HELOINDONESIA.COM -Healing Journey atau etnowellness itu merupakan bagian dari pariwisata kesehatan tradisional Indonesia yang tak dimiliki oleh negara lain.
Yang jadi pertanyaan, bagaimana peran pemerintah dalam hal ini untuk memajukan pariwisata Indonesia?
"Seberapa kuat dukungan dari pemerintah? Apakah serius untuk memajukan pariwisata atau hanya proyek agar ada dana keluar?" ucap Jongki Adiyasa, Pelaku Usaha Pariwisata yabg diikutip dari akun YouTube IWTIF pada Kamis (2/1/2025).
Tentu saja, menurutnya, bersama-sama dan seluruh lapisan masyarakat masyarakat, pelaku etnowellness itu bisa memajukan healing journey sebagai salah satu andalan pariwisata kesehatan nusantara.
Baca juga: DLH Bandarlampung Akan Benahi TPA Bakung dari Open Dumping ke Sanitary Landfill
Karena dalam pandangannya, healing Journey, entah Jawa atau Bali itu memiliki kekayaan budaya kesehatan yang tidak dimiliki oleh negara lain.
"Di Jawa dan di Bali benar-benar sesuatu banget deh. Tapi yang jadi pertanyaan, apakah sesuatu banget ini terekspos ke luar negeri? Ini yang menjadi persoalan," ujarnya.
Kalau tidak terekspos keluar, sambung Jongki, salah siapa?
"Apakah salah kita, kita dalam arti kata pelaku pariwisata, pelaku etnowellness, pelaku spa? Salah atau kurang binaan atau dukungan dari pemerintah?" ungkapnya.
Baca juga: Jalan Rusak, Tak Satu Pejabat Digubris Gudang Semen di Bumi Waras
Jongki sebagai salah satu pengurus di Asosiasi Pariwisata (Asita) menceritakan bagaimana pihaknya terjun langsung dalam mengembangkan pariwisata dengan market Timur Tengah.
"Bagaimana kita mengundang wisatawan dari Timur Tengah yang mungkin pada saat itu belum tahu apa-apa. Dan sekarang sudah ada orang (Timur Tengah) yang datang," ujarnya.
Healing Journey sendiri, menurut Jongki, sudah dimulai sejak tahun 1982.
"Jadi memang awalnya untuk cancer (pengobatan kanker). Tapi kemudian healing Journey menjadi proses untuk menyembuhkan seseorang yang mengalami trauma, perubahan hidup yang signifikan, sehingga mencapai kesehatan yang seimbang untuk hidup yang lebih baik," paparnya.
Baca juga: Peraih Emas Badminton Olimpiade Paris asal Tiongkok Huang Yaqiong Pensiun
Kalau memang healing Journey ini mau untuk digabungkan dengan pariwisata apa bisa?
Etnowellness, lanjutnya, sebagai salah satu pemanfaatan kesehatan tradisional dan sumber daya genetik Indonesia.
Saat ini etnowellness terus dikembangkan dalam upaya mempromosikan intelektual dan kearifan budaya Indonesia.
Apakah sudah terkenal? Apakah sudah meluas? Kalau bicara Bali, orang sudah banyak yang mengetahui sebagai tempat liburan. Di sana ada pantai, ada gunung, ada Pura Besakih.
"Hampir semua masyarakat tahu. Anak-anak kita lepas dari usia SD sudah tahu apa itu Bali," katanya.
Baca juga: Dihadiri Presiden Prabowo Subianto, Gubernur Kalsel Siapkan 15 Panggung untuk Puncak HPN 2025
Yang pasti etnowellness ini merupakan budaya kesehatan Indonesia, kearifan lokal, warisan para ahli pengobatan di Indonesia.
"Itu sangat perlu kita banggakan. Di awal kalimat apakah mampu menarik perhatian wisatawan mancanegara ? Sebagai pelaku pariwisata saya dengan haqqul yaqin menjawab yes, bisa!" ujarnya yakin
Pertanyaan berikutnya? Kalau bisa seberapa berhasilkah kita. Itu yang menjadi pertanyaan.
Akankah berhasil seperti Singapura, Penang atau Malaka yang menjadi tumpuan sebagian kecil untuk berobat?
Baca juga: Final Piala AFF 2024 Leg 1 : Vietnam vs Thailand, Dimulai pukul 20.00 WIB
"Tapi buat kalangan orang-orang di Medan penduduk di Jakarta itu berobat, pemikiran mereka enak di Penang, di Malaka atau di Singapura. Apakah pelaku wellness sudah melakukan kaidah pemasaran pariwisata? Ini yang perlu kita telaah bersama-sama," ungkapnya .
Menurutnya, banyak yang menganggap pemasaran pariwisata sangat mudah seperti menjual yang lain.
"Masih banyak yang berpikir, termasuk pejabat kita kalau wisatawan seperti datang dari langit. Tiba-tiba sudah muncul di bandara. Tinggal digarap dan diarahkan, disewakan mobil dan disewakan ke puncak," paparnya.
