Helo Indonesia

LTAD Jadi Sarana Industri dan Diplomasi Olahraga untuk Sejahterakan Atlet

Ajie - Olahraga
Jumat, 5 Desember 2025 20:45
    Bagikan  
LTAD Jadi Sarana Industri dan  Diplomasi Olahraga untuk Sejahterakan Atlet

Staf ahli KONI Pusat Sadik Algadri

JAKARTA, HELOINDONESIA.COM - Indonesia memiliki potensi besar dalam prestasi olahraga. Tapi, potensi itu harus dikelola dengan manajemen keolahragaan yang sistematis dan berkelanjutan.

Pandangan itu dilontarkan Sadik Algadri, mantan atlet judo nasional dalam seminar "Optimalisasi Diplomasi dan Industri Olahraga Prestasi" yang berlangsung di Ruang Apung Perpustakaan Universitas Indonesia, baru-baru ini.

Selain Sadik, diskusi juga menghadirkan nara sumber Sekjen KONI Pusat Tb Ade Lukman, Anjar Nugroho (Commercial & Partnership KONI Pusat), Mufidi M (SM School of Sport Management), Muhamad Budi Negoro (Indsutry Practitioner), dan Dr Drs Uden Kusumawijaya (Ketua PSSDIO SKSG UI).

Baca juga: Hadiri Pengukuhan Pengurus KONI Jateng, Gubernur: Jangan Ada Atlet Pindah dan Milikilah Jiwa Petarung


Kegiatan ini menyatukan akademisi dan praktisi untuk membedah tantangan dan peluang Indonesia dalam mencapai target ambisius menjadi kekuatan olahraga dunia pada tahun 2045.

Selain itu, lanjutnya, pembinaan juga harus memanfaatkan teknologi dan sport science. Hal ini mendorong seorang atlet nasional mencapai prestasi puncak khususnya Olimpiade.

Namun, katanya, tidak boleh mengabaikan kesejahteraan atlet elite setelah masa keemasan (peak performance) berakhir.

"Intinya, atlet berprestasi atau elite berkembang bukan hanya untuk menang tapi menjadi manusia yang sehat, produktif, sejahtera dan bermanfaat bagi masyarakat umum," bebernya.


Kerja Strategis


Menurut Sadik Algadri yang juga Staf Ahli Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat kunci bagi Indonesia untuk maju adalah dengan menempatkan kesejahteraan atlet sebagai fondasi utama melalui implementasi model pembinaan jangka panjang yang sistematis, yakni Long-Term Athletes Development (LTAD).

Model LTAD adalah kerangka kerja strategis yang dirancang untuk membina atlet dari masa kanak-kanak hingga mencapai performa puncak.

"LTAD adalah model pembinaan jangka panjang yang memperhatikan pembinaan atlet prestasi sesuai dengan tahapan usia," kata Sadik.

Baca juga: Jateng Diminta Persiapkan Diri Jadi Tuan Rumah PON Remaja dan PON Indoor

Sadik menjelaskan lima tahapan LTAD. Pertama, Tahap Pengenalan (Fun & Fundamental), kedua: Tahap Pembinaan (Training to Train), ketiga: Tahap Prestasi (Training to Compete), keempat: Tahap Puncak (Training to Win/Elite), dan kelima: Pasca Karier (Transition & Retirement).

LTAD ini menurutnya harus diperkenalkan kepada masyarakat sejak usia 6-12 tahun. Tujuan agar masyarakat senang olahraga dan difokuskan pada multi-skills,multi-sport (atletik, renang, senam, dan sepakbola sebagai mothe sport.

Ketika di usia 13 tahun menurut Sadik akan diberikan dasar tekni, taktik, disiplin latihan. Dari sana akan terlihat bakat seseorang pada cabang olahraga.

"Sedangkan pada Tahap Prestasi pentingnya seorang atlet mengikuti kompetisi reguler," ujarnya.

Sadik juga menekankan pentingnya pengembangan karier kedua bagi para mantan atlet yang telah berakhir masa kejayaannya, yaitu misalnya menjadi pengusaha, pelatih/wasit profesional, atau masuk manajemen federasi.

“Di samping itu juga diperlukannya jaminan sosial berupa Asuransi Kesehatan, Asuransi Jiwa dan Tenaga Kerja sebagai proteksi masa depan atau di hari tua, di samping Bintang Jasa dari Negara,” katanya lagi.

Baca juga: Satu Garis Komando PDI-P Lampung Gelar Konferda Dan Konfercab

Sadik Algadri juga menuangkan pemikiran soal industri olahraga. Menurutnya satu bidang ini menggabungkan olahraga dengan aspek ekonomi yang mencakup: produksi peralatan olahraga, penyelenggaraan event, jasa pelatihan cabor, media digital olahraga dan sport tourism.

Pemikiran ini sangat relevan dengan realitas olahraga Indonesia saat ini. Meskipun nilai pasar industri terus meningkat, masalah kesejahteraan atlet purna tugas masih sering mencuat ke publik, bahkan ada kisah miris atlet yang harus menggadaikan medalinya untuk menyambung hidup.

"LTAD menjamin atlet mencapai prestasi puncak, serta sekaligus menjadi tenaga terampil yang dibutuhkan industri olahraga serta juga siap sebagai Duta Bangsa yang handal berdiplomasi mewakili negaranya di dunia Internasional," tandasnya. (Aji)