Helo Indonesia

Anekdot Bermakna Tinggi dari Jamaah Haji Asal Madura

Herman Batin Mangku - Opini
Rabu, 22 Mei 2024 23:50
    Bagikan  
Gufron Aziz Fuadi
Gufron Aziz Fuadi

Gufron Aziz Fuadi - Gufron Aziz Fuadi

Oleh Gufron Azis Fuandi

ENTAH cerita sesungguhnya atau anekdot tentang orang Madura naik haji.  Umumnya orang Indonesia yang naik haji adalah orang yang mampu secara ekonomi. Punya rumah, punya mobil atau punya sawah paling tidak.

Konon seorang jamaah dari Madura ini saat ditanya oleh jamaah lain saat sudah di Mekkah, ternyata dia belum punya mobil bahkan rumahpun sederhana.

Lantas mengapa mendahulukan menabung untuk berangkat haji daripada membangun rumah atau membeli kendaraan?

Apa jawab haji Madura tersebut?
Jawabannya, karena haji itu rukun Islam sedangkan membangun rumah dan beli kendaraan bukan termasuk rukun Islam.

Serba serbi cerita tentang haji memang sangat banyak dan beragam. Tetapi cerita tentang haji Madura itu meskipun sekilas terlihat konyol dalam pandangan umum tetapi mengandung pelajaran tinggi.

Bahwa haji adalah ibadah yang bukan sekedar wajib tetapi rukun. Oleh karena itu perlu menjadi prioritas dibanding perjalanan wisata ke Hongkong, Tokyo atau Paris dan lainnya. Juga lebih prioritas dibanding untuk membeli kemewahan lainnya.

Haji adalah ibadah, bukan sekedar perjalanan wisata. Karenanya ibadah haji harus dipersiapkan dengan baik. Baik secara fisik, ruhiyah maupun pengetahuan.

Apalagi kalau kita pergi haji sebagai haji reguler dan tidak ikut dalam kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH), yang mau tidak mau hampir semuanya dilakukan secara mandiri dan sedikit terbantu dengan adanya karu (kepala regu) atau karom (kepala rombongan) yang meneruskan beberapa informasi penting dan formal tentang ibadah haji.

Tetapi bagaimana melaksanakan wukuf, melempar jumrah, thawaf dan sai serta mengisi hari hari selama di Mina nyaris dilakukan sendiri sendiri sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya sendiri.

Oleh karena itu siapa pun yang ingin melakukan perjalanan haji sangat penting untuk membekali diri dengan ilmu yang dibutuhkan. Terutama yang terkait dengan pelaksanaan ibadah haji.

Kemudian pengetahuan tentang apa yang sebaiknya dilakukan selama menunggu pelaksanaan haji atau menunggu masa pemulangan ke tanah air. Mengingat perjalanan haji dari Indonesia ditempuh selama kurleb 40 hari sedangkan ibadah hajinya hanya 5 atau 6 hari saja.

Karena itu selain mengetahui seluk beluk ibadah haji, para jamaah agar tidak boring perlu juga mengetahui sejarah dan destinasi serta keutamaan keutamaan apa yang ada di masjidil Haramain dan sekitar Mekah dan Madinah.

Akan lain rasanya bila kita mengetahui bagaimana keutamaannya shalat di Masjidil Haram dibandingkan dengan shalat ditempat yang lain, sehingga kita bisa bersemangat untuk sesering mungkin shalat di Masjidil Haram.

Bukan justru malah berleha-leha shalat di kamar hotel atau pemondokan. Bahkan kita juga akan punya perasaan yang berbeda ketika melewati pintu Babussalam, Babul Fath, Babul Umrah saat keluar atau masuk Masjidil Haram, bila kita memahami mengapa pintu itu dinamakan dengan nama itu.

Bahkan kita akan merasa malu bila melihat hijir Ismail. Yaitu bagian Kakbah yang ditembok setengah lingkaran.

Karena ngendikane kanjeng nabi kepada Aisyah ra ketika bunda Aisyah ingin shalat didalam Kakbah kata beliau cukup shalat di hijir Ismail, karena sesungguhnya itu merupakan bagian dalam Kakbah yang dibangun oleh nabi Ibrahin dan nabi Ismail yang tidak terbangun saat direhab oleh kaum musyrikin Quraisy saat setelah Mekah dilanda banjir, karena kaum Quraisy tidak punya cukup biaya.
Kok bisa?

Padahal orang Quraisy bukan kaum miskin dan bahkan rehabilitasi Kakbah saat itu juga melibatkan konsultan dan arsitek kenamaan dari kekaisaran Romawi Bizantium,  sebagaimana dijelaskan dalam buku Sirah Nabawiyah al Mubarakfury.

Ya. Karena pada waktu itu meskipun orang Quraisy masih musyrik, mereka juga tidak berani menggunakan uang haram dan tidak jelas kehalalannya untuk membangun rumah Allah. Mereka takut kuwalat.

Sehingga disepakati bahwa panitia pembangunan kembali Kakbah hanya menerima dan menggunakan uang yang benar benar halal. Bukan uang hadil korupsi, suap, judi, riba atau menipu dan sejenisnya.

Dan ternyata, menghimpun uang halal itu sangat sulit, sehingga akhirnya uang yang terkumpul tidak cukup untuk membangun Kakbah secara utuh.

Itulah mengapa ada Hijr Ismail yang seharusnya bisa menjadi monumen yang mengingatkan kita, betapa tingginya nilai uang halal itu. Bahkan dimata orang musyrik sekalipun pada waktu itu.

Sementara sekarang halal haram hantam saja. Karena jangankan yang halal yang haram saja sekarang susah didapat.

Selain itu persiapan (kebugaran) fisik juga penting. Karena dalam ibadah haji banyak yang prosesnya memerlukan kekuatan fisik.

Misalnya, jarak tempuh thawaf dipelataran Kakbah sekitar 500 m kali tujuh, bila thawaf di atas tentu lebih jauh lagi. Begitupun ibadah sai dari Shafa ke Marwah  450 m sebanyak tujuh kali.

Saat melempar jumrah Jamaah haji harus menempuh rata rata 1,5 km pp (3 km) tetapi bila kebagian tenda di Mina jadid maka jarak tempuhnya lebih jauh yaitu 7 km atau pergi pulang 14 km.

Dan perlu dicatat, disana tidak ada ojek. Belum lagi jarak hotel dan pemondokan ke Masjidil Haram sedikit yang dibawah 700 m. Sehingga tidak ada bus jemputan. Bahkan bila jarak di bawah 1 km "angkot" pun tidak mau berhenti bila distop.

Namun demikian, meskipun segala persiapan diatas sudah kita lakukan, yang tidak kalah pentingnya adalah jangan mentang mentang, jangan menganggap remeh dan jangan sombong.

Kita harus ingat bahwa saat itu kita disana adalah tamu, apalagi tamunya Allah. Wong bertamu dengan sesama manusia saja kaidahnya, anda sopan kami segan. Apalagi bertamu kepada Allah.

Selamat jalan para calon jamaah haji, semoga selalu sehat, lancar ibadahnya dan mabrur hajinya.

Ada doa untuk mereka yang akan berangkat haji, diriwayatkan dari Anas RA,

زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُ مَا كُنْتَ

zawwadakallaahut taqwaa, wa ghafara dzan baka, wa yassara lakal khaira haitsu maa kunta
"Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, memudahkan bagimu kebaikan di mana saja kamu berada." (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa'i)

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)

 -