Helo Indonesia

Abu Vulkanik Krakatau Bergerak ke Barat Laut, Sebagian Teluk Lampung

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
1 jam 11 menit lalu
    Bagikan  
KRAKATAU
HELO LAMPUNG

KRAKATAU - Citra RGB Himawari-9 pada 5 Okt 2026, pukul 22.WIB.

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik. Setelah dua kali erupsi pada Senin malam (5/10/2026), abu vulkanik terpantau bergerak ke arah barat laut dan mulai mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung.

Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung menunjukkan sebaran abu vulkanik teridentifikasi melalui analisis citra satelit Himawari-9 pada Senin malam pukul 22.00 WIB.

undefined

Sebaran abu vulkanik (infogempadunia) 

Dari analisis tersebut, abu vulkanik terpantau mencapai ketinggian sekitar 9.000 kaki atau 2,7 kilometer di atas permukaan laut. Arah pergerakannya menuju barat laut, mengikuti kondisi angin di atmosfer.

Forecaster BMKG Maritim Lampung menyebutkan, abu vulkanik masih berada di sekitar kawasan Anak Krakatau dan bergerak dengan kecepatan sekitar 9 kilometer per jam. Laporan penerbangan juga mencatat keberadaan abu tersebut.

Baca juga: Anak Krakatau Kembali Erupsi, Dua Kali Hanya Selang 15 Menit

Informasi mengenai sebaran abu ini diperkuat laporan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin melalui SIGMET. Dalam laporan tersebut, abu vulkanik terpantau sekitar pukul 20.40 WIB dengan ketinggian mencapai 9.000 kaki dan bergerak ke barat laut dengan kecepatan sekitar 5 knot.

Aktivitas erupsi sendiri terjadi dua kali pada Senin malam. Erupsi pertama tercatat pukul 20.13 WIB, kemudian erupsi kedua terjadi sekitar 15 menit berikutnya, yakni pukul 20.28 WIB.

Erupsi kedua terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 33 milimeter dan durasi sekitar 61 detik. Secara visual, letusan tidak teramati karena kondisi pengamatan di kawasan gunung api.

Dengan demikian, perhatian kini tidak hanya tertuju pada aktivitas letusan di kawah, tetapi juga pada perjalanan material vulkanik yang terbawa angin di atmosfer. Teluk Lampung Masuk Pantauan. Pergerakan abu menuju barat laut membuat sebagian wilayah Teluk Lampung masuk dalam area yang perlu diperhatikan.

Namun, masuknya wilayah Teluk Lampung dalam lintasan sebaran abu pada citra satelit tidak otomatis berarti seluruh wilayah tersebut mengalami hujan abu di permukaan. Abu yang terdeteksi satelit berada di atmosfer dan dapat mengalami perubahan arah, ketinggian maupun konsentrasi bergantung pada kondisi angin pada berbagai lapisan atmosfer.

Karena itu, BMKG mengingatkan bahwa arah dan luas sebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika atmosfer. Hingga laporan awal setelah erupsi Senin malam, belum terdapat laporan yang menunjukkan dampak langsung abu vulkanik terhadap permukiman warga di wilayah Lampung.

Meski demikian, masyarakat yang berada di wilayah yang berpotensi dilintasi abu diminta tetap waspada, terutama jika muncul tanda-tanda berupa debu halus pada kendaraan, atap rumah, halaman, maupun udara yang tampak berkabut.

Bukan Sekadar Persoalan Gunung Api

Sebaran abu vulkanik juga menjadi perhatian penting bagi dunia penerbangan. Partikel abu yang masuk ke jalur penerbangan dapat membahayakan mesin pesawat sehingga informasi mengenai lokasi, ketinggian, arah dan pergerakannya terus dipantau.

Dalam konteks ini, BMKG mempunyai peran penting dalam pemantauan dan analisis sebaran abu vulkanik di atmosfer untuk keselamatan penerbangan. BMKG sendiri menegaskan bahwa lembaga tersebut berwenang menyediakan informasi meteorologi dan menganalisis sebaran abu vulkanik di atmosfer, termasuk melalui produk Volcanic Ash Advisory.

Sementara untuk aktivitas vulkanik internal, penetapan status gunung api serta rekomendasi kawasan rawan bencana merupakan kewenangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM.

Masyarakat karenanya diminta tidak mencampuradukkan peta sebaran abu BMKG dengan peta kawasan bahaya gunung api yang dikeluarkan PVMBG.

Jejak Erupsi September Belum Sepenuhnya Hilang

Aktivitas Senin malam ini juga menjadi bagian dari rangkaian panjang aktivitas Gunung Anak Krakatau sepanjang September 2026. Sebelumnya, erupsi besar pada awal September membuat sebaran abu vulkanik terpantau jauh lebih luas. Bahkan, BMKG sempat melakukan pemantauan intensif selama 24 jam karena abu vulkanik berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.

Rangkaian aktivitas tersebut juga mengubah bentang alam di sekitar Anak Krakatau. Badan Geologi sebelumnya melaporkan adanya perluasan daratan akibat material erupsi, sementara citra satelit menunjukkan munculnya formasi daratan baru di sekitar gunung api tersebut. Luas tubuh Anak Krakatau bertambah sekitar 32,8 hektare akibat aliran lava dari aktivitas erupsi sebelumnya.

Artinya, Anak Krakatau bukan hanya sedang mengeluarkan abu dan material vulkanik, tetapi juga terus membentuk dan mengubah dirinya sendiri. Gunung yang lahir dari kehancuran Krakatau 1883 itu hingga kini tetap menjadi salah satu gunung api paling dinamis di kawasan Selat Sunda.

Waspada, Bukan Panik

Masyarakat Lampung, khususnya wilayah yang berpotensi berada pada lintasan sebaran abu, tidak perlu panik. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan.
Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker atau pelindung pernapasan, mengurangi paparan langsung terhadap abu dan melindungi mata dari partikel debu vulkanik.

Kendaraan juga sebaiknya tidak langsung membersihkan abu dengan cara menggosok permukaan karena partikel abu vulkanik dapat bersifat abrasif. Pembersihan dengan air secara hati-hati lebih aman untuk permukaan kendaraan.

Yang paling penting, masyarakat tidak menjadikan video atau unggahan media sosial sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan kondisi Gunung Anak Krakatau. BMKG mengingatkan masyarakat agar menyaring informasi yang beredar di ruang publik dan mengikuti kanal resmi.

Untuk perkembangan sebaran abu dapat memantau BMKG, sedangkan perkembangan aktivitas gunung api dan statusnya mengikuti informasi resmi PVMBG/Badan Geologi.
Pada akhirnya, abu vulkanik adalah pesan alam yang bergerak bersama angin. Ia bisa tampak jauh di langit, tetapi arah perjalanannya dapat berubah dalam hitungan jam.

Karena itu, setelah dua letusan pada Senin malam, perhatian masyarakat Lampung hari ini bukan hanya pada apa yang keluar dari kawah Anak Krakatau, tetapi ke mana angin membawa material tersebut. Dan untuk sementara, data BMKG menunjukkan satu arah yang perlu diperhatikan: barat laut, menuju sebagian Teluk Lampung. (HBM)