Helo Indonesia

Minimnya Realisasi Kebudayaan Jawa pada Era Anak Muda Gen Z dan Gen Alpha

Ajie - Opini
Selasa, 17 Desember 2024 09:36
    Bagikan  
Minimnya Realisasi Kebudayaan Jawa pada Era Anak Muda Gen Z dan Gen Alpha

Ilustrasi perbedaan anak-anak zaman dulu dan sekarang. Foto: Ist

Oleh: Dany Akbar, Tabita Rahayu, Risti Khofifah, Kartika Listawan,  dan Ilham Roiz Saputra

TANAH Jawa memiliki kebudayaan-kebudayaan yang sangat beragam, unik, dan menarik. Karena keunikannya itu, budaya Jawa diminati banyak kalangan di penjuru daerah hingga mancanegara.

Daya tarik yang sangat tinggi bahkan melahirkan minat dan menghasilkan karya nyata di penjuru Nusantara. Bisa kita lihat, banyak sekali kelestarian yang tercipta diluar suku Jawa itu sendiri seperti, banyaknya sanggar tari yang mengajarkan tarian Jawa, banyaknya toko yang menjual batik asal Jawa, melimpahnya orang yang menggunakan kebaya, walaupun bukan berasal dari suku Jawa, dan masih banyak lagi.

Baca juga: Sambangi Komunitas UMKM dan Budaya di Ungaran, Samuel Wattimena Tekankan Spirit Berani Mencoba

Realitas ini  jadi penanda dan bukti  memang budaya Jawa sangat terkenal dan banyak diminati.
Dari banyaknya hal yang dapat kita pelajari dari kebudayaan Jawa, ada satu keunikan yang selalu dipertanyakan dan selalu menjadi daya tarik orang untuk mempelajari kebudayaan Jawa yaitu tata krama orang Jawa.

Bagaimana tidak? Tata krama atau yang sering kita sebut sebagai ilmu bertindak tanduk dalam budaya Jawa sangat diperhatikan, baik itu cara berpakaian, cara memperilakukan orang yang lebih tua, sebaya, atau yang lebih muda, semuanya diatur dalam tata krama. Dan karena adanya tata krama, orang Jawa memiliki eksistensi atau identitas yang sesungguhnya.

Menurut Rochanyati, Pujiastuti, dan Warsiki (2012) Orang Jawa adalah seorang yang bertempat tinggal di Jawa, mengikuti adat istiadatnya, serta menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu. Tapi sayangnya, di era zaman Gen Z dan Gen Alpha ini, kebudayaan Jawa sudah mulai tergerus dan ditinggalkan.

Pengaruh Globalisasi

Menurut Wikipedia, Gen Z lahir kisaran tahun (1997-2012) dan Gen Alpha lahir kisaran tahun (2010-2025). Tergerusnya kebudayaan tersebut terjadi bukan tanpa sebab. Banyak hal-hal yang mempengaruhi terjadinya perubahan tersebut diantaranya, pengaruh globalisasi, kemajuan teknologi, maraknya gaya hidup modern (lebih meniru budaya luar), kurangnya pemahaman dan penerapan tentang budaya sendiri, kurangnya rasa tertarik terhadap budaya sendiri, dan masih banyak lagi.

Baca juga: Hadiri Pertemuan Alumni dan Deputy Dean OIA Yuntech, Rektor USM Ingin Terbangun Kolaborasi

Dapat kita lihat banyak permasalahan yang terjadi tentang penyimpangan budaya tersebut. Bahkan dari kebiasaan anak muda zaman dulu dengan sekarang sangat berbeda. Beberapa perbedaan yang sangat mencolok:

Pertama, anak muda zaman dulu masih suka memakai pakaian adat berupa kebaya yang masih kental Jawanya. Sedangkan anak muda Gen Z dan Gen Alpha zaman sekarang lebih suka memakai pakaian model korean atau kebarat- baratan seperti pakaian yang mini-mini seperti crop top dan lain sebagainya.

Kedua, anak muda zaman dulu sering bermain kreatif dengan menggunakan mainan tradisional seperti dacon, enggrang, menonton wayang kulit, dan lain sebagainya. Tetapi, Gen Z dan Gen Alpha pada zaman ini akan lebih memilih bermain gadget yang menurut mereka lebih seru.


Ketiga, anak muda zaman dulu selalu tunduk dan patuh terhadap perintah orang tua, berteman akur dengan sebaya, dan menjadi contoh yang baik bagi yang lebih muda. Tetapi anak muda zaman sekarang bahkan tidak mau diberi nasihat oleh yang lebih tua, tidak menghormati dan berani melawan, suka mem-bully  atau merundung teman dan banyak perilaku buruk lain yang pastinya tidak akan menjadi contoh baik bagi anak- anak yang lebih muda dari mereka.

Baca juga: Songsong Lampung Maju, BEM FH Unila Undang Pemimpin Milenial Iyay Mirza

Keempat. anak muda zaman dulu selalu menggunakan bahasa Jawa asli bahkan menggunakan bahasa krama dalam berbicara sehari-hari. Sangat jauh berbeda dengan anak muda zaman sekarang yang lebih suka menggunakan bahasa gaul seperti “ lo gue “ dalam bahasa sehari-hari. Dan lain-lain.

Hal tersebut harus segera diatasi agar penerus jati diri budaya Jawa tidak hilang begitu saja dan dapat terlestarikan hingga lama. Beberapa solusi dari kami yang mungkin akan sangat bermanfaat bagi perubahan ini :

Pertama, bagi orang tua di wilayah Jawa, sepatutnya memberikan asupan kebudayaan Jawa kepada anaknya agar terciptanya genersi penerus budaya dan agar anak tersebut lebih mengenal dan mencintai kebudayaannya sendiri.

Kedua, bagi anak muda zaman sekarang, tingkatkanlah rasa cinta kalian terhadap budaya Jawa dan jangan tinggalkan kebudayaan tersebut.

Ketiga, ciptakan kolaborasi bersama anak muda lain, dengan mengusung tema kebudayaan Jawa.
Keempat, bagi pemerintah, sering adakanlah seminar atau pertunjukan kebudayaan Jawa dengan meminta seluruh warga (terutama anak muda) untuk aktif dalam penyelenggaraan acara tersebut. Dan bisa juga dengan membuat program-program terkait penanaman jati diri sebagai orang Jawa.

Dapat kita simpulkan bahwa keberagaman yang sangat melimpah belum tentu akan lestari selamanya, karena untuk melestarikannya harus ada campur tangan manusia itu sendiri. Dan pada zaman ini, anak mudalah yang menjadi harapan penerus kebudayaan di tanah Jawa ini. Dan diharapkan anak muda bisa dengan sadar diri untuk melanjutkan kebudayaan ini.

Penulis, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar/ Universitas PGRI Semarang/2024