LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — KONI Provinsi Lampung telah gaspol latihan paramotor di Taman Keragaman Hayati (Kehati) Lampung, Kota Baru, Jatiagung, Kabupayen Lampung Selatan. Mereka tak tanggung-tanggung bidik 19 medali emas di PON XXIII Tahun 2028.
Target 19 Medali Emas
Nomor Putra
1. Foot Launch: Presisi, Navigasi, Ekonomik
2. Wheel Launch Solo: Presisi, Navigasi, Ekonomik
3. Wheel Launch Tandem: Presisi, Navigasi, Ekonomik
Slalom
Nomor Putri
1. Foot Launch: Presisi, Navigasi, Ekonomik
2. Wheel Launch Solo: Presisi, Navigasi, Ekonomik
3. Wheel Launch Tandem: Presisi, Navigasi, Ekonomik
4. Satu nomor yang berpotensi ditiadakan adalah Wheel Launch Tandem Putri.
Selama ini, paramotor, yang berada di bawah Pengprov Aerosport atau Federasi Aerosport Indonesia (FASI) Lampung, kesulitan arena latihan. Kini, Yayasan Sahabat Alam (YSA) buka pintu latihan di Kehati.
Lewat kolaborasi sport ecotourism, KONI Lampung dan YSA memberikan kesempatan para atlet paramotor dapat latihan maksimal di Taman Kehati, kata penasihat dan instruktur Paramotor Lampung, Waras Budi Hartawan (WBH), Minggu (22/2/2026).
Menurut WBH, ada dua dari empat nomor yang telah latihan di Kehati, yakni Navigasi dan Ekonomik. Sementara nomor Slalom dan Presisi masih menunggu persyaratan teknis.
“Secara teknis, latihan Navigasi sudah. Saya bahkan sudah menyusun rute navigasi dengan radius enam kilometer. Nomor Ekonomik juga bisa, tetapi belum maksimal karena mesin tertinggal satu hingga dua generasi,” ujarnya.
Untuk nomor Ekonomik, lanjut Waras, spesifikasi mesin sangat menentukan. Mesin yang digunakan atlet-atlet juara PON dan Kejurnas mampu bertahan hingga 43 menit dengan satu liter bahan bakar, sementara mesin milik Paramotor Lampung hanya mampu bertahan sekitar 20 menit.
“Artinya, sehemat apa pun kita mengatur mesin, secara teknis tetap kalah. Kita sudah irit, tapi yang lain jauh lebih irit,” kata Waras sambil terkekeh.
Saat ini, Paramotor Lampung tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah pihak guna membantu peremajaan mesin dan payung standar.
Dia butuh mesin dan payung yang setara standar nasional. Setelah itu, barulah adu ketangkasan atlet. Kalau dari awal peralatan sudah kalah, sehebat apa pun pilotnya akan sulit bersaing.
Waras menambahkan, peralatan paramotor umumnya dapat digunakan hingga empat atau lima tahun sehingga relatif efisien. Jika target peremajaan tercapai, dia optimistis bisa meraih lima medali emas pada PON NTT–NTB, tegasnya.
Namun tanpa peralatan standar, ia menilai sulit berharap prestasi maksimal. “Dalam olahraga dirgantara, peralatan adalah faktor penting, bahkan mutlak,” ujarnya.
Saat ini, Paramotor Lampung juga terus berkoordinasi dengan KONI Provinsi Lampung terkait lokasi yang ideal untuk latihan maupun pertandingan di kawasan Taman Kehati Kota Baru.
REGENERASI
Sejak kembali dari PON XXI Aceh–Sumatera Utara, Paramotor Lampung secara rutin melaksanakan latihan mandiri di berbagai lokasi. Dalam dua tahun terakhir, dilakukan seleksi berjalan melalui sistem promosi dan degradasi atlet di sejumlah nomor.
Minat menjadi pilot paramotor juga terus meningkat, terutama dari kalangan pelajar SMP, SMA, hingga mahasiswa. “Kami rutin melakukan regenerasi pilot, pembinaan prestasi, serta evaluasi perkembangan atlet dengan sistem yang telah disepakati," kata Waras.
Dari situ, KONI Lampung bisa memetakan pilot-pilot potensial dan standar kemampuan mereka. Selain Adi Ayang Syah, Paramotor Lampung telah memiliki sejumlah pilot andal yang tampil di PON dan kejuaraan nasional.
Mereka antara lain Wahyu Syahputra, Radyen Banta Hasbyallah, Letnan Hakim, dan Prada Arles Remaldo.
Sementara itu, sejumlah atlet muda juga mulai menunjukkan perkembangan positif, seperti Rendra P, Satriyo Jaya Sakti, Bambang Setiawan, Safiq Insani, Yoni Saputra, Yesya K, Nuril Fatahillah, serta seorang pelajar SMP bernama Fika. (Rls/HBM)