HELOINDONESIA.COM - Data BPS tahun 2023 mengungkap tren menarik mengenai keputusan childfree (tanpa anak) di Indonesia.
Sebanyak 71.000 perempuan usia produktif di Indonesia memilih untuk tidak memiliki anak, mewakili sekitar 8,2% dari total populasi perempuan dalam rentang usia tersebut.
Konsentrasi di Wilayah Urban DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten menjadi tiga wilayah dengan persentase perempuan childfree tertinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa fenomena ini lebih dominan di daerah perkotaan.
Meskipun sempat mengalami penurunan sementara pada awal pandemi COVID-19, secara umum tren pilihan hidup childfree di Indonesia menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Data BPS hanya mencakup perempuan menikah yang tidak menggunakan kontrasepsi.
Baca juga: Kumamoto Masters 2024: Jorji ke Perempat Final, Ana/Tiwi Kandas
Jika kelompok perempuan belum menikah dan pengguna alat kontrasepsi turut dihitung, maka jumlah kasus childfree di Indonesia diperkirakan akan lebih besar lagi.
BPS mengidentifikasi sejumlah alasan di balik keputusan perempuan untuk hidup tanpa anak, di antaranya keinginan untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi misal S2 dan S3.
Faktor kesulitan ekonomi yaitu biaya hidup yang semakin tinggi juga membuat sebagian masyarakat Indonesia merasa tidak mampu untuk menanggung beban sebagai orangtua.
Selain itu, BPS menyebut bahwa gaya hidup, termasuk orientasi seksual beragam misal sesama jenis, juga menjadi alasan bagi sebagian perempuan untuk memilih childfree.
Trauma masa lalu dan ketakutan terhadap komitmen serta tanggung jawab besar dalam membesarkan anak juga menjadi pertimbangan lainnya.
Baca juga: Jadwal Pertandingan Australia vs Arab Saudi di Matchday Ke-5 Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia
Resesi Seks
Keputusan childfree ini, menurut para ahli, tidak terlepas dari fenomena "resesi seks" yang sudah terlihat di negara-negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.
Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya usia pernikahan dan berkurangnya minat generasi muda untuk berhubungan intim.
Istilah "resesi seks" pertama kali dipopulerkan oleh Kate Julian dalam artikel di The Atlantic yang menjelaskan bahwa generasi muda Amerika Serikat saat ini berhubungan seks lebih sedikit dibandingkan generasi sebelumnya.
Fenomena ini diduga terjadi karena berbagai faktor, termasuk budaya hookup, tekanan ekonomi, kecemasan yang tinggi, perubahan psikologis, maraknya vibrator, penggunaan antidepresan yang meluas serta faktor teknologi dan media sosial yang menambah distraksi dalam hubungan antarindividu.
Televisi streaming, porno digital, dan aplikasi kencan adalah satu dari sekian banyak faktor-faktor teknologi yang mempengaruhi gaya hidup tanpa anak ini. ***