Helo Indonesia

Beton Retak Setelah Cor? Kenali Penyebab dan Cara Menanganinya

Faisal Akbar - Lain-lain
6 jam 15 menit lalu
    Bagikan  
Beton Retak
SS

Beton Retak - Beton Retak Setelah Cor? Kenali Penyebab dan Cara Menanganinya

HELOINDONESIA.COM - Dalam proses pembangunan, sering kali ditemui beton mengalami keretakan setelah dicor. Keretakan pada beton tidak selalu dikarenakan kualitas bahan yang digunakan tidak bagus. Kondisi tersebut terjadi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor selama proses pengerjaan, seperti komposisi campuran, proses pengecoran, dan perawatan yang kurang tepat, hingga faktor kondisi lingkungan di sekitar beton. 

Keretakan bahkan dapat muncul ketika beton masih dalam proses pengeringan dan pengerasan. Hal ini dikarenakan adanya perubahan kadar air, suhu, penyusutan, beban pada struktur yang mempengaruhi kondisi beton. Oleh karena itu, ketika menemukan retakan pada beton, penting untuk mengetahui penyebabnya terlebih dahulu sebelum melakukan penanganannya. 

Agar tidak salah langkah penanganan seperti penggunaan obat cor beton, yuk ketahui dulu apa saja yang menyebabkan beton retak setelah pengecoran berikut ini.

Penyebab Beton Mengalami Retak Setelah Pengecoran 

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko beton mengalami keretakan setelah proses pengecoran. Kondisi ini terjadi baik karena faktor campuran beton maupun kondisi beton itu sendiri setelah dicor. Berikut beberapa faktor penyebab yang perlu diperhatikan. 

1. Rasio Air Semen Tidak Tepat 

Penyebab pertama beton retak setelah dicor adalah rasio air dan semen yang tidak tepat. Air memang sangat dibutuhkan dalam campuran beton dalam proses hidrasi semen dan menghasilkan workability yang sesuai dengan kebutuhan konstruksi. Namun, jumlah air tetap harus disesuaikan dengan rasio rancangan campuran beton yang diinginkan. 

Penggunaan air yang terlalu banyak dalam campuran akan meningkatkan risiko penyusutan ketika air menguap selama proses pengeringan beton. Perubahan volume ini akan mengakibatkan munculnya tegangan pada beton dan memicu keretakan. 

Maka dari itu, penambahan air dalam campuran untuk membuat beton lebih mudah dikerjakan harus dilakukan secara hati-hati dan penuh perhitungan. Workability beton diperoleh melalui komposisi campuran yang tepat dan penggunaan admixture atau obat cor beton sesuai kebutuhan. 

2. Proses Curing Kurang Optimal 

Setelah selesai pengecoran, beton masih memerlukan perawatan atau curing untuk membantu proses hidrasi semen dan perkembangan kekuatannya. Curing yang dilakukan kurang optimal bisa menyebabkan air pada permukaan beton menguap terlalu cepat. Hal ini dikarenakan beton terpapar panas matahari, angin, hingga lingkungan dengan kelembapan rendah.

Beton yang kehilangan air terlalu cepat akan membuat permukaan beton menyusut lebih cepat dibandingkan dengan bagian yang ada di bawahnya. Perbedaan tersebut pada akhirnya akan meningkatkan tegangan pada beton hingga memicu keretakan di permukaan.

3. Penyusutan Beton Saat Mengering 

Beton dapat mengalami penyusutan selama proses kekeringan karena kehilangan kelembapan. Maka dari itu, perubahan volume karena penyusutan ini perlu diperhitungkan sejak awal karena dapat mengakibatkan keretakan apabila pergerakan beton tertahan oleh elemen lain di sekitarnya. 

Beton yang tidak bisa bergerak secara bebas karena adanya penghalang maka akan mengakibatkan terjadinya tegangan pada beton. Ketika tegangan yang terjadi lebih besar dari kemampuan beton untuk menahannya maka memunculkan keretakan pada permukaan beton. Oleh karena itu, pengendalian penyusutan harus diperhatikan sejak awal baik dari tahap perencanaan campuran hingga proses perawatan setelah pengecoran. 

4. Beban atau Pergerakan Struktur  

Tidak semua retakan yang muncul pada beton disebabkan selama  proses pengeringan. Kondisi tersebut juga bisa disebabkan oleh  beban atau pergerakan struktur. Beban yang melebihi kapasitas perencanaan dapat memberikan tegangan berlebih pada beton. 

Sedangkan pergerakan tanah, settlement, perubahan suhu, hingga pergerakan antarbagian struktur juga dapat mengakibatkan munculnya keretakan pada permukaan beton. Apabila keretakan yang terjadi semakin melebar, memanjang, bahkan disertai dengan perubahan posisi struktur maka diperlukan tenaga ahli untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Cara Mengurangi Risiko Retak pada Beton 

Setelah mengetahui penyebab beton retak setelah dicor, maka saat ini Anda sudah bisa melakukan beberapa langkah untuk mengurangi risiko keretakan. Keretakan pada beton dapat dicegah dengan memperhatikan tahapan sebelum, selama, dan setelah pengecoran, hingga pemilihan material dan metode pengerjaan yang tepat. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan. 

1. Persiapkan Campuran yang Sesuai 

Salah satu cara mengurangi risiko beton retak setelah dicor ialah dengan memastikan campuran bahan seperti semen, air, agregat, dan bahan tambahan lainnya sesuai. Campuran yang tepat akan menghasilkan beton dengan workability dan karakteristik yang diinginkan sesuai kebutuh konstruksi. Selain itu, hindari penggunaan air yang berlebihan karena dapat mempengaruhi performa beton setelah mengeras nantinya.

2. Penggunaan Admixture bila Dibutuhkan 

Cara selanjutnya adalah menggunakan admixture bila dibutuhkan. Admixture atau yang dikenal dengan obat cor beton merupakan bahan tambahan yang digunakan untuk memberikan sifat tertentu pada beton.  Namun yang perlu diingat bahwa obat cor beton bukanlah bahan yang dapat memperbaiki segala jenis kerusakan pada beton. 

Pada kondisi tertentu, obat cor beton dapat membantu menghasilkan karakteristik beton yang diinginkan tanpa harus meningkatkan jumlah air dalam campuran. Namun tetap perhatikan jenis dan dosis penggunaannya agar hasil beton dapat maksimal.

3. Perawatan Beton setelah Pengecoran 

Perawatan atau curing menjadi langkah yang sangat penting dalam mengurangi risiko beton retak setelah dicor.  Dalam tahap ini, beton harus tetap dijaga agar tidak kehilangan air terlalu cepat saat proses pengerasan. 

Metode curing yang digunakan dapat disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan kondisi lingkungan sekitar beton. Perlindungan yang optimal dari panas matahari, angin, serta kondisi yang mempercepat penguapan dapat membantu menjaga kelembapan beton dan kekuatannya. 

Buat Performa Beton Optimal dengan Menggunakan Obat Cor Beton dari SIKA!

Kualitas beton tidak hanya ditentukan oleh bahan utama seperti semen, kerikil, dan agregat. Pada kondisi tertentu, campuran beton memerlukan bahan tambahan berupa admixture atau obat cor beton untuk mendapatkan karakteristik beton yang sesuai dengan kebutuhan konstruksi. 

Salah satu produk obat cor beton terbaik yang bisa menjadi pilihan adalah SikaCimĀ® Concrete Additive. Produk unggulan dari Sika Indonesia ini dapat membantu meningkatkan workability beton dan mengurangi kebutuhan air dalam campuran. SikaCimĀ® Concrete Additive dapat mengurangi kebutuhan air hingga 20% dan mampu meningkatkan kekuatan tekan beton hingga 40% pada usia 28 hari. 

Yuk buat performa dan kualitas beton jadi optimal dengan obat cor beton dari Sika Indonesia karena telah berpengalaman di bidang bahan kimia proyek lebih dari 115 tahun. Sika juga dikenal sebagai pencetus waterproofing semen pertama di Indonesia dan telah dipercaya oleh beragam proyek dalam dan luar negeri. Untuk itu, segera konsultasikan kebutuhan proyek konstruksi Anda bersama Sika Indonesia sekarang juga!