Oleh Gufron Aziz Fuadi *
DULU, tidak lama setelah saya menikah, ayah mertua saya memberikan beberapa nasihat, salah satu diantaranya jangan bertengkar ditempat tidur atau menjelang tidur. Belakangan, setelah sekian tahun, saya baru faham mengapa kita (suami-istri) harus menghindari bertengkar menjelang tidur. Pertama, saat saya mengikuti kelas hipnoterapi ternyata saat saat menjelang tidur adalah saat yang paling baik untuk menanamkan suatu nilai dalam persepsi bawah sadar seseorang.
Maka wajar bila kita mendapati anak anak yang sukses dan berintegritas, ternyata mereka terbiasa mendengarkan cerita atau dongeng yang baik dari orang tuanya. Disamping mereka juga mendapatkan kasih sayang dibutuhkan untuk pertumbuhan karakternya.
Sebaliknya, kalau suami istri biasa bertengkar menjelang tidur, maka persepsi alam bawah sadarnya akan terbentuk bahwa mereka tidak saling menyayangi. Perasaan saling menyayangi antara suami istri adalah vitamin yang sangat dibutuhkan dalam berkeluarga.
Pak Cah, seorang teman dari Jogja, sering mengingatkan agar suami istri membiasakan ngobrol santai barang lima belas atau dua puluh menit diatas tempat tidur, menjelang tidur. Terlebih bila suami istri sama sama memiliki kesibukan. Biarkan istri menyampaikan semua uneg-unegnya sepanjang siang hidupnya, baik tentang pekerjaannya, tentang anak- anaknya, tentang jalannya arisan dan lain sebagainya. Karena kelelahan istri (lahir dan batin) biasanya akan sangat berkurang setelah mereka sudah mengungkapkannya kemudian mendapatkan perhatian dan tanggapan yang menyenangkan.
Setelah itu peluk dan cium dia.
Sebab seorang istri akan merasakan semakin nyaman, aman, dan dekat dengan suami ketika sering dipeluk saat hendak tidur. Pasangan suami istri yang sering berpelukan juga, kata para ahli, akan lebih awet muda. Hal ini karena mereka merasakan bahagia dengan saling mencintai. Disamping itu gesekan kulit saat tidur dengan berpelukan dapat membantu tubuh merasa senang karena produksi hormon oksitosin (hormon bahagia) menjadi tinggi dan menyebar merata dalam tubuh masing-masing pasangan. Jadi kalau ada pasangan kelihatan lebih tua dan lelah, boleh jadi mereka jarang berpelukan.
Baca juga: Ganjar Tampil di Tayangan Azan, KPU Bilang Begini
Perasaan nyaman, tentram dan damai pada pasangan suami-istri itulah sakinah, sehingga dalam hati mereka diam diam setuju dengan lagu Kemesraan nya Iwan Fals:
Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Inginku kenang selalu
Hatiku damai
Jiwaku tentram di samping mu
Hatiku damai
Jiwa ku tentram
Bersamamu...
Ya, Sakinah itu memang tentram bersama mu. Meskipun ada yang mengatakan sakinah adalah gelisah tanpamu.
Yang kedua, ternyata menurut para praktisi ruqyah (bukan rukyat hilal ya) bahwa pergantian waktu antara terjaga dan tidur adalah waktu yang rentan terhadap gangguan jin. Coba perhatikan pasangan kita atau anak kita pada saat mereka beralih dari fase sadar ke fase tidur!
Saat pergantian waktu, terutama waktu siang dengan malam, adalah waktu optimal gangguan jin. Karena waktu itu waktunya aplusan kerja jin siang dan jin malam. Bagi jin siang, ini adalah injury time. Dan bagi jin malam awal malam harus diisi dengan gebrakan khusus yang bisa membuka jalan kesuksesnya.
Dan kesuksesan tertinggi (seorang) jin adalah jika dia bisa menggangu membuat suami istri bertengkar dan bercerai.
Baca juga: Kebakaran Museum Nasional Berhasil Dipadamkan, 13 Unit Damkar Dikerahkan
Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau”
(HR Muslim IV/2167 no 2813)
Dan golongan jin yang profesional melakukan atau memicu pertengkaran dan perceraian namanya adalah Jin Dasim.
Memang tupoksi utama dari Jin Dasim terhadap manusia (muslim) adalah menghancurkan rumah tangga hingga berujung perceraian.
Jin Dasim tidak ridho jika anak cucu Adam berada dalam kebahagiaan, ketaatan, dan ketakwaan pada Allah Swt.
Apalagi, menikah selain merupakan nisfuddin, menikah juga ibadah terpanjang serta salah satu ibadah yang paling banyak berkah dan amalan baik di dalamnya.
Baca juga: Wajib Belajar dan Kereta Terakhir Pulau Hokkaido
Tentu penyebab perceraian dalam ikatan pernikahan bukan hanya dua hal di atas, ada juga karena faktor lain seperti kurang mengenal pasangan dengan baik dan benar, sehingga kurang saling pengertian dan akhirnya komunikasinya terhambat. Kemudian juga ada faktor ekonomi dan terakhir, sehabis lebaran kemarin, muncul faktor baru penyebab perceraian (cerai gugat) adalah reuni sekolah!
Cerai gugat adalah perceraian yang diinisiasi oleh pihak istri, bila dari pihak suami disebut cerai talak.
Saling pengertian atau tafahum sangat penting dalam menjaga dan meningkatkan harmonisasi keluarga. Apa yang dilakukan (dikatakan) sahabat nabi Saw, Abu Darda kepada istrinya, Umi Darda patut kita renungkan:
“Jika kamu sedang marah, maka aku akan membuatmu jadi ridha dan Apabila aku sedang marah, maka buatlah aku ridha dan jika tidak maka kita tidak akan menyatu..."
Seorang ulama berkomentar, “Wahai saudaraku, begitulah seharusnya orang-orang yang saling bersaudara itu dalam melakukan persaudaraannya, kalau tidak begitu, maka mereka akan segera berpisah”.
Wallahua'lam bi shawab.
(Gaf)
Aku Harus Bagaiman
