Oleh: Agung Mumpuni MIKom
DALAM beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi besar dalam pola konsumsi masyarakat. Sebelumnya, gaya hidup "YOLO" atau "You Only Live Once" mendominasi, terutama di kalangan generasi muda. Filosofi ini menggambarkan semangat untuk hidup tanpa penyesalan, mengejar pengalaman, dan memanfaatkan hidup sebaik mungkin. Namun, di tengah kenaikan biaya hidup, inflasi, dan meningkatnya tekanan pajak, seruan "YONO" atau "You Only Need One" mulai mendapatkan tempat.
"YONO" adalah bentuk refleksi terhadap realitas ekonomi yang semakin kompleks. Fenomena ini menyerukan gaya hidup yang lebih hemat, berkelanjutan, dan selektif dalam konsumsi. Alih-alih membeli barang hanya untuk memuaskan keinginan sesaat, masyarakat diimbau untuk membeli apa yang benar-benar diperlukan. Tren ini tak hanya menjadi jawaban atas situasi ekonomi, tetapi juga sebagai langkah nyata untuk mengurangi dampak lingkungan akibat konsumerisme berlebihan.
Menilik ke belakang, gaya hidup "YOLO" populer di era pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, terutama setelah krisis finansial global 2008. Kalangan milenial yang lahir pada tahun 1981-1996, yang pada saat itu memasuki usia produktif, sering kali menganggap pengalaman lebih berharga daripada akumulasi aset.
Namun, pada dekade terakhir, situasi ekonomi global berubah drastis. Menurut laporan Bank Dunia, tingkat inflasi global mencapai rata-rata 6,7 persen pada 2023, tertinggi dalam dua dekade terakhir. Di Indonesia, kenaikan harga bahan pokok, energi, dan biaya transportasi membuat masyarakat mulai mengencangkan ikat pinggang.
Generasi Z, yang lahir tahun 1997-2012, yang kini mulai memasuki dunia kerja, menghadapi realitas yang berbeda dari milenial. Penelitian McKinsey pada 2024 menunjukkan bahwa 73 persen Gen Z lebih mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan kebutuhan nyata dalam membeli barang, dibandingkan hanya 55 persen milenial pada usia yang sama. Mereka tumbuh dalam era di mana isu lingkungan dan perubahan iklim menjadi perhatian global, sehingga pola konsumsi mereka lebih diarahkan pada efisiensi dan keberlanjutan.
Bukan Sekadar Tren
‘’YONO’’ dan Frugal Living, apakah sama?
Sering kali, gaya hidup "YONO" disamakan dengan frugal living atau hidup hemat. Keduanya memang memiliki kesamaan dalam hal pengelolaan konsumsi dan fokus pada kebutuhan dibandingkan keinginan. Namun, "YONO" lebih spesifik pada filosofi memiliki satu barang yang berkualitas dan esensial, sedangkan "frugal living" lebih luas cakupannya, mencakup berbagai aspek kehidupan seperti efisiensi energi, pengelolaan anggaran, dan pengurangan pengeluaran secara umum. Dengan kata lain, "YONO" adalah salah satu implementasi dari prinsip frugal living, tetapi tidak sepenuhnya identik.
Seruan "YONO" bukan sekadar tren, melainkan perubahan paradigma dalam mendefinisikan kebutuhan dan keinginan. Misalnya, alih-alih membeli 10 pasang sepatu, seseorang cukup membeli satu atau dua pasang berkualitas tinggi yang tahan lama. Konsep ini mengajarkan disiplin dalam belanja, menekankan pentingnya kualitas dibandingkan kuantitas.
Selain itu, gaya hidup ini juga membuka peluang untuk memprioritaskan investasi dalam pengalaman jangka panjang, seperti pendidikan atau pelatihan keterampilan, dibandingkan pengeluaran yang sifatnya konsumtif.
Namun, tantangan utama gaya hidup "YONO" adalah mengubah pola pikir yang sudah terbentuk sejak lama. Budaya konsumtif telah menjadi bagian dari masyarakat modern, didorong oleh iklan yang terus-menerus menanamkan keinginan untuk memiliki lebih banyak. Platform media sosial juga berperan besar dalam menciptakan tekanan sosial untuk selalu tampil sempurna dengan barang-barang terbaru.
Solusi dan Langkah Nyata
Mengadopsi gaya hidup "YONO" memerlukan pendekatan bertahap, seperti pertama menyusun anggaran pribadi di mana kita mencatat semua pemasukan dan pengeluaran untuk memahami pola konsumsi. Kedua, memprioritaskan kebutuhan dengan membuat daftar barang yang benar-benar diperlukan sebelum berbelanja.
Ketiga, edukasi keuangan dengan cara mengikuti seminar atau membaca buku tentang pengelolaan keuangan agar lebih memahami cara mengatur uang secara bijak. Keempat, memanfaatkan teknologi dengan menggunakan aplikasi yang membantu melacak pengeluaran dan memberikan peringatan jika anggaran mendekati batas.
Meskipun memiliki manfaat besar, penerapan "YONO" bukan tanpa kendala. Salah satu hambatan terbesar adalah budaya. Di banyak komunitas, memiliki barang mewah sering kali dikaitkan dengan status sosial. Selain itu, adanya diskon besar-besaran atau program cicilan sering menggoda masyarakat untuk kembali ke pola konsumtif. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan kampanye edukasi yang konsisten dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, komunitas, dan pelaku bisnis.
Akhirnya, dalam dunia yang semakin kompleks, seruan "YONO" menjadi pengingat penting untuk kembali ke esensi hidup. Ini bukan sekadar upaya mengurangi pengeluaran, tetapi juga langkah menuju gaya hidup yang lebih sehat, berkelanjutan, dan penuh kesadaran. Ketika masyarakat mulai memahami bahwa kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya barang yang dimiliki, melainkan pada kualitas hidup yang mereka jalani, maka "YONO" bisa menjadi kunci untuk masa depan yang lebih baik. ****
Penulis, Kreator Konten dan Founder Unlimited Talks Indonesia
