Oleh Herman Batin Mangku*
APROZI Alam boleh saja bak air mancur jelang Musda XI Golkar Provinsi Lampung, 9 Agustus 2025, moncer dukungan dari bawah. Tapi, di Partai Golkar, petunjuk Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai bisa mengubah 180 derajat kontestasi calon ketua Golkar di daerah.
Aprozi Alam oke-oke saja didukung 12 DPD II Kosgoro 1957, dan AMPG. Namun, bocorannya, justru restu dari pucuk ini yang belum digenggam Aprozi Alam (55) sebagai calon ketua yang sebut-sebut mewakili generasi muda partai.
Dia masih dibayangin kemungkinan dikesot habis oleh PLN (Pemain Lamo Nian) yang sudah bisik-bisik soal "restu" Bahlil Lahadalia (48). Jika restu fiks, tinggal tutup kran dukungan kino dan 12 DPDII, tamat obsesi Aprozi Alam memimpin partai besar ini.
Seharusnya, Bahlil Lahadalia mendukung Aprozi Alam sesama calon yang dianggap muda. Namun, terpilihnya Gde Sumarjaya Linggih alias Demer (60) sebagai ketua DPD Golkar Bali (13/7/2025) mematahkan anggapan Ketua DPD harus yang muda.
RESTU DPP KUNCI
Dalam struktur Partai Golkar, kekuatan DPP dan DPD Provinsi dalam pemilihan Ketua DPD Golkar Provinsi cukup berbeda dan tidak sepenuhnya seimbang. Ada tradisi tersendiri soal calon ketua di Partai Golkar.
Dalam Musyawarah Daerah (Musda) untuk memilih Ketua DPD I (tingkat provinsi), DPP berhak mengesahkan dan memberikan rekomendasi calon ketua. DPP suara kunci lewat mandat resmi dan memiliki hak veto.
Rekomendasi DPP hampir selalu menentukan siapa yang akhirnya terpilih, karena kandidat tanpa restu DPP biasanya sulit menang meski punya dukungan daerah. DPD II juga tak mau gegabah karena hasil musda berpotensi tidak disahkan.
Secara teori, DPD II-lah yang menentukan melalui voting, tetapi secara praktik, DPP sangat dominan karena rekomendasi dan restu mereka menentukan arah dukungan. DPP juga bisa mengatur “calon tunggal” agar proses Musda berjalan mulus.
Kandidat yang ingin maju sebagai Ketua Golkar Provinsi wajib mendapatkan restu DPP agar peluang menang terjamin. Manuver di tingkat daerah (mendekati DPD II) tetap penting, tapi tanpa dukungan DPP biasanya sia-sia. Onyah, uji kito.
MUDA vs SENIOR
Polemik soal usia muda melawan tua dalam Kepemimpinan Golkar Provinsi bukan sekadar soal usia, melainkan tentang visi, pengalaman, dan kesiapan membawa partai menghadapi tantangan zaman. Kedua kelompok memiliki kelebihan dan kekurangan.
Figur muda menawarkan semangat perubahan dan inovasi. Mereka biasanya lebih peka terhadap isu-isu milenial, digitalisasi, dan cara komunikasi politik yang relevan di era media sosial.
Kepemimpinan muda bisa menjadi simbol regenerasi partai, menjawab kekhawatiran akan stagnasi kaderisasi dan keterputusan dengan generasi pemilih muda.
Namun, usia muda juga sering kali dikaitkan dengan minimnya pengalaman, terutama dalam mengelola dinamika internal partai, lobi politik, dan manuver strategis di tingkat nasional.
Sementara itu, PLN harus tetap diwaspadai (walau sedikit tetap ada) dengan membawa modal pengalaman panjang, relasi politik luas, serta pemahaman mendalam tentang mekanisme internal partai dan pemerintahan. Kepemimpinan mereka menjanjikan stabilitas dan kesinambungan.
Calon muda yang moncer bak air mancur sudah ada, yakni Aprozi Alam. Namun, jangan dianggap remeh PLN yang kerap gerakannya tak perlu hiruk-pikuk lagi karena sudah katam "nehnik" kemenangan ada di DPP: Bahlil Lahadalia.
Apalagi, soal penampilan, sang senior masih seganteng Gde Sumarjaya Linggih dari Bali, gak malu-maluin Golkar Lampung. Kalo sudah ada yang telah teruji, kenapa nyari calon pemimpin kok masih mau coba-coba? Golkar selalu butuh pemimpin yang jago berselancar di berbagaii gelombang kekuasaan negeri ini. DUM!
* Koor Pemred Club
-