Helo Indonesia

Semangat Dalung Kuripan Abad ke-17 Lampung–Banten Jelang HPN 2026 dan PON 2032

Herman Batin Mangku - Opini
2 jam 19 menit lalu
    Bagikan  
S
Helo Lampung

S - HBM

Oleh: Herman Batin Mangku*

ADA dua agenda nasional yang mempertemukan kembali ikatan sejarah Lampung dan Banten. Pertama, perhelatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan digelar pada 9 Februari 2026 di Provinsi Banten. Kedua, tekad bersama Lampung–Banten untuk menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XXIII Tahun 2032.

Dua agenda besar ini bukan sekadar kegiatan seremonial dan olahraga. Ia adalah momentum kebangsaan yang menghidupkan kembali tali persaudaraan lama yang telah terjalin sejak berabad-abad silam. Karena itu, PWI dan KONI Lampung tentu berdiri di barisan terdepan untuk mendukung penuh kedua hajatan nasional tersebut.

Baca juga: Hadiri Pelantikan KONI Banten, Lampung Mantapkan Diri Tuan Rumah Bersama PON 2032

Baca juga: Perkuat Solidaritas, PWI Tubaba Pastikan Hadiri Puncak HPN 2026 di Banten

Lampung dan Banten, dua provinsi yang dipisahkan Selat Sunda, sejatinya telah bersaudara sejak abad ke-16, tepatnya sekitar 1552 Masehi. Ikatan itu tertuang dalam Prasasti Dalung Kuripan, sebuah perjanjian persahabatan antara Sultan Banten Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dengan para leluhur pemimpin adat Lampung.

Isi perjanjian itu sarat makna persatuan: jika Banten diserang musuh, Lampung wajib membantu. Sebaliknya, jika Lampung mendapat ancaman, Banten akan datang membela. Catatan sejarah bahkan menyebutkan bahwa Lampung pernah membantu Banten dalam menghadapi serangan Pajajaran. 

Perjanjian Prasasti Dalung Kuripan tak hanya soal politik, tapi juga penyebaran agama Islam dari Banten ke Lampung, bisnis pada dari Lampung ke Banten, dan kepentingan kedua daerah lainnya. 

Ikatan tersebut bukan hanya simbolik. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, terbentuk perkampungan orang Lampung di wilayah Cikoneng, Anyer, Banten. Jejak ini menjadi bukti bahwa hubungan Lampung–Banten bukan hubungan administratif semata, melainkan hubungan darah, budaya, dan emosi yang terus hidup lintas generasi.

undefined

Heri Cihuy ikut mengawal perjuangan rakyat Banten jadi provinsi. Foto saat bersama tokoh PWI Banten Lukman Hakim dan PWI Lampung Harun Muda Indrajaya. 

Sejarah kemudian bergerak ke fase modern. Pada tahun 1996, perjuangan lahirnya Provinsi Banten mulai menemukan momentumnya. Di titik inilah, peran insan pers—khususnya dari Lampung—menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah tersebut.

Tokoh pers Lampung, Harun Muda Indrajaya, yang saat itu menjabat Ketua PWI Lampung, mengambil langkah strategis dengan menerjunkan Heri CH Burmelli ke Banten. Heri—yang akrab disapa Heri Cihuy—dipercaya memimpin Surat Kabar Umum (SKU) Banten Ekspres, bagian dari grup Surat Kabar Harian (SKH) Lampung Ekspres.

Melalui media inilah, suara rakyat Banten disuarakan tanpa henti. Di bawah komando Heri Cihuy, Banten Ekspres menjadi corong aspirasi masyarakat, tokoh adat, ulama, dan elemen sipil yang mendambakan Banten berdiri sebagai provinsi mandiri, lepas dari Provinsi Jawa Barat.

undefined

Perjuangan itu tidak mudah. Namun pena tak pernah berhenti bergerak. Berita demi berita, tajuk demi tajuk, menjadi bahan bakar kesadaran publik dan tekanan moral kepada negara. Hingga akhirnya, pada tahun 2000, Provinsi Banten resmi lahir sebagai provinsi ke-30 di Indonesia.

Menjelang HPN 2026 di Banten, Heri Cihuy mengenang kembali fase perjuangan itu lewat catatan yang ia kirimkan kepada saya. Ia menegaskan bahwa PWI bukan sekadar organisasi profesi, melainkan bagian dari sejarah lahirnya sebuah daerah.

Saat itu, PWI Pusat di bawah kepemimpinan Tarman Azam memberikan dukungan penuh terhadap perjuangan pers di Banten. Bahkan, SKU Banten Ekspres mendapat dukungan internasional berupa suntikan dana dari UNESCO, sebagai penguatan peran pers lokal dalam demokratisasi dan pembangunan daerah.

Banten kala itu dikenal sebagai wilayah “kulon” yang terpinggirkan—padahal letaknya berdekatan dengan Ibu Kota Negara. Naluri jurnalistik dan keberpihakan kepada keadilan sosial itulah yang mendorong insan pers Lampung untuk ikut berjuang di Banten.

undefined

KONI Lampung dan Banten berjuang bersama jadi tuan rumah PON 2032.

Kini, ketika Banten bersiap menjadi tuan rumah HPN 2026, dan Lampung–Banten bahu-membahu mengincar PON 2032, sejarah kembali mengetuk kesadaran kita. Prasasti Dalung Kuripan bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan ruh persaudaraan yang relevan hingga hari ini.

Anak-cucu Lampung dan Banten patut merawat ingatan kolektif ini. Bahwa pers, olahraga, dan kebudayaan adalah simpul pemersatu bangsa. Bahwa persaudaraan lama bisa menjadi energi baru untuk menyongsong masa depan.

Tabik pun.

*Anggota PWI Lampung