LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Anshori Djausal, pria segudang talenta: akademisi teknik sipil/kebudayaan, arsitek, pakar ferosemen dan perancang ikonik dikenal titik nol Sumatra: Menara Siger Bakauheni Lampung Selatan, pakar layang-layang dan fotografi aerial kite, pehobi gemstone, pecinta satwa pemilik Taman Kupu-Kupu Gita Persada Bandarlampung, pegiat pariwisata, pelukis dan penulis produktif, pemerhati lingkungan, sastrawan cum budayawan Lampung ini.
Kiprahnya berawal dari sebagai dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik Unila hingga kelak lengkap gelar Ir. Anshori Djausal, M.Eng. Dia juga tercatat pernah jadi dosen tamu Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand; pakar cum anggota federasi ferosemen dunia yang telah menerapkan teknik ferosemen dalam kehidupan nelayan Pangandaran, Jawa Barat.

Pameran KAYUARA, ada layang-kayang raksasa Arjuna dan berbagai karya arsitektur
Jauh sebelumnya, ketika di ujung kuliahnya di ITB, tahun '90-an, Anshori membantu para nelayan membuat kapal hemat biaya dan tahan pelapukan dengan teknik ini. Sebelum kisah sukses itu dia ulang kala arsiteki Menara Siger kelak 2005.
Mantan Dekan Fakultas Teknik, pamuncak Wakil Rektor Unila Bidang Kerja Sama dan Teknologi Informasi dan Komunikasi ini jua langganan terdapuk Staf Ahli Gubernur Lampung dari era gubernur ke-8 Sjachroedin ZP, gubernur ke-9 M Ridho Ficardo, gubernur ke-10 Arinal Djunaidi, pun gubernur ke-11 kini (kebetulan keponakannya), Rahmat Mirzani Djausal.
Anshori Djausal tercatat pernah menjadi Wakil Ketua Komite Pariwisata Lampung 2009-2014, serta direktur dua BUMD Pemprov Lampung: PT Wahana Raharja dan PT Lampung Energi Berjaya (mengundurkan diri tak lama usai menjabat).

Pameran yang bisa mengedukasi keluarga tentang teknologi dan seni
DARI BENDA TERBANG HINGGA PIMPIN KORMI
Bicara layang-layang, dari hobi menukik sayang. Puluhan tahun bermain benda terbang, dia kawinkan dengan hasrat mempopulerkan potensi pariwisata provinsi nenek moyang. Jadilah dia rutin sejak 1991 gelar Festival Layang-Layang.
Jadi pulalah dia Ketua Persatuan Layang-layang Indonesia.
Dia juga sang pemrakarsa dan pemassal fotografi udara bermedium layang-layang (aerial kite photography) sejak 1993, jauh sebelum tren fotografi udara via aeromodelling. Berkeunggulan lebih murah daripada sewa heli, teknik fotografi aerial kite hasilkan angle foto unik, lebih luas.
Saat tsunami Aceh 2004, dia gunakan teknik ini pula. Dari hasil bidikan lewat layang-layang kesayangannya, didapat potret utuh dampak buas kerusakan pesisir akibat tsunami.
Kompas September 2011 menulis, terinspirasi dari ide Anshori, FT Unila mengembangkan riset wahana tanpa awak (UAV) yang bermanfaat dalam pembuatan peta lanskap-topografi, khususnya di bidang agroindustri.
Satu museum Australia disebut masih turut menyimpan sebagian layang-layang koleksi Anshori Djausal sebagai koleksi uniknya. Satu koleksi dia, notabene mengadaptasi model layang-layang pemancing ikan yang biasa digunakan nelayan tradisional di perairan Lempasing, Kota Bandarlampung.
Kelak seiring layang-layang berkembang hingga diakui sebagai salah satu cabang olahraga rekreasi seiring lahir UU 3/2005 tentang Keolahragaan Nasional (telah diubah dengan UU 11/2022), di mana selain KONI selaku pengampu cabang olahraga prestasi (penaja PON, PORPROV, PORKAB, PORKOT serta PORWIL khusus Sumatra, pelakunya disebut "atlet") dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) selaku pengampu kejuaraan resmi olahraga prestasi.
Pula, Komite Olahraga Rekreasi Indonesia (KORMI) selaku pengampu olahraga rekreasi (merujuk olahraga soft sport tourism, penaja FORNAS, FORPROV, FORKAB, FORKOT, pelakunya disebut "pegiat olahraga"); yang sejak didirikan pada 9 September 2000 di Jakarta bernama awal Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (FOMI), berubah menjadi Federasi Olahraga Rekreasi-Masyarakat Indonesia (FORMI) pada 2009, lalu jadi Komite Olahraga Rekreasi-Masyarakat Indonesia (KORMI) 2020, kata "Rekreasi" dihapus hingga menjadi Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) via Munaslub 2023.
Sampai sekarang, terus menaungi semakin banyak cabor baru anggota sejak lahirnya UU Keolahragaan Nasional pertama 2005, meliputi 18 cabang Olahraga Petualangan dan Tantangan (OPT), 18 cabang Olahraga Kesehatan dan Kebugaran (OKK), dan 18 cabang Olahraga Tradisional dan Kreasi Budaya (OTKB), serta Olahraga Table Top (magic: the gathering, mahyong, cardfight vanguard, big two, domino); Olahraga Lainnya (barongsai, olah raga pernapasan, senam kebugaran, tai chi, yoga, dsb).
KORMI telah jadi anggota The Association For International Sport for All (TAFISA), organ global penyebarluas gerakan Sport for All di dunia yang bertujuan mulia, agar olahraga dilakukan semua orang darisemua orang dari segala usia dan tingkatan ekonomi. Lalu, beberapa anggota KORMI juga merupakan anggota KONI seperti IODI (dancesport) dan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI).
Di Lampung, saat mula terbentuk sebagai kepengurusan wilayah FORMI dan mulai aktif berkiprah, kirimkan kontingen resmi pertama pada FORNAS V/2019 di Kalimantan Timur, lalu sejak masa pembentukan awal, pengembangan, hingga periode kepengurusan saat ini, Anshori Djausal menjadi motor penggerak sekaligus Ketua KORMI Provinsi Lampung pertama dua periode: 2020–2024 dan 2024–2028.

DARI HOBI KOLEKSI TANAMAN, HINGGA PELESTARI HUTAN
Mengoleksi tetumbuhan ragam spesies, hobi lain suami dari sang mantan pacar, sejawat dosen FT, Herawati Soekardi (74) yang kelak berinya empat buah hati: Alia Larasati (46), Meizano A (45), Gita Paramita (42, satu-satunya yang ikut jejak Anshori-Herawati, kini dosen FISIP Unila), dan bontot Anisa Nuraisa (33).
Mereka mencurah hobi langka ini dengan terus melengkapi pelbagai tanaman koleksi taman botani mini di lahan seluas 4,6 hektare di kaki Gunung Betung yang kondisinya gundul akibat perambahan hutan masif akhir 90-an, disulap hingga menjelma menjadi ikon pariwisata baru, kelak kini terkelola baik dan dikenal publik: Taman Kupu-Kupu Gita Persada, Sumberejo, Kemiling, Bandarlampung.
Sesuai nama, area ini menjadi "surga" kupu-kupu sekaligus arboretum mini. Dari semula tujuh spesies, keragamannya terus meningkat hingga berjumlah 160 spesies kupu-kupu bahkan lebih seiring waktu. Bagi yang belum tahu, di sini bahkan ada Graphium agamemnon dan Troides helena, dua spesies langka.
Memang, Taman Kupu-Kupu Gita Persada misal tak sebesar Taman Kupu-kupu Bantimurung di Sulawesi Selatan. Namun selain jadi langganan kunjungan pelancong hingga pejabat kementerian, kehadiran si taman menjadi bukti otentik kisah sukses rehabilitasi lahan kritis serta konservasi.
Capaian sekaligus jariyah Anshori dan keluarga lewat Yayasan Sahabat Alam diriannya dan istri ini, berbuah dia dipercaya pula mengelola 174 hektare kawasan Tahura Wan Abdul Rachman lewat pendekatan konservasi ekowisata. "Semoga ke depan Lampung tak lagi dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya "hobi" merusak hutan," asa dia yang jua konsultan World Wide Fund for Nature (WWF).
Passion Anshori menggeluti ikhtiar lestarikan aset warisan budaya lokal, antarkan dia jadi bagian lembaga pengampu mandat UU 11/2010 tentang Cagar Budaya yang bertugas berikan kajian, rekomendasi penetapan, pemeringkatan, dan penghapusan status cagar budaya (khusus warisan budaya benda), selaku Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Lampung hingga kini.
Di pusat SK menteri beranggota 9–15 orang, kabupaten/kota SK Bupati/Walikota beranggota 5–7 orang, provinsi SK Gubernur beranggotan7–9 orang; di Lampung, kebetulan salah satu anggota penggawa Anshori.

KAYUARA - Poster digital Pameran KAYUARA Anshori Djausal. | dok. IAI/Muzzamil/Helo Indonesia
Dan seabrek kiprah Anshori Djausal yang juga advisor Helo Indonesia Lampung sejak mula hadir menyapa pembaca daring Indonesia termasuk Lampung ini, seperti banyak orang bilang, memang layak dikagumi, layak panutan.
Betapa tidak, ditengah kesibukan super 'sersan' (serius tapi santai)-nya sebagai figur sentral perhelatan kali kedua, taja kebudayaan penampil arsip, karya, manuskrip pemikirannya melalui medium dokumentasi perjalanan historiografinya sebagai insinyur, arsitek, akademisi, dan budayawan— dari arsip, buku, foto, gambar teknik, kliping koran, master plan, video, hingga berbagai dokumentasi karya; secara tematik leburkan 3 pilar utama: arsitektur dan masyarakat, teknologi dan lingkungan, serta budaya Lampung, sekaligus.
Yakni Pameran 'KAYUARA: Arsitektur, Teknologi, dan Budaya Lampung dalam Karya dan Pemikiran Anshori Djausal' yang kini masih sedang berlangsung di Nuwa Baca Zainal Abidin Pagaralam, Gedung Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Jl ZA Pagaralam, Labuhanratu, Bandarlampung, sejak 20 Oktober lalu hingga 2 November 2026 setiap hari pukul 09.00–16.00 gratis terbuka untuk umum.
Melibatkan partisipasi bermakna sejumlah kolaborator di antaranya Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Lampung, Dewan Kesenian Lampung (DKL), komunitas penggerak pemberdaya pelinifokus pelestarian budaya daerah dan pengembangan potensi seni dan karakter anak usia dini (ruang belajar seni musik tradisional khas: cetik, gamolan, serdam; alat musik universal: akordion; seni suara, seni tari, pembekalan kemampuan/penguasaan bahasa Lampung dan Bahasa Prancis di sentra latihan mingguan Gedung DKL PKOR Way Halim Bandarlampung) pimpinan Rikki Ramlie: Komunitas Pelangi Anak Indonesia.
Serta, purwarupa karya mahasiswa arsitektur asal empat kampus: Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Universitas Bandar Lampung (UBL), Universitas Lampung (Unila), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY); diramaikan pula dengan lomba sketsa arsitektur, seminar, juga temuwicara.
"KAYUARA, merupakan pameran arsitektur, teknologi, dan budaya Lampung yang menghadirkan eksplorasi desain kontemporer berbasis kearifan lokal, inovasi material, dan keberlanjutan. Mengusung tema “Merangkai Masa Depan, Berakar pada Kearifan Lokal”, pameran ini menjadi ruang apresiasi, edukasi, dan kolaborasi bagi arsitek, akademisi, mahasiswa, pelaku industri kreatif, serta masyarakat untuk mengenal dan mengembangkan identitas arsitektur Lampung," kutipan unggahan khusus IAI, disitat Selasa.
Perhelatan pertamanya? Sukses raya, di ibukota. Pameran bertajuk sama, di Anjungan Lampung dan Contemporary Art Gallery, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, sukses dihelat satu bulan penuh, dibuka 12 September ditutup 12 Oktober 2026, jadi ruang merawat pengetahuan sekaligus memperkenalkan kekayaan arsitektur dan budaya Lampung kepada genre mendatang.
"Pameran ini menjadi ruang untuk membaca perjalanan pengetahuan, kreativitas, dan pengabdian Anshori Djausal selama lebih dari empat dekade," kutipan pidato tertulis sambutan pembukaan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal diwakili dibacakan Sekdaprov Marindo Kurniawan.
Sejatinya even by order (pinta khusus sejumlah pemuda pecinta pelestari budaya Lampung di Jakarta), Gubernur Mirza menilai keterlibatan genre muda Lampung dalam taja dikuratori Angga Wijaya itu jadi bagian penting hidupkan lagi warisan pengetahuan dengan perspektif baru.
Pemprov Lampung berharap Kayu Ara tidak hanya menjadi catatan perjalanan seorang tokoh, tetapi juga sumber inspirasi bagi lahirnya gagasan dan karya baru, sehingga kemajuan teknologi dan arsitektur dapat terus berjalan seiring dengan pelestarian identitas budaya Lampung. (Muzzamil)
