Helo Indonesia

Setelah di Puncak, Bersiaplah Turun

Annisa Egaleonita - Lain-lain
Sabtu, 28 Oktober 2023 20:18
    Bagikan  
Setelah di Puncak, Bersiaplah Turun

Gufron

Oleh Gufron Aziz Fuadi*

TAHUN 91, saat baru menikah, saya mengajak istri untuk naik bukit di belakang Pasar Koga, Gunung Banten. Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta, saya tentu sangat senang menikmati pemandangan Kota Bandarlampung dan semilir angin yang menerpa tiada henti dari bukit tersebut.

Pada masa itu, Umbul Kapuk belum berubah menjadi Bukit Randu. Tetapi sesenang-senangnya di puncak, kami tetap harus turun lagi ke bawah, tak mungkin selamanya di puncak.

Terkait dengan posisi puncak ini, saya teringat perkataan Umar bin Khattab saat mengomentari turunnya ayat, "...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu..." (QS. Al-Maidah ayat 3).

Ayat ini turun pada hari Jumat setelah Salat Ashar di Arafah saat Haji Wada. Sebagian besar sahabat meluapkan kegembiraannya menyambut ayat ini. Karena ayat ini memberi isyarat bahkan penegasan bahwa Agama Islam telah diturunkan secara lengkap dan sempurna.

Baca juga: Koalisi Partai Pendukung Ganjar -Mahfud Rapat Bahas Pemenangan Calonnya

Allah sudah ridha atas agama ini dan kinerja utusan-Nya. Tetapi, ada segelintir sahabat yang sedihnya melebihi gembiranya, antara lain Umar dan Ibnu Abbas. Mengapa?

Mereka memahami bahwa bila agama ini sudah sempurna dan sampai pada puncaknya maka setelah itu pasti hanya ada jalan turun. Karena, tidak ada puncak setelah puncak.

Begitu juga nabi, setelah tugasnya sempurna, maka Beliau pasti akan kembali kepada Rabnya, meninggalkan semua sahabatnya. Sehingga di tengah kegembiraan itu akhirnya tidak sedikit sahabat yang mengiri dengan tangisan.

Segala sesuatu itu ada puncaknya, karenanya selalu ada masa turunnya. Sebagaimana sabda nabi Saw seperti yang diceritakan Abu Hurrairah, "Rasulullah SAW mengatakan segala sesuatu di dunia memiliki puncak. Dalam Alquran puncaknya adalah surat Al-Baqarah. Di dalam Al Baqarah ada ayat yang merupakan tuan dari ayat yang lain yaitu Ayat Kursi." (HR Tirmidzi).

Bila agama saja ada puncaknya apalagi dunia seperti kekuasaan, jabatan dan kekayaan. Bahkan umur pun ada puncaknya. Kecantikan dan keindahan manusia juga ada puncaknya.

Baca juga: Polres Tubaba Ungkap Pencurian Warung Milik Edi Suwandi

Sehingga tidak ada orang yang terus menerus berkuasa, meskipun dia ingin. Tidak ada orang yang terus muda, pasti akan sampai pada masa tuanya (bahkan istri muda pun, pada akhirnya tua juga).

Sebagai mana tidak ada orang cantik terus menerus, pasti ada masa tua dan keriputnya. Maka kalau ada kawan lama yang bertemu kembali dan mengatakan, wah makin cantik aja atau makin ganteng aja, bisa dipastikan ia sedang berbohong dengan pujiannya.

Kekuasaan yang terlalu lama akan menimbulkan kezaliman. Karena setiap kekuasaan, kata Lord Acton, cenderung korup atau otoriter. Dan kekuasaan yang absolut pasti akan otoriter.

Ini tentu bukan omong kosong, tetapi kesimpulan dari perjalanan sejarah panjang umat manusia. Betapa kekuasaan itu candu bagi manusia.

Kalau sudah pernah mencoba, sulit untuk meninggalkannya. Bila sudah duduk lupa berdirinya. Berhenti berkuasa seakan membawanya dalam kondisi sakau.

Akhir hidup Firaun yang ingin melampaui puncak kekuasaannya atau akhir hidup Qarun yang ingin melanggengkan kekayaannya dan Haman menteri segala urusan di pemerintahannya Firaun yang dibinasakan Allah tidak cukup menjadi pelajaran.

Baca juga: Kapolres Tanggamus Pimpin Upacara Hari Sumpah Pemuda 2023

Karena orang yang sakau, tidak butuh nasihat dan pelajaran, dia hanya butuh tambahan dosis (obat, kekayaan atau kekuasaan).

Puncak kejayaan Uni Soviet berakhir di negara miskin, Afghanistan. Kedigdayaan Amerika Serikat di PD I dan II saat ini pun sedang turun dari puncaknya dengan hutang yang membengkak.

Kita bersyukur para pendiri bangsa kita menyebut dan menetapkan negara kita adalah negara hukum.
Sebagaimana penjelasan UUD RI 1945, Indonesia adalah negara berdasarkan atas hukum (rechtsstaat) dan tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat).

Maknanya adalah bahwa hukum lah yang mengatur kekuasaan, agar kekuasaan dilaksanakan sesuai koridor hukum. Bukan sebaliknya, kekuasaan yang mengatur hukum agar hukum sesuai dengan keinginan yang sedang berkuasa.

Dimana bila hukum yang berlaku tidak sesuai dengan rencana dan keinginannya, maka hukum itu dirubah agar sesuai dengan keinginannya melalui dekrit. Tetapi agar kesannya tidak mengangkangi hukum (menjadi machtsstaat) maka dilakukan melalui mekanisme resmi, misalnya lewat MK.

Maka yang terbaik adalah bila sudah sampai di puncak, sebaiknya bersiaplah untuk turun. Sebab kalau tidak turun, kata emak emak, buat geli aja.

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)