HELOINDONESIA.COM - Minuman tradisional jamu akan menjadi masa depan kesehatan Indonesia yang siap bersaing di panggung dunia. Bahkan, jamu sudah mendapat pengakuan dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak benda (WBTb) asli Indonesia pada 6 Desember 2023 lalu.
Ketua Umum Dewan Jamu Indonesia, Mayor Jenderal TNI (Purn) Dr Daniesl Tjen Sp.N, dalam webinar yang digelar Indonesia Wellness Tourism International Festival 2024 (IWTIF 2024) pada Rabu (20/11/2024) membeberkan keunggulan jamu bagi kesehatan.
Menurutnya, jamu merupakan minuman yang ramah lingkungan dan berbasis sumber daya lokal.
“Jamu mengandung senyawa aktif dengan manfaat kesehatan yang sudah terbukti ilmiah. Secara filosofi holistik, jamu sejalan dengan tren wellness global,” papar Daniel Tjen.
Baca juga: China Masters 2024: Jojo Melaju ke Semifinal akan Hadapi Shi Yu Qi
Selain sebagai minuman berkhasiat dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, jamu juga bisa memberikan kontribusi sebagai produk unggulan untuk wisata kesehatan atau health tourism.
“Jamu juga menjadi salah satu elemen edukasi dalam mempromosikan budaya nusantara,” tambahnya.
Disinggung soal inovasi jamu dalam rangka ekspansi ke mancanegara, Daniel Tjen menjelaskan, di era digitalisasi, jamu bisa menjadi bahan edukasi dan promosi jamu melalui platform online.
“Sebagai produk modern, jamu ditransformasikan sebagai ramuan tradisional menjadi produk kesehatan dengan standar internasional,” jelasnya.
Baca juga: Liga Inggris 2024: Amorim Dihantui Cedera Pemain saat Debut Bersama Man Uited
Sedangkan untuk riset dan saintifikasi, manfaat jamu sudah dibuktikan melalui penelitian ilmiah.
“Kolaborasi global sangat penting. Kita bangun kemitraan dengan pakar kesehatan dunia untuk integrasi jamu dalam wellness tourism,” paparnya.
Sementara sebagai potensi ekonomi, jamu juga memiliki dampak ekonomi. Jamu bisa meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
“Perlu adanya pemberdayaan ekonomi lokal, terutama bagi petani herbal dan produsen tradisional. Jamu memberikan multiplier effect. Dari bahan baku hingga pariwisata, jamu menciptakan rantai nilai yang luas,” ujarnya.
Daniel Tjen mencontohkan dalam studi kasus kalau jamu menjadi daya tarik negara lain, yakni adanya desa wisata herbal yaang sukses menarik wisatawan global.
Baca juga: Tradisi Nyadran Gunung Silurah, Penghormatan Warga kepada Leluhur dan Alam
Dengan demikian, lanjut Daniel Tjen, perlu dibangun strategi untuk menuju kesehatan dunia. Strategi tersebut yakni:
Pertama, penguatan branding jamu. Etnaprana bisa tampil sebagai simbol jamu Indonesia di pentas dunia.
Kedua, inovasi produk jamu. Yakni dengan diversifikasi produk berbasis jamu untuk berbagai segmen pasar.
Ketiga, promosi terpadu. Dibentuk kolaborasi dengan industri pariwisata untuk menjadikan jamu bagian dari pengalaman wellness tourism.
Ketiga, sebagai edukasi publik. Meningkatkan kesadaran global tentang manfaat kesehatan jamu.
Baca juga: USM Gelar Workshop Pembuatan Proposal PKM Secara Hybrid
“Banyak kisah sukses dan inspiratif kalau produk jamu berhasil menembus pasar internasional. Wisatawan banyak yang kembali ke Indonesia untuk menikmati pengalaman wellness berbasis jamu.
Dengan inovasi dan kolaborasi, jamu dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat dunia," katanya.
Soal masa depan jamu dalam wellness tourism, Daniel Tjen mengungkapkan perlu visi global bahwa jamu menjadi produk kesehatan yang mendunia.
“Misi nasionalnya, memastikan jamu tetap menjadi kebanggaan dan kekuatan ekonomi Indonesia. Karena itu perlu komitmen bersama membangun ekosistem wellness tourism yang inklusif dan berkelanjutan,” tandasnya.
