaan ketat terhadap produk makanan yang diimpor dari negeri Sakura tersebut.
Bahaya makanan yang terkontaminasi nuklir
Mengonsumsi makanan yang mengandung kontaminan radioaktif akan meningkatkan jumlah radioaktivitas di dalam tubuh.
Baca juga: Bumi Waras Masih Gelontorkan Limbah, Petani Bakal Gagal Panen
Pada akhirnya, ini bisa meningkatkan risiko kesehatan yang terkait dengan paparan radiasi nuklir. Namun, tingkat risiko akan tergantung pada jenis radionuklida dan jumlah radioaktivitas yang tertelan.
Misalnya, jika mengonsumsi makanan yang terkontaminasi yodium radioaktif, maka yodium tersebut akan terakumulasi di kelenjar tiroid dan meningkatkan risiko kanker tiroid, terutama pada anak-anak.
Namun, radioaktivitas dari yodium radioaktif akan berkurang menjadi setengahnya dalam waktu 8 hari (disebut waktu paruh) dan akhirnya berhenti menjadi radioaktif (peluruhan) dalam beberapa minggu.
Sementara itu, isotop radioaktif cesium memiliki waktu paruh 30 tahun. Ini akan membuatnya mampu bertahan di lingkungan selama bertahun-tahun.
Saat tertelan, cesium radioaktif juga akan didistribusikan ke seluruh tubuh lebih homogen daripada yodium, sehingga dapat meningkatkan risiko jenis kanker tertentu.