Oleh khairuddin*
LAMPUNG.HELO INDONESIA.COM.---- SELASA (5/12/2023) institusi Polri di Sang Bumi Ruwa Jurai dipecundangi penghuni bui. Pasalnya, sekitar pukul 03.00 pagi buta, empat kurir narkoba sabu yang belum sebulan dikerangkeng kabur dengan cara memotong teralis besi. Hingga kini, kawanan kurir puluhan kilo sabu jaringan Aceh itu masih menghirup udara segar alias belum tertangkap kembali.
Tahanan kabur dari tahanan baik setelah divonis atau sedang menjalani proses hukum di kolong langit ini, bukan rahasia lagi. Pada tahun 2000-an, belasan penghuni rutan kabupaten tempat saya tinggal melakukan hal serupa.
Kala itu petugas tak dapat berbuat banyak. Rasa panik dan mungkin ketakutan petugas jaga hanya bisa pasrah melihat belasan orang bermasalah itu keluar dari tempat mereka dikerangkeng. Beberapa hari setelah insiden, ada sebagian dari mereka yang berhasil ditangkap dan sebagian lagi menyerahkan diri. Insiden kaburnya belasan penghuni " neraka" dunia kala itu sangat membuat tercengang berbagai kalangan. Berbagai spekulasi dilontarkan banyak pihak.
Baca juga: Pemprov Lampung Gelar Rakor Menghadapi Nataru
Ada yang menuding para tahanan kabur karena melibatkan "orang dalam" dan sudah direncanakan. Ada pula yang berpendapat insiden tersebut murni terjadi tanpa melibatkan petugas.
Lantas, bagaimana kita menyikapi insiden kaburnya empat kawanan kurir narkoba dengan barang bukti puluhan kilo sabu yang berhasil kabur dari " kandang" singa; Polda Lampung.
Saya tak bermasud menyudutkan petinggi Polri di provinsi ini atau memvonis salah bagi polisi yang mendapat tugas jaga saat itu. Tapi, tentunya insiden ini membuat publik tersentak dan seakan tak percaya jika peristiwa itu bisa terjadi.
" Masa iya di kandang harimau tahanan bisa leluasa kabur. Apa kerjaan petugas jaga malam itu," gerutu seorang teman.
Baca juga: Polri Mutasi 535 Personel, 5 Kapolda, 4 Wakapolda, Dll
Jika kita telaah dari bangunan, kita ketahui markas yang dihuni pimpinan berpangkat bintang dua itu belum lama ditempati. Ketika proses pembangunan, tentunya pihak pelaksana proyek atau kontraktor tentunya mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan.
Tanpa kecuali bangunan atau ruang tahanan. Guna mencegah tahanan kabur seperti yang terjadi sekarang, ruang tahanan seharusnya dibangun dengan material berkualitas baik menyangkut bagian atas yang dicor berlapis dengan anyaman besi serta jeruji besi baja yang tak dapat digergaji apalagi dipatahkan.
"Mungkin yang digergaji itu besi nya kurang berkualitas. Atau malah terbuat dari bahan plastik," seloroh teman lagi.
Apapun kualitas bangunan yang belum lama dihuni para petinggi Polri di provinsi ini, tidak perlu kita pertanyakan. Biarlah pihak pelaksana proyek yang membenahinya.
Yang sangat membuat kita tercengang, bagaimana pula properti seperti gergaji besi atau peralatan lain bisa masuk ke markas yang 24 jam dijaga dengan ekstra ketat itu. Biasanya, untuk membezuk tahanan, apa lagi di Polda, pemeriksaan barang bawaan termasuk nasi bungkus dan lauk pauk tak jarang diacak-acak petugas. Tindakan itu untuk mengantisipasi adanya barang terlarang menyusup ke dalam sel seperti gergaji besi tadi. Apakah ini kelalaian petugas atau maaf " pura-pura" tidak tahu.
Baca juga: Ashiyap, 86 Dan
Lalu, setelah alat pemotong besi lolos atau sampai ke pelukan empat kawanan kurir barang haram itu, untuk memotong teralis besi yang belum jelas kualitasnya, pelaku tentunya butuh waktu yang tidak sekejap.
Dan, ketika pelaku sibuk memotong beberapa teralis, pastinya menimbulkan suara yang mungkin dapat didengar petugas jaga. Apakah saat itu petugas jaga terlelap dengan mimpinya atau lalai memeriksa tahanan, kita serahkan ke propam atau penyidik.
Yang pasti, kawanan kurir narkoba yang terancam hukuman mati itu berhasil kabur dari kandang singa. Mungkin pelaku berpikir, dengan barang bukti puluhan kilo sabu, bisa dipastikan akan diganjar hukuman seumur hidup atau hukuman mati. Karena tak ada pilihaan, dengan segala cara mereka lebih memilih kabur.
Baca juga: Perubahah, Kata Kunci Maju Pesatnya Madinah
Semoga masa mendatang, tak ada lagi penghuni bui yang bisa kabur apalagi dari kandang singa. Bagi petugas jaga yang mungkin menghadapi proses hukum, hemat saya itu sebuah resiko tugas atau pekerjaan. Tak kalah penting, petugas dapat menangkap kembali kurir narkoba asal provinsi serambi mekkah itu. Dan, dijebloskan kembali ke kandang singa yang ekstra super ketat. Tabik.
* Wartawan HeloIndonedia.Com.
* Sekretaris PWI Lampung Timur.