Helo Indonesia

Pascaerupsi, Anak Krakatau Tambah Luas dan Muncul Jadi Dua Pulau Kembar di Kiri-Kanan

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
1 jam 0 menit lalu
    Bagikan  
KRAKATAU
HELO LAMPUNG

KRAKATAU - Muncul dua pulau baru pascareupsi Anak Krakatau

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Anak Gunung Krakatau (GAK) kembali mengubah wajah Selat Sunda. Pascaserangkaian erupsi pada awal September 2026, bukan hanya aktivitas vulkaniknya yang menjadi perhatian. Selain GAK tambah luas, muncul dua daratan baru di sekitar tubuh gunung api aktif tersebut. 

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi keberadaan dua daratan baru itu berdasarkan laporan pelaut dan relawan serta analisis citra satelit Sentinel yang dievaluasi hingga 23 September 2026.

Posisi kedua pulau masing-masing di sektor barat laut dan tenggara. Daratan pertama berada di sektor barat laut, sekitar 760 meter dan daratan kedua berada di sektor tenggara, sekitar 495 meter dari pesisir GAK. 

undefined

Baca juga: Pascaerupsi Anak Krakatau, Lahir Pulau Baru 30,3 Ha, Cucu Krakatau?

Kemunculannya merupakan bagian dari perubahan morfologi Anak Krakatau setelah erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam, sejak 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Erupsi panjang itu menghasilkan aliran lava yang bergerak ke arah barat laut, barat hingga barat daya.

Sebelumnya, sejak statusnya dinaikkan menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026, Anak Krakatau telah mengalami 224 kali erupsi hingga 3 September 2026. Setelah erupsi menerus berhenti, masih tercatat tujuh kali erupsi strombolian.

Baca juga: Krakatau Ngamuk Lagi, Gubernur Mirza Perpanjang Daring Sekolah

GAK Bertambah 32,8 Hektare

Badan Geologi mencatat erupsi 4-6 September tidak hanya mengubah bentuk permukaan di sekitar kawah, tetapi juga menyebabkan penambahan luas tubuh Anak Krakatau sekitar 32,8 hektare.

Penambahan tersebut terutama berkaitan dengan pengendapan material hasil erupsi, termasuk material piroklastik dan aliran lava yang kemudian menumpuk di sektor tertentu di sekitar tubuh gunung.

Karena itu, istilah pulau baru dalam pemberitaan perlu dipahami secara hati-hati. Daratan yang terlihat dari citra satelit belum serta-merta berarti terbentuk pulau vulkanik yang sudah stabil atau permanen.

Baca juga: Mayat Kru Kapal 5 Wartawan Liputan Krakatau Ditemukan di Pulau Enggano

Badan Geologi masih melakukan kajian untuk memastikan karakter, proses pembentukan, serta kestabilan kedua daratan tersebut.

Secara geologis, material vulkanik yang baru terbentuk masih dapat berubah akibat aktivitas gunung api, gelombang laut, erosi, maupun pengendapan lanjutan.

Dengan kata lain, Selat Sunda sedang memperlihatkan sebuah proses geologi yang masih berlangsung, bukan sekadar munculnya dua bidang tanah baru di tengah laut.

Status Turun, Bahaya Belum Hilang

Di tengah perubahan morfologi tersebut, aktivitas vulkanik Anak Krakatau justru menunjukkan kecenderungan menurun. Badan Geologi menurunkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) mulai 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.

Penurunan status dilakukan setelah evaluasi menyeluruh menunjukkan aktivitas vulkanik cenderung menurun dan data deformasi memperlihatkan gejala deflasi. Namun, penurunan status bukan berarti Anak Krakatau telah aman sepenuhnya.

Badan Geologi tetap merekomendasikan agar masyarakat, wisatawan maupun pendaki tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas kawah. Ketentuan itu sebelumnya 3 kilometer ketika gunung berada pada Level III atau Siaga.

Untuk dua daratan baru yang berada hanya ratusan meter dari tubuh Anak Krakatau, kehati-hatian menjadi semakin penting. Jarak sekitar 495 meter dan 760 meter itu masih berada jauh di dalam zona larangan dua kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Artinya, kedua daratan baru tersebut bukan destinasi wisata baru. Ia justru menjadi semacam halaman baru dari buku panjang aktivitas Krakatau—terbentuk dari material letusan, tetapi masih berada di kawasan yang menyimpan potensi bahaya vulkanik.

Krakatau dan Jejak Bencana Selat Sunda

GAK merupakan gunung api aktif tipe A yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Pemantauannya dilakukan melalui Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, serta Pos Pengamatan di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Sejarah kawasan ini juga tidak bisa dilepaskan dari letusan Krakatau 1883 yang menghasilkan tsunami besar. Lebih dari satu abad kemudian, pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau setelah aktivitas erupsi juga memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Karena itu, kemunculan dua daratan baru setelah erupsi September 2026 menjadi fenomena geologi yang menarik untuk diamati sekaligus mengingatkan bahwa Krakatau bukan gunung yang diam.

Wajahnya dapat berubah dalam hitungan hari. Yang hari ini terlihat sebagai gundukan hitam di tengah laut, bisa menjadi bagian permanen dari tubuh gunung—atau sebaliknya, kembali terkikis ombak dan hilang ditelan Selat Sunda.

Untuk sementara, Badan Geologi menegaskan masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dan tidak mendekati kawasan terlarang. Sebab di sekitar Krakatau, daratan baru bukan hanya cerita tentang kelahiran, tetapi juga tentang proses alam yang masih terus bekerja. (HBM)