SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Penyakit jantung selama ini kerap diidentikkan sebagai penyakit kaum pria, ditandai dengan gambaran umum pria usia lanjut yang mengeluhkan nyeri dada hebat. Padahal, perempuan memiliki risiko yang sama besarnya terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah. Sayangnya, gejala penyakit jantung pada perempuan sering kali tidak khas sehingga terlambat disadari dan ditangani.
Isu krusial ini dikupas tuntas dalam gelar wicara Unlimited Talks bersama pembawa acara Unik Oke pada Kamis 27 Agustus 2026.
Baca juga: Wisuda Ke-77 USM Lepas 796 Lulusan, Rektor Ingatkan Kontribusi Nyata untuk Masyarakat
Mengangkat tema “Ngobrol Asyik: Jantung, Hormon, dan Perempuan, Apa yang Perlu Kita Tahu?”, acara ini menghadirkan dua pakar medis: dr. Hervyasti Purwiandari, SpOG (Dokter Spesialis Kandungan RSD KRMT Wongsonegoro dan RSIA Anugerah) serta dr Devina Gabriella Nugroho SpJP, FIHA (Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSD KRMT Wongsonegoro).
Menurut dr. Devina, perempuan sering tidak menyadari bahwa keluhan yang dialaminya bisa berkaitan dengan jantung. Peran ganda sebagai pekerja sekaligus ibu membuat banyak perempuan menganggap mudah lelah, berdebar atau sesak sebagai hal biasa. Akibatnya, pemeriksaan sering dilakukan ketika kondisi sudah terlambat.
Gejala serangan jantung pada perempuan memang bisa berbeda. Nyeri dada tetap menjadi tanda penting, tetapi dapat disertai mual, muntah, rasa panas di dada, lemas atau jantung berdebar. Nyeri dada yang muncul saat aktivitas, menetap dan membaik dengan istirahat sebaiknya tidak dianggap sepele.
Jantung berdebar pun tidak selalu berarti penyakit jantung. Menurut dr. Devina, berdebar setelah olahraga atau aktivitas berat merupakan respons normal. Yang perlu diwaspadai adalah berdebar yang muncul tiba-tiba tanpa pemicu, berlangsung lama atau iramanya tidak teratur, misalnya terasa seperti “loncat” atau ada denyut yang hilang. Kondisi tersebut setidaknya perlu diperiksa dengan EKG dan, bila diperlukan, Holter selama 24 jam.
Hubungan Hormon dan Jantung
Di sinilah hormon menjadi bagian penting. Dr. Hervyasti menjelaskan bahwa tubuh perempuan sangat dipengaruhi sistem hormonal, terutama estrogen dan progesteron. Perubahan hormon dapat memengaruhi kondisi tubuh, termasuk sistem kardiovaskular.
Keluhan berdebar menjelang menstruasi bisa saja berkaitan dengan perubahan hormonal. Namun, keluhan seperti berdebar, mudah lelah, pusing dan sesak juga harus dicari penyebab lainnya. Salah satunya anemia akibat menstruasi yang terlalu lama atau banyak.
“Jangan-jangan dia memang sering mengalami menstruasi yang lama, kemudian jadinya anemia,” kata dr. Hervyasti. Anemia dapat membuat jantung bekerja lebih keras dan, bila berlangsung lama, menambah beban sistem kardiovaskular.
Baca juga: Bengkel Sastra: Ari Pahala Jelaskan Teori Eliot Tentang Puisi yang Baik
Karena itu, menstruasi dapat menjadi semacam “rapor” kesehatan perempuan. Siklus umumnya berlangsung setiap 21–35 hari dengan lama menstruasi sekitar lima sampai tujuh hari. Perubahan pola yang terus terjadi sebaiknya diperhatikan dan diperiksakan bila mengkhawatirkan.
Hubungan hormon dan jantung semakin terlihat ketika membicarakan estrogen. Menurut dr. Devina, estrogen alami berperan pada pembuluh darah, metabolisme kolesterol dan sensitivitas insulin. Selama kadar estrogen masih ada, perempuan memperoleh sebagian perlindungan terhadap penyakit jantung. Namun, perlindungan itu berkurang ketika memasuki menopause.
“Menopause itu bukan sekadar berhenti haid,” kata dr. Hervyasti. Ketika menopause, kadar estrogen menurun dan perempuan mulai kehilangan sebagian perlindungan terhadap penyakit jantung koroner. Karena itu, menopause harus dipandang sebagai fase penting untuk semakin memperhatikan kesehatan.
Dr. Devina mengingatkan perempuan yang memasuki menopause untuk lebih memperhatikan pola makan, tekanan darah, kolesterol, gula darah dan aktivitas fisik. Makanan tinggi garam, makanan ultra-proses dan terlalu banyak gorengan sebaiknya dikurangi. Penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes dan kolesterol tinggi juga harus dikendalikan. Olahraga aerobik secara teratur, sekitar lima kali seminggu dengan durasi minimal 30 menit, dianjurkan untuk menjaga kesehatan jantung.
Namun, perempuan muda bukan berarti bebas dari risiko. Faktor genetik juga berperan. Dr. Devina mencontohkan familial hypercholesterolemia, ketika seseorang memiliki kolesterol tinggi karena faktor keturunan meskipun tubuhnya kurus dan terlihat sehat. Riwayat keluarga dengan penyakit jantung juga penting diperhatikan. Karena itu, pemeriksaan faktor risiko kardiovaskular dapat mulai dilakukan sejak usia dewasa, termasuk melalui medical check-up.
Pembahasan kemudian menyentuh kontrasepsi hormonal. Estrogen alami berbeda dengan estrogen yang diberikan melalui obat. Menurut dr. Devina, kontrasepsi oral kombinasi yang mengandung estrogen pada kelompok tertentu dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko pembekuan darah.
Dr Hervyasti menambahkan, perempuan dengan faktor risiko seperti hipertensi perlu dinilai terlebih dahulu sebelum menggunakan kontrasepsi hormonal. Ada risiko trombosis vena dalam dan retensi cairan yang dapat menambah beban jantung. Karena itu, “tidak ada kontrasepsi yang cocok buat semua orang.” Pemilihannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing perempuan.
Hubungan jantung dan kesehatan reproduksi semakin kompleks saat kehamilan. Selama hamil, volume darah dapat meningkat sekitar 30–50 persen dan denyut nadi meningkat sekitar 10–20 kali per menit. Pembuluh darah juga melebar. Perubahan ini merupakan adaptasi normal tubuh untuk memenuhi kebutuhan ibu dan janin.
Namun, kehamilan juga menjadi semacam “ujian” bagi jantung. Jika sebelumnya sudah terdapat gangguan jantung, peningkatan beban selama kehamilan dapat memperberat kondisi. Dr. Hervyasti menceritakan adanya kasus gangguan irama jantung pada ibu hamil usia muda, gangguan katup jantung, hingga anemia yang kemudian memperberat kerja jantung pada trimester kedua dan ketiga.
Karena itu, persiapan kehamilan seharusnya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Kondisi kesehatan secara keseluruhan, termasuk faktor risiko jantung, perlu diperhatikan sejak sebelum hamil.
Dari seluruh perbincangan tersebut, satu pesan terasa kuat: perempuan perlu mengenal tubuhnya sendiri.
Menstruasi yang berubah, mudah lelah, jantung berdebar, sesak atau rasa tidak nyaman di dada jangan selalu dianggap sebagai efek hormon, kelelahan atau masuk angin. Sebaliknya, tidak setiap keluhan juga berarti penyakit jantung. Yang penting adalah mengenali perubahan, memahami faktor risiko dan tahu kapan harus mencari pertolongan.
Menjaga jantung perempuan bukan dimulai ketika serangan jantung terjadi. Ia dimulai jauh sebelumnya, dari kebiasaan sehari-hari, pengendalian faktor risiko, perhatian terhadap perubahan hormonal, persiapan kehamilan hingga kesadaran menghadapi menopause.
Tubuh perempuan sebenarnya selalu memberikan tanda. Kadang melalui menstruasi, hormon, kehamilan, atau jantung yang tiba-tiba berdebar. Persoalannya sederhana: mau mendengarkan, atau menunggu sampai tubuh berteriak. (Aji)
