Penulis Herman Batin Mangku
Jurnalis
GOBLOOOK, umpat sahabat saya ketika membaca berita dibunuhnya tapir (Tapirus indicus) oleh warga permukiman kawasan Register 45 Mesuji, Provinsi Lampung, Kamis (2/7/2026). Kabar memprihatinkan tersebut langsung menyentuh mereka yang masih punya hati nurani hingga seantero Nusantara.
Kemana petugas kehutanan, kemana BKSDA, kemana kepala daerah, kemana camat, kemana lurah, kemana RK, kemana RT, kemana orang-orang yang disebut tokoh, kemana bhabinkamtibmas, kemana hansip, kemana, kemanaaa. Kami tak butuh klarifikasi basi setelah dipertontonkannya keberutalan itu.
Baca juga: Tapir yang Disembelih Sisakan Jeroan, Dagingnya Jadi Rica-Rica

Bayangkan, hewan yang langkahnya pelan, matanya teduh, tabiatnya pemalu, tidak mengaum seperti harimau, tidak merusak seperti gajah, apalagi memangsa manusia. Satwa yang berjasa menyebarkan benih di hutan itu jadi korban kerakusan manusia.
Tidak ada yang lebih sunyi daripada seekor tapir yang berjalan sendirian di tengah hutan pada malam hari. Namun justru satwa yang paling pendiam itu kini menjadi korban paling bising dari kerakusan manusia. Di Mesuji, seekor tapir mati ditombak dan disantap jadi gulai rica-rica.
Sesungguhnya yang mati bukan hanya satwa liar endemik yang sangat dilindungi tersebut. Yang ikut terkubur adalah rasa hormat manusia terhadap alam.
Tapir adalah mamalia purba yang telah hidup jutaan tahun sebelum manusia mengenal peradaban modern. Ketika kerajaan-kerajaan besar belum berdiri, ketika jalan raya belum membelah hutan, tapir sudah lebih dahulu menjadi penghuni rimba Sumatra.
Kini, justru manusia yang datang belakangan merasa paling berhak menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang harus mati. Ironi itulah yang berulang hampir setiap tahun.
Hutan ditebang. Jalan dibangun. Kebun sawit terus meluas. Habitat satwa semakin sempit.
Baca juga: Tapir Disembelih Warga, Lemahnya Sosialisasi BKSDA dan Rusaknya Register 45 Mesuji
Ketika tapir keluar hutan karena kehilangan ruang hidup, manusia menyebutnya "mengganggu". Padahal, bukan tapir yang memasuki wilayah manusia. Manusialah yang terlebih dahulu memasuki rumah tapir.
Data konservasi menunjukkan populasi tapir terus mengalami penurunan. Lembaga konservasi dunia menempatkannya dalam kategori Endangered (Terancam Punah). Di Indonesia, satwa ini dilindungi penuh. Memburu, membunuh, menyimpan, memperjualbelikan, atau memperdagangkan bagian tubuhnya merupakan tindak pidana yang dapat dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan.
Namun hukum saja tidak cukup.
Yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa tapir bukan musuh manusia. Ia hanya pemakan daun, pucuk tanaman, buah-buahan hutan, dan ranting muda. Moncongnya yang menyerupai belalai kecil lebih sering digunakan untuk mencari makanan daripada melawan musuh. Bahkan ketika bertemu manusia, naluri pertama tapir adalah menghindar.
Di balik tubuhnya yang besar, tapir menyimpan jasa ekologis yang luar biasa. Ia adalah penyebar biji alami. Buah-buah yang dimakannya disebarkan kembali ke berbagai penjuru hutan melalui kotorannya. Tanpa disadari, tapir membantu menumbuhkan pohon-pohon baru, menjaga keberlanjutan hutan, sekaligus mempertahankan sumber air bagi manusia.

Dengan kata lain, setiap tapir yang mati berarti satu "penanam hutan" telah hilang. Kita sering berbicara tentang perubahan iklim, banjir, longsor, kekeringan, hingga rusaknya daerah aliran sungai. Tetapi kita lupa bahwa menjaga satwa liar juga merupakan bagian penting dari menjaga keseimbangan ekosistem.
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah rumah bagi ribuan makhluk hidup yang saling bergantung satu sama lain. Ketika satu spesies hilang, perlahan mata rantai kehidupan ikut rapuh.
Lampung dan Sumatra masih menyimpan hutan-hutan yang menjadi benteng terakhir tapir. Namun benteng itu terus menyusut. Jalan-jalan baru memotong kawasan hutan, kebun-kebun meluas, sementara konflik antara manusia dan satwa semakin sering terjadi.
Jika tidak ada perubahan cara pandang, bukan mustahil anak cucu kita kelak hanya mengenal tapir dari gambar di buku pelajaran atau foto di museum. Peradaban tidak diukur dari tingginya gedung atau panjangnya jalan tol. Peradaban juga diukur dari bagaimana manusia memperlakukan makhluk hidup yang lebih lemah.
Ketika seekor tapir dibunuh karena tersesat mencari makan, sesungguhnya yang kehilangan arah bukanlah tapir itu. Kitalah yang sedang tersesat. Sebab hutan selalu memberi kehidupan kepada manusia, tetapi manusia terlalu sering membalasnya dengan kematian.
Dan ketika suara terakhir tapir akhirnya benar-benar menghilang dari rimba Sumatra, mungkin saat itu kita baru sadar bahwa yang punah bukan hanya seekor satwa, melainkan juga sepotong nurani bangsa. Apakah itu termasuk Anda? ***
