Oleh Ustadz Gufron Azis Fuandu
DOA adalah wujud ketaatan, kerendahan hati, dan pengakuan bahwa manusia adalah makhluk lemah yang sangat membutuhkan dan bergantung kepada Sang Pencipta. Tidak mau atau tidak suka berdoa, karena merasa mampu, adalah kesombongan, karena mencerminkan perasaan tidak butuh kepada Sang Pencipta. Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan (kabulkan) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'." (QS. Ghafir: 60)
Doa adalah Ibadah. Karena berdoa merupakan bentuk pengakuan atas ke-Maha Kuasaan Allah, pengakuan kelemahan diri di hadapan Allah serta bentuk ketergantungan kepada Allah. Doa adalah inti ibadah sebagaimana sabda nabi Saw: "Addu'a mukhul ibadah".
Selain karena (berdoa) merupakan pelaksanaan perintah Allah, berdoa juga bentuk dari kepasrahan total kepada Nya.
Allah tidak hanya akan mendengarkan doa, tetapi bahkan Dia akan memperkenankan doa hamba-Nya. Adapun kapan waktunya, Allah yang lebih tahu kapan waktu yang terbaik suatu doa dijabah untuk hambaNya yang berdoa. Waktunya tidak selalu sesuai dengan keinginan hambaNya. Allah Maha Mengetahui apa yang nampak dan apa yang tersembunyi.
Doa adalah ibadah, maka sebaiknya dilakukan dengan sungguh-sungguh, khusyuk, merendahkan diri, dan pada waktu-waktu mustajab.
Pada bulan Ramadhan ada waktu-waktu mustajab yang sayang bila tidak dioptimalkan. Pertama, waktu siang hari saat dalam kondisi berpuasa. Sabdanya Saw: "Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (Hr. Tirmidzi).
Kedua, waktu menjelang berbuka. Dalam hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, pada saat berbukanya, ada doa yang tidak akan ditolak".
Ketiga, pada waktu sahur. Dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda, “Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758).
Tentang hadits ini Ibnu Hajar berkata, “Doa dan istighfar di waktu sahur adalah diijabahi (dikabulkan).” (Fathul Bari, 3: 32).
Bagaimana bila digabungkan dengan waktu waktu mustajab lainnya, seperti saat turun hujan, waktu antara adzan dan iqamat misalnya?
Lebih mantap sepertinya!
Tetapi yang jelas, karena doa adalah ibadah, maka doa jangan dikotori dengan permohonan kepada Sang Hyang tertentu, karena Allah Maha Pencemburu (Al-Ghayur). Al Ghayur adalah sifat Allah yang menunjukkan keengganan untuk diduakan atau disekutukan dengan yang lain. Allah berfirman:
"Katakanlah: 'Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya'." (Al Jinn: 20)
Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)
